• Home
  • 29 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Perilaku
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 29 Desember 1998

    Kado Akhir Tahun untuk Clinton

    Natal tahun ini adalah sebuah hari penuh kontemplasi bagi Presiden AS Bill Clinton, meski ia tetap meneruskan tradisinya, bersama istrinya, Hillary, membacakan dongeng untuk anak-anak. Ia tetap tersenyum, sembari berpegangan tangan, di muka publik, tepat pada tanggal 19 Desember silam saat Majelis Rendah (House of Representative) membuat keputusan bersejarah. Mereka mengesahkan dua pasal (dari empat pasal) tuduhan pelanggaran untuk dasar impeachment, proses legal legislatif untuk memecat eksekutif, termasuk presiden. Dua pasal yang disetujui itu adalah pasal 1 dan pasal 3. Pasal 1 menuduh Clinton dengan penuh kesadaran memberikan kesaksian palsu dan menyesatkan di bawah sumpah di depan grand jury pada 17 Agustus 1998 silam mengenai hubungan seksualnya dengan Monica Lewinsky, pegawai magang di Gedung Putih. Saat itu, Clinton menyatakan bahwa ia tidak melakukan hubungan seksual dengan Lewinsky. Ketika akhirnya Lewinsky membuka mulut, Clinton berkilah bahwa yang dia maksudkan dengan hubungan seksual adalah sexual intercourse, bukan seks oral seperti yang terjadi di antara dirinya dan Lewinsky. Pasal 3 menuduh Clinton menghalangi jalannya proses peradilan, baik secara pribadi maupun melalui bawahannya, dalam kasus gugatan pelecehan seksual terhadap Paula Jones.

    Dua pasal yang ditolak adalah pasal 2, tentang kesaksian palsu di bawah sumpah pada kesempatan lain untuk kasus yang sama, dan pasal 4, tentang penyalahgunaan kekuasaan untuk kesaksian palsu. Itulah sebabnya Natal ini Clinton akan lebih banyak berkontemplasi, karena nasib Clinton selanjutnya bergantung pada Senat. Namun, Senat tak akan bersidang sampai 6 Januari 1999 mendatang karena sedang reses. Yang pasti, Clinton menyatakan tidak akan mundur. Hal ini bisa dimaklumi mengingat ia baru saja memperoleh "kemenangan yang gemilang" dengan aksi pengebomannya di Irak (lihat boks). Selain itu, memang hingga kini jajak pendapat memperlihatkan Clinton masih didukung rakyat.

    Keteguhan Clinton menjalani prosesi ini mengingatkan publik Amerika pada kasus yang dialami Andrew Johnson, 130 tahun lalu. Johnson, yang diangkat menjadi presiden setelah terbunuhnya Abraham Lincoln, dijatuhi keputusan serupa oleh Majelis Rendah. Alasannya, ia dianggap menghalang-halangi pembangunan kawasan selatan seusai perang saudara. Namun, kemujuran masih di tangannya. Ia terselamatkan karena suara yang mendukung pemecatan hanya kurang satu. Maklum, untuk mengesahkan keputusan di tingkat Senat, yang dibutuhkan adalah dukungan dua pertiga anggota plus satu suara.

    Dilihat dari komposisi 100 anggota yang terdiri atas 55 kursi untuk Republik dan 45 kursi untuk Demokrat, peluang untuk lolos sebetulnya cukup besar. Untuk bisa menggulingkan Clinton, Senat membutuhkan 67 suara. Selama tak ada anggota Senat dari Demokrat yang lompat pagar, kepresidenan Clinton akan aman. Namun, mengingat hubungan Clinton yang tidak terlalu mulus dengan beberapa senator dari kubu Demokrat--seperti Senator Nebraska Bob Kerrey--Clinton layak untuk khawatir. Adapun yang akan memimpin peradilan Clinton di Senat nanti adalah Ketua Mahkamah Agung. Sedangkan sebagai penuntut, Majelis Rendah telah menunjuk 13 orang, yang disebut manajer, yang, apa boleh buat, semuanya berasal dari Republik.

    Bagaimana dengan warga AS? Sebetulnya, mereka sudah sampai pada titik jenuh dengan kasus ini. Sejumlah media massa terkemuka secara tegas mengkritik keputusan Majelis Rendah tersebut karena, selain mempermalukan negara, mereka bisa mengancam kredibilitas Amerika. Simpati kepada Clinton itu, antara lain, timbul karena kinerja Clinton dalam menangani pemerintah dianggap memuaskan. Dari jajak pendapat yang diadakan ABC News/Washington Post pada 1.285 responden dewasa, 37 persen menyatakan agar kasus Lewinsky itu didrop saja. Sedangkan 37 persen lainnya menginginkan sebaiknya Kongres (Majelis Rendah dan Senat) berkompromi agar kasus ini tidak berlarut-larut.

    Kebanyakan dari rakyat Amerika menyatakan lebih senang bila keputusan yang dijatuhkan pada Clinton hanya berupa teguran resmi (censure). Ironisnya, tokoh yang berdiri di barisan terdepan dalam menganjurkan hal ini adalah Bob Dole, pesaing Clinton dalam pemilihan presiden pada 1996, yang berasal dari Republik. Skenario Dole, yang akan menduduki kursi Senat Januari depan, adalah Clinton diwajibkan menandatangani resolusi kecaman atas dirinya di depan kamera televisi yang berisi pengakuan bahwa ia telah melakukan kesaksian palsu di bawah sumpah.

    Saat ini, publik tampaknya harus sedikit sabar menunggu skenario mana yang akan jadi dimainkan. Namun, cerita pendamping dari kisah utama kasus ini ternyata tak kalah menarik. Yang pertama adalah mundurnya Bob Livingston, Ketua Majelis Rendah yang menggantikan Newt Gingrich. Livingston mundur setelah memberikan pengakuan bahwa selama 33 tahun perkawinannya ia juga melakukan perselingkuhan.

    Kabar yang sedikit "menggembirakan" adalah terpilihnya Clinton sebagai tokoh pilihan majalah Time tahun ini. Namun, gelar Men of the Year ini harus dibagi dengan penuntutnya, Ken Starr. Alasan pemilihan mereka adalah pengaruh yang besar terhadap pemberitaan tahun ini. Tidak jelas apakah gelar majalah Time itu menjadi sebuah hadiah akhir tahun bagi Clinton.

    Yusi A. Pareanom
    Sumber: Associated Press & Reuters


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Natal di Atas Puing-Puing

Buku

Estetika Islam dalam Sastra Melayu

Catatan Pinggir

Passarola

Inforial

Inforial

TEMPO|interaktif

Olahraga

Milan Belum Tentu Permanenkan Aquilani

Nasional

Grasi bagi Corby, Ini Jawaban Istana

Nasional

Grasi Corby, SBY Bantah Ada Kesepakatan Australia

Nasional

Politisi Golkar Nyatakan Grasi Corby Bisa Dicabut

Nasional

UGM Tuan Rumah Kongres Pancasila IV

Paksa Si Kecil Makan Bikin Stres Anak

Nasional

Hanya Ketemu Staf, Anggota DPR Ngambek di Belanda  

Nasional

5 Bulan Dana Sertifikasi Guru Belum Cair  

Nasional

Isak Tangis Sambut Kedatangan Jenazah Anggi

Nasional

Trik Anggota DPR Belanja di Belanda  

Tak Diperkuat Villa, Pukulan Telak bagi Spanyol  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif