Adakah Harta Karun Itu?
Kata kunci untuk membuka harta itu adalah sebuah rekening atas nama Presiden Indonesia dan (tentu saja) Ny. Lilik di Bank Indonesia. Sayang, kunci ini mandek karena Presiden Habibie tak bersedia bertemu. Karena putus asa, Lilik membukanya kepada pers, dan soal harta karun itu pun segera jadi pembicaraan.
Sebagian orang menganggap cerita itu hanya bualan, terutama setelah kasus dana revolusi yang konon besarnya US$ 450 juta dan cerita pengusaha properti bernama Hariono Soeharyo, yang mengaku bisa mencairkan dana peninggalan dinasti kerajaan sebesar Rp 3 triliun, tak pernah jadi kenyataan. Namun Lilik punya beberapa modal untuk mendukung ceritanya. Ia misalnya didampingi oleh Syahrir Ilyas, seorang pensiunan BI. Lilik juga punya surat tugas dari Presiden Soeharto yang didapat sebulan sebelum ia lengser. Berkas-berkas perbankan termasuk nomor rekeningnya, menurutnya, ada di tangannya. Berkas itu begitu dirahasiakan, bahkan ia sampai menolak tawaran CNN yang bersedia membayar Rp 1 miliar bila ia bersedia memberitahukannya kepada mereka.
Apa boleh buat, segala modal itu belum berhasil membuat orang—juga Habibie yang biasanya selalu bersedia bertemu siapa saja—percaya. Karena itulah, seusai Lebaran Lilik bertekad membuat konferensi pers lagi. Kalau perlu, ia akan menghadirkan penghubungnya di Amerika dan mantan pejabat Bank Dunia yang membantunya. Kalau belum berhasil juga? Mungkin harta karun itu memang hanya ada di dasar laut.
