• Home
  • 22 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 22 Desember 1998

    Mencungkil Selilit di Tengah Pesta

    Menteri Keuangan Bambang Subianto bukan seorang tukang gertak. Tapi tak sedikit wajah yang terkejut terlongo-longo ketika Menteri Bambang mengumumkan salah satu indikator kesehatan perekonomian Indonesia Selasa pekan lalu. Bayangkan, di tengah gemuruh optimisme tentang kebangkitan ekonomi Indonesia, Menteri Bambang tiba-tiba nyelonong membawa berita tidak sedap.

    Katanya, tingkat debt service ratio (DSR) Indonesia untuk tahun anggaran saat ini (1998-1999) akan mencapai 49,3 persen. DSR menunjukkan jumlah beban bunga dan cicilan pokok utang luar negeri yang harus dibayar dengan devisa hasil ekspor. Angka Menteri Bambang menunjukkan, hampir separuh hasil ekspor kita dihabiskan untuk membayar utang. "Ini benar-benar seperti selilit, di tengah kabar baik tentang rupiah, inflasi, dan suku bunga," kata seorang anggota DPR.

    Persoalan menjadi makin rumit kalau mengingat sebagian besar hasil ekspor kita tak pulang ke dalam negeri, tapi diparkir ke bank-bank di luar negeri. Menurut seorang kepala riset perusahaan sekuritas asing, dari surplus perdagangan (selisih antara ekspor dan impor) sebesar US$ 17 miliar dalam sepuluh bulan terakhir, "Tak sesen pun yang bisa pulang." Akibatnya, kalau sinyalemen ini benar, dolar yang tersisa dari aktivitas perdagangan internasional untuk untuk mencicil utang pokok dan membayar bunga tidak tersedia.

    Membengkaknya angka DSR itu sangat mengejutkan. Pada saat pembahasan perubahan APBN 1998-1999 Juli lalu, perkiraan tingkat DSR "masih" 34,2 persen. Sepuluh hari kemudian, membengkak menjadi 47,9 persen, dan akhirnya kini hampir 50 persen! Menurut Sri Mulyani Indrawati, ekonom dari Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Manajemen Universitas Indonesia, lonjakan DSR ini terjadi lantaran derasnya depresiasi rupiah terhadap dolar dan sejumlah "temuan" baru atas utang swasta yang semula tak dilaporkan.

    Tapi apa artinya jika sebuah negara tenggelam dalam DSR yang begitu besar? Tiga tahun lalu, ketika DSR Indonesia diperkirakan sudah lebih dari 30 persen, begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo mengatakan Indonesia sudah "lampu merah". Nah, kini, dengan DSR sudah hampir 50 persen? "Itu artinya negara kita sudah insolvent, sudah tak bisa membayar kewajibannya, sudah bangkrut," kata Adrian Panggabean, ekonom UI yang kini bekerja untuk United Nations Development Program.

    Dengan DSR hampir 50 persen dan surplus perdagangan yang diparkir di luar negeri, Indonesia (swasta dan pemerintah) hanya bisa membayar utang dengan utang baru. Menteri Bambang tampaknya tak bisa mengelak dari situasi yang sulit ini. Katanya, dengan setengah pasrah, "Memang sudah begitu keadaannya, mau apa? Yang bisa kita lakukan adalah bekerja keras, hingga keadaan cepat membaik."

    Menurut Adrian, beban terberat yang harus ditanggung oleh tingkat DSR yang meledak adalah tekanannya terhadap nilai tukar rupiah. "Setiap kali ada berita DSR naik, selalu diiringi dengan isu devaluasi," katanya. Maklum saja, DSR yang tinggi mencerminkan besarnya kebutuhan dolar--yang tak semuanya bisa disediakan dari hasil ekspor.

    Berita ini akan memicu spekulasi orang untuk mengamankan asetnya dalam mata uang dolar. Dan jika kebutuhan ini tak terpenuhi, rupiah bisa benar-benar terpuruk habis. Apalagi dengan kebijakan tingkat suku bunga yang dipaksa untuk cepat-cepat turun, insentif orang untuk memegang rupiah menjadi hilang.

    Lalu bagaimana mengatasinya? Tampaknya Menteri Bambang benar. Tak ada jalan lain kecuali dengan menggenjot ekspor dan membawa devisa hasil ekspor untuk dipulangkan ke dalam negeri. Ini bisa dilakukan dengan dua jalan. Pertama, menciptakan pemerintahan yang bisa dipercaya dan stabilitas politik yang mantap sehingga orang tak takut menyimpan dolarnya di dalam negeri. Atau, kedua, memaksanya dengan peraturan yang mewajibkan eksportir memarkir devisa di dalam negeri.

    Cara kedua untuk mengurangi DSR adalah dengan mengurangi tekanan utang swasta. Ini bisa dilakukan dengan meminta penjadwalan atau pengampunan utang. Tapi sejauh ini upaya pemerintah dan swasta Indonesia untuk minta pelonggaran pembayaran utang kurang berhasil.

    Cara terakhir, kalau situasinya sudah kritis betul, menambah pinjaman luar negeri mungkin bisa menolong. Asal, tingkat suku bunganya bisa ditekan lebih rendah dari bunga utang sebelumnya. Tapi kiat ini hanya menunda masalah. Soalnya, di masa datang, tekanan dari utang baru ini akan muncul lagi. Akibatnya, masalah yang sama akan berulang.

    Apa boleh buat, ketimbang rupiah dibombardir lagi.

    Dwi Setyo, Bina Bektiati, dan Mardiyah Chamim


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Wiyasa

Inforial

Inforial

TEMPO|interaktif

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif