• Home
  • 29 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Perilaku
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Desember 1998

    Natal di Atas Puing-Puing

    NATAL tiba. Puing-puing reruntuhan bangunan masih teronggok di Gereja Kristus Tuhan di kawasan Ketapang, Jakarta Pusat. Seorang nenek berusia 67 tahun mengangkat ember besar berisi air. Air ia siramkan, sambil kakinya menyepak ke sana ke mari untuk meratakan puing-puing yang berantakan di atas lantai. Selain wanita tua yang rambutnya memutih itu, beberapa laki-laki sibuk pula merenovasi beberapa bagian bangunan gereja yang rusak itu. Mereka harus bergegas. Beberapa jam lagi, misa Natal segera akan dimulai pada Jum’at, 24 Desember itu.

    Itulah suasana persiapan perayaan Natal di salah satu gereja yang menjadi korban kerusuhan Ketapang, November lalu. "Natal kali ini sangat dramatis buat mereka," kata Ketua Persatuan Gereja-Gereja Indonesia, Pendeta Sularso Sopater, kepada TEMPO.

    Peristiwa Ketapang adalah amuk yang menyentakkan banyak pihak dan menorehkan luka baru di atas kekerabatan sesama anggota masyarakat di negeri ini. Amuk yang berawal dari perkelahian antarkelompok yang kemudian, entah apa sebabnya, berbuntut perusakan sejumlah gereja. Lalu, sepekan kemudian, di Kupang, Nusatenggara Timur, terkesan terjadi aksi balas dendam. Beberapa masjid dibakar massa. Kecemasan umum pun muncul; jangan-jangan konflik ini bakal menjalar. Syukurlah, kecemasan itu reda bersama redanya ketegangan antarpemeluk agama yang dicoba untuk "dipancing-pancing".

    Badan Musyawarah Antaragama, yang terdiri dari para tokoh Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan yang lain, menilai bahwa di belakang kerusuhan itu ada sebuah rekayasa politik dari kelompok tertentu. Bahkan, K.H. Abdurrahman Wahid, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, kepada wartawan mengungkapkan, "Peristiwa yang terjadi di Ketapang, Kupang, dan Banyuwangi semua dilakukan pengikut Pak Harto," katanya, seusai bertemu mantan presiden itu dua pekan lalu.

    Bila begitu, peristiwa Ketapang dan Kupang untuk sementara bisa disimpulkan bukan konflik antarumat beragama. Maka, seruan dari Badan Musyawarah Antaragama tepat adanya, agar umat beragama bahu-membahu membangun kembali tempat-tempat ibadah yang rusak. Substansi seruan itu jelas: ide-ide perseteruan antarkelompok agama semestinya dibuang ke keranjang sampah.

    Untuk menghayati Natal dan kerukunan antarumat beragama, cerita yang ditulis seorang imam Katolik, Anthoni de Mello S.J., dalam buku Burung Berkicau laik direnungkan.

    "Jesus Kristus berkata bahwa Ia belum pernah menyaksikan pertandingan sepak bola. Maka, kami mengajak-Nya menonton. Sebuah pertandingan sengit berlangsung antara kesebelasan Protestan dan kesebelasan Katolik. Kesebelasan Katolik memasukkan bola terlebih dahulu. Jesus bersorak gembira dan melemparkan topinya tinggi-tinggi. Lalu ganti kesebelasan Protestan yang mencetak gol. Dan Jesus bersorak gembira serta melemparkan topinya tinggi-tinggi lagi.

    Hal ini rupanya membingungkan orang yang duduk di belakang kami. Orang itu menepuk pundak Jesus dan bertanya: "Saudara berteriak untuk pihak yang mana?". "Saya?," jawab Jesus yang rupanya sedang terpesona oleh permainan itu. "Oh, saya tidak bersorak bagi salah satu pihak. Saya hanya senang menikmati permainan ini." Penanya itu berpaling kepada temannya dan mencemooh Jesus: "Ateis!".

    Sewaktu pulang, kami memberitahu Jesus tentang situasi agama di dunia dewasa ini. "Orang-orang beragama itu aneh, Tuhan," kata kami. "Mereka selalu mengira bahwa Allah ada di pihak mereka dan melawan orang-orang yang di pihak lain." Jesus mengangguk setuju. "Itulah sebabnya Aku tidak mendukung agama; Aku mendukung orang-orangnya," katanya. "Orang lebih penting dari agama. Manusia lebih penting dari Hari Sabat."

    "Tuhan, berhati-hatilah dengan kata-kata-Mu," kata salah seorang di antara kami dengan was-was. "Engkau pernah disalibkan karena telah mengucapkan kata-kata serupa itu." "Ya dan justru hal itu dilakukan oleh orang-orang beragama," kata Jesus sambil tersenyum kecewa.

    Kelik M. Nugroho, Wenseslauss Manggut


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Natal di Atas Puing-Puing

Buku

Estetika Islam dalam Sastra Melayu

Catatan Pinggir

Passarola

Inforial

Inforial

TEMPO|interaktif

Nasional

5 Bulan Dana Sertifikasi Guru Belum Cair

Nasional

Isak Tangis Sambut Kedatangan Jenazah Anggi

Nasional

Trik Anggota DPR Belanja di Belanda

Tak Diperkuat Villa, Pukulan Telak bagi Spanyol  

Nasional

PPI Belanda Kritik Studi Banding DPR  

Olahraga

Dzeko Tetap di Manchester City  

Alonso: Spanyol Akan Kerja Keras Pertahankan Gelar  

Nasional

Menteri Andi Diperiksa KPK Setengah Sepuluh Pagi  

Olahraga

Newcastle United Gaet Pemain Belia Prancis  

Bisnis

Kopi Indonesia Ungguli Kopi Brasil

Internasional

Penghasilan Turun, HP Pecat 27 Ribu Karyawan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif