• Home
  • 05 Januari 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 05 Januari 1999

    Kritik untuk Cak Nur

    Akhir-akhir ini dialektika tentang pentingnya demokrasi semakin mengemuka. Pernyataan para pakar dan politikus di berbagai media semakin meninggi, sehingga kadang-kadang terasa kebablasan dan membingungkan. Dalam sebuah wawancara atau pertemuan ilmiah, misalnya, seorang pakar menganjurkan agar B.J. Habibie tidak lagi mencalonkan dirinya untuk jabatan presiden pada periode berikutnya. Beberapa alasan yang dikemukakan: tugas Habibie hanyalah mempersiapkan pemilu atau ada kecurigaan bahwa Habibie masih ingin jadi presiden.

    Menurut Cak Nur (Nurcholis Madjid), misalnya, "Dia (Habibie) harus menyatakan bahwa dia tidak mau dipilih lagi menjadi presiden. Tugasnya hanyalah mempersiapkan pemilu bulan Mei 1999." Adapun alasan Cak Nur, "supaya penegasan Habibie tersebut bisa sedikit meredakan suasana. Sebab kecurigaan bahwa Habibie masih ingin menjadi presiden itulah yang kini menjadi pendapat umum." (Kompas, 21 November, 1998).

    Pandangan Cak Nur sebagai intelektual, budayawan, plus "pejuang demokrasi" tersebut, menurut pengamatan saya, terasa agak janggal--secara implisit tidak selaras dengan nilai-nilai atau kaidah yang melekat pada ketiga atribut tersebut.

    Sebagai intelektual, Cak Nur tidak mengemukakan alasan yang bernafaskan keilmuan tapi berdasarkan pada praduga--yang bersandarkan pada anggapan beliau terhadap "pendapat umum" (ini pun kalau benar). Pendapat umum yang mana, tidak jelas. Jumlahnya berapa, juga tidak jelas.

    Seharusnya--agar bisa dipertanggungjawabkan--argumen yang dikemukakan mengacu pada konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sampai saat ini, saya tidak melihat satu pun ketentuan konstitusi dan peraturan perundangundangan positif yang meniadakan hak B.J. Habibie sebagai warga negara untuk memilih dan dipilih sebagai presiden.

    Setelah Proklamasi kemerdekaan, kita mempunyai negara dan bangsa yang berdaulat, beralaskan hukum dan konstitusi. Artinya, segala sesuatu yang menyangkut penyelenggara negara dan penyelenggaraan negara harus berdasarkan hukum dan konstitusi, "tidak berdasarkan pada kecanggihan opini orang per orang."

    Sebagai budayawan dan pejuang demokrasi, saya merasakan pandangan tersebut melewati batas hak dan kewenangan Cak Nur sebagai warga negara.

    Adalah wajar di alam demokrasi kita menemukan pro dan kontra. Namun sebagai masyarakat yang berbudaya, pengelolaan konflik, perselisihan pendapat, perbedaan kepentingan, khususnya pemilihan pemimpin pada tingkat kenegaraan, sudah membudaya penyelesaiannya melalui norma-norma dan peraturan yang terlembaga resmi, yang kita sebut pemilihan umum. Cara pandang inilah yang seharusnya dipublikasikan dalam rangka pendidikan politik yang baik bagi masyarakat luas. Peradaban politik ini harus kita pelihara, dan menjadi acuan bersama agar bangsa ini tidak terjerumus ke dalam perilaku saling jegal, saling hasut, atau perilaku keras yang menjurus pada situasi chaos dan anarki. Setelah itu kita lalui, apa pun hasilnya kita harus menerima dengan lapang dada. Inilah proses demokrasi yang terdidik.

    ASADI RASYID, S.H.
    Depok


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

1999

1999

Fotografi

1998 dari Balik Lensa

1998 dari Balik Lensa

Buku

Berapa Ilham, Berapa Politik Ekonomi

Berapa Ilham, Berapa Politik Ekonomi

Inforial

IBM ThinkPad i Series, ThinkPad Paling Terjangkau Saat ini

Koleksi Jam Terbaru Swatch Irony Scuba 200

Gucci Envy untuk Pria

TEMPO|interaktif

Nasional

Ribuan Pelayat Sambut Jenazah Femi

Nasional

Tebar Senyum Menteri Andi Mallarangeng di KPK

Olahraga

Milan Belum Tentu Permanenkan Aquilani  

Nasional

Grasi bagi Corby, Ini Jawaban Istana

Nasional

Grasi Corby, SBY Bantah Ada Kesepakatan Australia  

Nasional

Politikus Golkar Nyatakan Grasi Corby Bisa Dicabut

Nasional

UGM Tuan Rumah Kongres Pancasila IV  

Paksa Si Kecil Makan Bikin Stres Anak

Nasional

Hanya Ketemu Staf, Anggota DPR Ngambek di Belanda  

Nasional

5 Bulan Dana Sertifikasi Guru Belum Cair  

Nasional

Isak Tangis Sambut Kedatangan Jenazah Anggi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif