Saya jadi bertanya-tanya di dalam hati, apakah benar para mahasiswa telah melakukan gerakan moral yang damai untuk membela kepentingan rakyat? Sepanjang aksi unjuk rasa itu berlangsung, baik menjelang maupun pada saat berlangsungnya Sidang Istimewa, secara kasat mata terlihat bahwa aksi itu lebih mengarah kepada kekerasan dan pemaksaan kehendak.
Bersikap tidak menyetujui pelaksanaan Sidang Istimewa boleh-boleh saja, sejauh itu tidak melenceng dari koridor demokrasi. Sikap itu seharusnya disampaikan dengan santun, damai, argumentatif, dan menggugah.
Gerakan mahasiswa dengan tujuan menduduki Gedung DPR/MPR dan menggagalkan Sidang Istimewa sudah bukan lagi gerakan moral dan damai, apalagi diwarnai dengan tindakan yang memalukan seperti memaki serta mengejek petugas, melempar batu, membawa pentungan, membawa bom molotov, merusak pagar, merusak trotoar, membakar kendaraan petugas, memukuli petugas sebagaimana terlihat di layar televisi, dan sebagainya.
Di beberapa kota gerakan "moral" mahasiswa justru terkesan sangat anarkis seperti menduduki dan merusak bandara yang terjadi di Ujungpandang dan Medan. Apalagi dalam setiap "aksi damai" itu mahasiswa selalu memobilisasi massa, yang justru mengesankan sebagai kegiatan unjuk kekuatan–bukan unjuk rasa--dalam rangka mendesakkan atau memaksakkan kehendaknya. Tampaknya mahasiswa belum memahami betul substansi demokarsi.
Selain itu, "gerakan moral" mahasiswa juga terkesan selfish. Mereka hanya menaruh simpati kepada korban dari kalangan mereka sendiri dan sama sekali mengabaikan korban dari pihak lain (petugas, warga, dan anggota Pam Swakarsa). Korban dari pihak mahasiswa dinilai sebagai "pahlawan" reformasi sedangkan korban selain mahasiswa tidak dinilai sama sekali, bahkan mungkin cuma dianggap seonggok "bangkai". Padahal mereka sama-sama manusia, sama-sama korban dari kepentingan politik tertentu.
Mahasiswa tentunya tahu persis bahwa perhelatan Sidang Istimewa tempo hari hanyalah sebuah "arena bermain". Lalu, mengapa harus disikapi dengan "serius" sehingga jatuh korban jiwa. Seharusnya itu disikapi dengan "main-main" pula, tidak perlu frontal tapi harus lebih cerdik, argumentatif, artikulatif, dan menggugah.
Kemampuan mahasiswa membaca "peta situasi dan peta permasalahan" tampaknya perlu diasah lebih tajam. Kekeliruan membaca "peta" akan menyebabkan ketidak-arifan dalam merumuskan tindakan. Akhirnya, rakyat jualah yang menderita. Karyawan kecil sulit memperoleh angkutan umum, beras dan kebutuhan pokok lainnya sulit disalurkan ke pasar-pasar. Sebagian besar pedagang kecil (pedagang kaki lima) berhenti berjualan, padahal keuntungan mereka per hari hanya cukup untuk makan hari itu juga. Sebagian rakyat lainnya dirampok dan dijarah di salah satu ruas jalan tol.
Sebaiknya para mahasiswa bersikap dewasa dan berpikir dengan jernih, sehingga mampu merumuskan aksi dan gerakan yang efektif untuk merobohkan dinding kekuasaan yang angkuh, tanpa terlalu banyak meminta pengorbanan dari rakyat.
MUHAMMAD IQBAL S.S.
Dusun Ciater RT 034/015
Panjalu, Ciamis - Jawa Barat
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
