• Home
  • 22 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 22 Desember 1998

    Gerakan Mahasiswa Agar Terfokus

    Dalam perumpamaan Soe Hok Gie tentang gerakan mahasiswa, almarhum mengatakan, mahasiswa itu ibarat seorang jago tembak dalam film-film koboi. Mereka datang ke kota rusuh yang dipenuhi penjahat, menembak mati para maling, dan--setelah kota aman--dengan ringan pergi melenggang menuju matahari terbenam. Selanjutnya, pengelolaan kota diserahkan kepada penduduk.

    Tapi perumpamaan itu tampaknya tidak berlaku bagi gerakan mahasiswa Indonesia tahun 1998 ini. Soalnya, "kota" yang seharusnya aman ternyata tidak segera beres, meski rezim telah berganti. Bahkan, masalah yang muncul semakin menumpuk, mulai soal pemerintahan transisi, krisis ekonomi, pengadilan Soeharto, sampai tindak kekerasan aparat menyusul gerakan-gerakan mahasiswa yang juga mulai "agak keras". Akibatnya, seperti dikatakan pengamat politik Eep Saefulloh Fatah, orientasi gerakan mahasiswa sekarang ini seperti kehilangan prioritas. Dengan kata lain, sebuah gerakan akan semakin tajam daya dorongnya jika mempunyai prioritas atau terfokus.

    Hasil jajak pendapat TEMPO yang dilakukan dua pekan lalu tampaknya sesuai dengan pendapat di atas. Menurut mereka, gerakan mahasiswa sebaiknya memang dipusatkan pada isu tertentu dan tidak menggarap isu yang terlampau beragam. Logikanya sederhana: keberagaman isu akan menjadikan pusat perhatian terbelah. Akibatnya, tekanan jadi tidak kuat.

    Namun, berbeda dengan Eep, yang menyarankan perlunya perhatian diarahkan pada penyusunan Rancangan Undang-Undang Politik ketimbang menggasak isu pemeriksaan Soeharto, responden TEMPO memilih isu yang lebih riil bagi kehidupan mereka: perbaikan ekonomi rakyat. Tidak terlampau sulit menjelaskan mengapa justru isu itu yang dipilih. Krisis ekonomi dan politik pada akhirnya bermuara pada hancurnya perekonomian: penurunan nilai uang, melonjaknya angka pengangguran, dan dropnya kesejahteraan masyarakat.

    Isu-isu seperti rekonsiliasi, RUU Politik, dan pengusutan tindak kekerasan aparat dianggap tidak memiliki dampak langsung bagi perut mereka yang telah lama kempis.

    Harapan yang disandangkan ke pundak mahasiswa memang tidak main-main. Itu tidak lain karena, menurut responden, gerakan mahasiswa efektif dalam melakukan tekanan politik terhadap pemerintah. Meski tidak semua tuntutan mereka terwujud, setidaknya ada pergeseran dalam pengambilan keputusan ke arah yang diinginkan.

    Sebutlah misalnya aksi mahasiswa menentang Sidang Istimewa MPR bulan lalu. Meski harus menelan 16 korban, sidang berharga Rp 2 miliar itu toh berhasil menelurkan keputusan yang mengharuskan pemerintahan Habibie memeriksa Soeharto.

    Lalu, apakah mahasiswa harus terus menjadi pendobrak, menghindari interaksi dengan kekuatan politik lain, agar "kemurnian" gerakannya tidak ternoda? Atau perlukah anak-anak muda itu "bermain" supaya lebih efektif mengegolkan tuntutannya? Terhadap pertanyaan ini, pendapat responden terbelah. Sebagian menilai tugas mahasiswa hanya menggedor-gedor pintu kekuasaan. Mahasiswa tidak perlu ambil pusing bagaimana tuntutan mereka dilaksanakan. Sebagian lain menghendaki mahasiswa juga berpikir tentang teknis politik. Mereka mengharapkan mahasiswa berkoalisi dengan kekuatan politik lain agar kekuatan mereka semakin kukuh.

    Barangkali kedua-duanya betul. Tapi pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, memberikan peringatan. Kalaupun mahasiswa mau bergandeng tangan, sebaiknya hanya dengan unsur-unsur di dalam kampus, seperti pengajar dan alumni. Di luar itu, harap hati-hati. Jangan mengulangi kesalahan Angkatan '66: bergandengan tangan, tapi kemudian tertidur dalam rangkulan kekuasaan.

    Arif Zulkifli



    Tentang metodologi jajak pendapat ini:

    • Penelitian ini dilakukan oleh Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 505 responden di lima wilayah DKI pada 8-14 Desember 1998. Dengan jumlah responden tersebut, tingkat kesalahan penarikan sampel (sampling error) diperkirakan sebesar 5 persen.

    • Penarikan sampel dilakukan dengan metode random bertingkat (multistages sampling) dengan unit analisis kelurahan, rukun tetangga (RT), dan kepala keluarga (KK). Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi antara wawancara tatap muka dan wawancara melalui telepon.

      INFO GRAFIS
      Efektifkah gerakan mahasiswa selama ini?
      Ya, karena mereka telah berhasil melakukan tekanan politik68%
      Ya, karena mereka telah mendapatkan apa yang mereka tuntut15%
      Tidak efektif11%
      Ya, karena mereka telah berhasil mengerahkan massa5%
      Tidak tahu1%
       
      Apakah isu yang diangkat dalam gerakan mahasiswa harus difokuskan?
      Ya65%
      Tidak35%
       
      Isu apa yang seharusnya menjadi prioritas gerakan mahasiswa?
      Perbaikan ekonomi rakyat35%
      Pengusutan harta Soeharto26%
      Pemerintahan yang bebas KKN24%
      Pemilu tepat waktu7%
      Pengusutan tindak kekerasan aparat4%
      Rekonsiliasi nasional2%
      RUU Politik1%
      Pengusutan kekerasan antarwarga1%
       
      Di antara dua alternatif pola gerakan mahasiswa ini, mana yang lebih baik?
      Mahasiswa melakukan tuntutan politik dengan mempertimbangkan bagaimana tuntutan itu dipenuhi59%
      Mahasiswa hanya melakukan tuntutan politik41%
       
      Bolehkah mahasiswa "berkoalisi" dengan kelompok lain?
      Boleh60%
      Tidak boleh32%
      Tidak tahu8%
       


      "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

      Download versi digitalnya :
      1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
      2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
      3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

      Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Wiyasa

Inforial

Inforial

TEMPO|interaktif

Nasional

Isak Tangis Sambut Kedatangan Jenazah Anggi

Nasional

Trik Anggota DPR Belanja di Belanda

Tak Diperkuat Villa, Pukulan Telak bagi Spanyol

Nasional

PPI Belanda Kritik Studi Banding DPR

Olahraga

Dzeko Tetap di Manchester City  

Alonso: Spanyol Akan Kerja Keras Pertahankan Gelar  

Nasional

Menteri Andi Diperiksa KPK Setengah Sepuluh Pagi  

Olahraga

Newcastle United Gaet Pemain Belia Prancis  

Bisnis

Kopi Indonesia Ungguli Kopi Brasil

Internasional

Penghasilan Turun, HP Pecat 27 Ribu Karyawan

Bisnis

Asosiasi Kopi Akhirnya Patuhi Aturan Ekspor

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif