Dicari, 'Komandan' Olahraga
Kedua calon yang banyak disebut-sebut adalah Wismoyo Arismunandar dan Mayjen Djoko Pramono, mantan komandan marinir yang kini duduk sebagai Irjen Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya. Kedua perwira pensiunan ini memang penggemar olahraga. Selama beberapa periode Wismoyo menjadi pengurus di Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI), sedangkan Djoko aktif di Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI)
Memimpin KONI tentu berbeda dengan membimbing sebuah induk organisasi olahraga. Yang diperlukan adalah kemampuan manajerial, dan hal itu tak tergantung apakah calon tersebut dari ABRI atau sipil. Pada awal kepemimpinannya di KONI, Wismoyo pun banyak dikritik, antara lain karena prestasi olahraga Indonesia merosot tajam. Agaknya, banyak yang belum lupa bagaimana setelah gembar-gembor menyuarakan "kita harus menang", olahragawan Indonesia malah keok di SEA Games Chiang Mai 1995. Tim yang dibalut kostum merah putih itu kalah jauh dari kontingen tuan rumah yang menyabet juara umum. Syukurlah, kekalahan ini kemudian sempat diperbaiki melalui SEA Games berikutnya yang diadakan di Jakarta.
Lalu, pada arena Asian Games Bangkok 1998, olahragawan Indonesia mendapat enam emas, 10 perak, dan 11 perunggu. Hasil ini lebih baik ketimbang prestasi pada Asian Games Hiroshima 1994?waktu itu KONI dipimpin oleh Surono?yang hanya memberikan tiga emas, 11 perak, dan 12 perunggu. Namun, dibandingkan dengan prestasi atlet Thailand yang menyabet 20 emas, jelas sekali kita tertinggal jauh.
Bicara tentang penghimpunan dana?yang erat kaitannya dengan latihan dan prestasi atlet?Wismoyo memang andal. Menjelang Asian Games di Bangkok, misalnya, KONI cuma mendapat dana dari pemerintah Rp 5 miliar. Dana ini tidak kecil, tapi tak cukup untuk menerbangkan 129 atlet yang akan berlaga di 20 cabang. Berkat kelihaiannya melobi, Wismoyo berhasil melipatgandakan dana itu dengan mengorek kantong Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) dan Badan Pengelola Gelora Senayan (BPGS). Sejak awal, ipar mantan presiden Soeharto ini memang melibatkan para pengusaha?dan uang mereka tentu saja?melalui sistem bapak angkat.
Kepiawaian ini membuat dukungan mengalir deras kepadanya. Menteri Pemuda dan Olahraga H.R. Agung Laksono dan pengurus KONI Jawa Barat termasuk orang-orang yang menginginkan agar Wismoyo terus memimpin KONI. Tidak terkecuali teknokrat olahraga M.F. Siregar. "Terpuruknya dunia politik di Indonesia berhasil ditutup Wismoyo dengan prestasi olahraga," katanya, berpromosi.
Tapi, dalam soal uang, citra Wismoyo tidak dapat dikatakan putih bersih. Sumbangan dari Apkindo dan BPGS senilai Rp 5 miliar, umpamanya, hingga kini masih merupakan tanda tanya. Juga bonus deposito senilai Rp 1 miliar untuk Ricky Subagja dan Rexy Mainaky sebagai penghargaan atas medali emas yang mereka raih pada Olimpiade Atlanta 1996.
Tidak hanya itu. Wismoyo juga terganjal proyek Garuda Emas. Program ini digalang untuk periode 10 tahun?sejak 1998?untuk mencari atlet di daerah dan diharapkan berbuah medali pada Olimpiade 2008. Selain itu, dana senilai Rp 100 miliar yang disiapkan Departemen Dalam Negeri ternyata digunakan untuk kegiatan olahraga Darma Wanita.
Reputasi Wismoyo yang kurang meyakinkan itu agak jomplang dibandingkan dengan citra Djoko Pramono, mantan komandan pelatnas SEA Games Jakarta 1997. Di kalangan atlet, ia dikenal dengan julukan perwira rohani. Melalui pendekatan persuasif, Djoko yang senang humor itu adalah figur pemimpin yang terbukti sanggup mengayomi atlet dan memacu semangat mereka. Sukses SEA Games Jakarta tak luput pula dari perannya. Sekjen PABBSI itu berhasil mengantar Sri Indriyani merebut medali emas untuk cabang angkat besi di SEA Games Jakarta. Hanya saja karena pengalamannya mengurus olahraga baru dimulai pada 1997, tak begitu tepat membandingkan jam terbangnya dengan Wismoyo.
Tapi, soal ketua KONI tentu tak sepenuhnya tergantung pada jam terbang. Seperti kata pelatih panahan Donald Pandiangan, yang penting harus memenuhi dua hal: punya komitmen terhadap olahraga dan akrab dengan pemerintah dan pengusaha. Dan, siapa "komandan" KONI yang baru, tunggu saja hasil musyawarah olahraga, Februari mendatang.
Ma'ruf Samudra, I G.G. Maha S. Adi, dan Nurur Rohmah Bintari
