• Home
  • 01 Februari 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Buku
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 01 Februari 1999

    Pnina

    Namanya Pnina. Lengkapnya Pnina Rosenbaum. Perempuan Israel bertubuh tinggi, pirang, moncer, dan mandiri. Ia dibesarkan di kawasan miskin di Tel Aviv. Pada umur 17 tahun ia menang lomba kecantikan dan jadi peragawati tenar. Umur 25, ia mendirikan pabrik kosmetik. Kini, pada umur 44, ia mendirikan sebuah partai politik. "Saya namakan partai ini Partai Pnina Rosenbaum," kata perempuan itu. "Sebab setiap anak dan setiap orang dewasa di negeri ini kenal kosmetik Pnina Rosenbaum dan pantyhose Pnina Rosenbaum dan Pnina Rosenbaum sendiri. Selama 25 tahun, saya sudah jadi cewek paling masyhur di Israel". Hanya karena itu? Tetapi "hanya" adalah kata yang menunjukkan sesuatu yang nisbi. Dalam kehidupan politik Israel kini, pelbagai partai baru dengan pelbagai alasan berdiri, ramai, riuh, hararesek. Ada dua partai untuk imigran dari Rusia, ada satu lagi untuk imigran dari Maroko (dan ini yang ketiga). Ada partai baru untuk penduduk Arab, ada lagi partai untuk mereka yang menuntut sebuah stasiun siaran televisi dalam bahasa Romania. Di samping itu, ada partai pro-kasino, ada partai pro-marijuana, ada partai pro-meditasi (bernama Partai Hukum Alam), ada partai nyambel wijen, menampung aspirasi orang yang lanjut usia. Tentu saja ada dua partai yang berapi-api membela lingkungan. Dan kini, ada "PPR", Partai Pnina Rosenbaum. Itu semua bukan sebuah perasaan kaget di Israel. Juga bukan karena euforia dan kemaruk. Sistem banyak partai sudah ada di sana berpuluh tahun. Buat Israel, hiruk-pikuk itu agaknya lebih merupakan indikasi dari sesuatu yang lebih serius: sebuah eksplosi keanekaan. Daya tarik dan daya tampung partai nasional—seperti Partai Buruh dan Partai Likud—yang ingin mencakup semua aspirasi, kini sedang dalam erosi. Jumlah kursi mereka diramalkan turun. Ini adalah sebuah tanda tanya keras yang belum terumuskan dengan baik, tanda tanya terhadap konsep lama tentang "publik"—juga tentang "kepentingan nasional", semangat yang hampir meletakkan "kesatuan bangsa" sebagai sesuatu yang kudus. Dan semua ini terjadi di Israel, yang bertahun-tahun—sebagai sebuah bangsa, sebagai sebuah negara—hidup dengan siap-mobilisasi. Nasionalisme (dibawakan oleh Zionisme) sedang dalam simpang jalan yang ruwet. Dunia bukan seperti 50 tahun yang lalu. Dan nampaknya siapa pun tak bisa begitu saja mengelak, kecuali dengan menutup ratusan pintu dan jutaan mulut. Konsensus makin sulit. Jarak antara partai yang didirikan oleh Ezra Tisona (seorang penjudi yang ingin agar Israel meniru sukses Pemerintahan Palestina yang membuka kasino di Jericho) dan partai keagamaan (yang atas nama "iman" bertepuk tangan ketika Perdana Menteri Rabin ditembak mati) adalah jarak yang jauh, tajam, berliku. Maka, "pluralisme", kata yang kini nyaring itu, pada akhirnya harus bersua dengan perkara kemerdekaan dan kebenaran. Kemerdekaan, dan itu berarti kebebasan individu, bukan saja sering dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan—seakan-akan "individu" adalah sebuah kekuatan yang destruktif—tetapi juga rapuh. Ia tidak dengan sendirinya akan terjamin oleh sebuah sistem politik yang demokratik, yang juga bertolak dari asas kebebasan individu. Isaiah Berlin pernah mengatakan bahwa "hubungan antara kebebasan individu dan tata demokratis tidak niscaya ada", dan ia benar. Sebuah tata yang didukung dengan bebas oleh rakyat banyak belum tentu sebuah tata yang memberikan peluang bebas bagi orang per orang yang hendak menyatakan dirinya secara penuh. Sokrates menentang demokrasi. Ia tidak percaya bahwa setiap orang—dengan mutu pribadi yang berbeda—harus punya suara yang sama untuk menentukan kepentingan publik. Sokrates dihukum mati. Pluralisme pada akhirnya harus menjawab: seberapa plural masyarakat bisa plural? Apa gerangan yang disebut "publik", sehingga bisa terdiri dari anasir yang beragam—termasuk unsur yang menentang keragaman itu? Sebuah persoalan klasik: ketika "publik" dirumuskan sebagai sebuah wadah di mana beraneka ragam orang-orang menentang film porno, dan pornografi dianggap sebagai sesuatu yang destruktif bagi "publik", masih jadi soal sebenarnya cukupkah alasan untuk menyingkirkan siapa saja yang gemar blue film dan cerita jorok stensilan. Dan itu berarti juga pertanyaan tentang keragaman dan kebenaran. Kebenaran sering kali jadi alasan besar untuk bersepakat dan membentuk ruang publik yang kompak. Tetapi kebenaran—kita tahu—bisa merupakan hasil tafsir dan konstruksi siapa yang paling berkuasa, melalui mikrofon atau yang lain. Di zaman ketika media massa menjadi penting, dan "imagologi" lebih mungkin menghasilkan konsensus ketimbang ideologi, konsensus pun bisa merupakan hasil "kebenaran" yang sebenarnya kebetulan. Bahkan mengandung represi. Itu mungkin sebabnya kian lama Israel (dan mana saja) kian riuh. Konsensus ternyata bisa hanya sebuah hasil kosmetik! Seperti Pnina. Tidak aneh lagi. Goenawan Mohamad

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Antara Hukum dan Kehidupan

Catatan Pinggir

Pnina

Ralat

RALAT :

TEMPO|interaktif

Bisnis

Pelambatan Manufaktur Cina Bebani Bursa Asia

Nasional

Indofarma Bukan Distributor Alat Kesehatan

Welbeck Masih Cedera, Inggris Krisis Penyerang

Bisnis

Jakarta Boros Bensin  

Bisnis

Pungutan Retribusi Daerah Bisa Dibatalkan  

Internasional

Ulama Libanon yang Diculik Segera Dibebaskan  

Bisnis

Bukopin Turunkan Rasio Dividen  

Bisnis

Industri Manufaktur Cina Memburuk  

Olahraga

Bos Chelsea: Torres Pemain Penting  

Olahraga

Chelsea Siap Lepas Kalou dan Bosingwa  

Bisnis

Pasokan Berkurang, Harga Elpiji di Jawa Timur Naik  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif