Pendidikan

Selusin Dosen buat Tiga Mahasiswa

Universitas Padjadjaran membuka pendidikan spesialis kedokteran nuklir. Dan jangan heran kalau sekarang mahasiswanya cuma tiga orang.
PERKULIAHAN yang satu ini rada unik. Sementara perkuliahan awal acap disebut kelas besar alias satu dosen untuk puluhan mahasiswa, kelas di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, justru terbalik, yakni selusin dosen mengajar tiga mahasiswa.

Kuliah yang baru dimulai itu juga diprogram untuk jurusan baru, yaitu spesialis kedokteran nuklir. Inilah jurusan khusus untuk dokter umum yang berbeda dengan keahlian radiologi. Pada pendidikan kedokteran nuklir, kemampuan dokter dipadukan dengan keahlian memanfaatkan tenaga nuklir demi pengembangan kesehatan.

Program pendidikan spesialis itu dibuat berdasarkan pertimbangan bahwa selama ini jumlah dokter spesialis nuklir masih sedikit. Sampai sekarang tercatat ada 19 orang dokter spesialis nuklir. Itu pun lulusan luar negeri. Sedangkan klinik kedokteran nuklir di Indonesia, yang melayani penduduk sekitar 200 juta orang, baru memiliki 17 rumah sakit. Bandingkan dengan Australia. Dengan penduduk 16,2 juta orang, negeri itu punya 66 rumah sakit berklinik nuklir.

Padahal, jumlah pasien yang memerlukan pengobatan nuklir semakin bertambah. Di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, misalnya, penyandang kanker tiroid atau kelenjar gondok (hipertiroid) kini mencapai 370 orang?meningkat sekitar 10 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Tak salah lagi, tenaga dokter nuklir memang diperlukan. Tapi, sampai 10 tahun diperjuangkan, baru Oktober lalu pemerintah mengizinkan terselenggaranya program pendidikan dokter spesialis nuklir di Unpad. Setelah itu, diharapkan pada tahun 2001 sudah terdapat 120 orang dokter spesialis nuklir.

Mungkin karena ini program baru, pihak universitas sangat selektif menyaring calon mahasiswanya. Kebetulan, baru tiga mahasiswa tadi yang lulus seleksi. Dua dari mereka adalah dokter lulusan Unpad, sementara yang seorang lagi dokter dari Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta.

Dari ke-13 dosennya, sebanyak tiga dosen diarahkan untuk pendidikan klinik nuklir, tiga dosen lagi untuk pendidikan dasar, yang bekerja sama dengan Badan Tenaga Atom Nasional, sedangkan enam dosen yang lain akan memberikan pelajaran spesialisasi. Menurut Prof. Dr. Johan Sjafri Masjhur, Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Nuklir Unpad, mahasiswa baru tersebut pada perkuliahan awal diberi pelajaran berupa upaya preventif untuk menghindari bahaya radiasi tenaga nuklir.

Setelah itu, barulah dipaparkan kehebatan penggunaan nuklir untuk dunia kedokteran. ''Dengan memanfaatkan sinar radioaktif, berbagai penyakit bisa dideteksi sekaligus dilumpuhkan," kata Johan.

Misalnya alzheimer, penyakit kemunduran fungsi otak yang bisa membuat penyandangnya lupa ingatan, seperti yang dialami mantan presiden AS, Ronald Reagan. Demikian pula penyakit berat lain yang, karena kondisi fisik pasien, tak memungkinkan untuk dioperasi, sehingga memerlukan pengobatan alternatif melalui teknologi nuklir.

Dengan teknologi nuklir, sang dokter spesialis nuklir bisa meneliti organ tubuh yang sakit secara cermat, bahkan bisa mendeteksi fungsi organ tubuh manusia sampai tingkat seluler dan molekuler. Dengan begitu, ''Dapat didesain obat-obatan berdasarkan kelainan yang terjadi pada tingkat molekul," tutur Johan.

Untuk itu, para calon dokter spesialis nuklir juga akan dilatih menggunakan berbagai peralatan penunjang kerja, antara lain kamera single photo emission tomography, perangkat untuk mendeteksi jaringan organ tubuh. Juga kamera positron emission tomography, yang mampu memvisualkan proses kognitif dan emosi manusia. ''Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya bahwa proses berpikir dapat dibuatkan citranya," kata Johan.

Karena programnya tergolong spesialis, calon dokter spesialis nuklir mesti menyelesaikan sekitar 60 satuan kredit semester selama tiga setengah tahun. Agak lama memang. Tapi jangan khawatir. Sebab, program baru itu masih disubsidi pemerintah. Walhasil, biaya kuliahnya murah, hanya Rp 1 juta satu semester per mahasiswa.

Ma'ruf Samudra dan Upik Supriyatun (Bandung)
TempoInteraktif

Nasional
Pemerintah Kaji Penurunan Bahan Bakar Minyak 15 Januari
-----------------
Sepakbola
Pemain Terbaik Dunia Diumumkan Senin
-----------------
Kriminal
Siswa Playgroup Dianiaya Guru
-----------------
Ekbis
Stimulus Fiskal Baru Terasa Beberapa Bulan Mendatang
-----------------
Nusa
Aceh Targetkan Ekspor Beras 2009
-----------------
Asia
Prajurit Amerika Tewas di Afganistan
-----------------
Nusa
Pengusutan Korupsi Pasar Turi Masih Gelap
-----------------
Ekbis
Pemerintah Tegaskan Lagi Penurunan Harga BBM
-----------------
Pemilu2009_berita_mutakhir
Golongan Putih Bisa Capai 27,5 Persen
-----------------
Nusa
Pasokan Elpiji di Jawa Tengah Masih Tersendat
-----------------