Jalan Buntu di Saat Krisis
Sebetulnya, saat Roma meregang nyawa, sang suami sempat memergokinya. Teriakan kagetnya membuat tetangga berhamburan datang. Sayang, racun tersebut bekerja cepat sekali. Dan apa boleh buat, nyawa Roma yang belum beroleh keturunan ini menghilang seiring dengan matahari yang tenggelam di ufuk barat.
Tidak jelas benar alasan Roma menyudahi hidupnya. Sang suami, setelah peristiwa tersebut, lebih sering tidak berada di rumah. Namun, diduga, kenekatan Roma ini dipicu oleh impitan ekonomi yang makin menghebat menimpa pasangan tersebut. Rajagukguk, yang semula berprofesi sebagai sopir metromini, tiba-tiba saja berhenti?atau mungkin juga diberhentikan?dari pekerjaannya. Ia lantas berjualan kupon togel (toto gelap), semacam lotre buntut tak resmi, sehingga penghasilannya tak menentu.
Yang menyedihkan, cerita ini tidak hanya menimpa Roma. Bahkan, di Jakarta, angka bunuh diri pada 1998 meningkat sampai 33,3 persen dari tahun sebelumnya. Bila ditotal, jumlah korban pada tahun lalu adalah 146. Artinya, tiap dua setengah hari sekali dijumpai kasus bunuh diri di Jakarta. "Angka-angka ini mendekati valid," ujar Dr. Budi Sampurna, Kepala Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Asumsinya, untuk kasus bunuh diri, warga Jakarta relatif memiliki kesadaran hukum yang lebih tinggi dibandingkan dengan warga kota kecil. Artinya, setiap kasus bunuh diri dilaporkan dan jenazah korban dikirim ke RSCM untuk diautopsi.
Lantas, benarkah tingginya angka bunuh diri ini disebabkan oleh krisis berkepanjangan yang melanda negeri kita? Tampaknya, jawaban ya memang harus diberikan. Sekadar perbandingan, menurut satu penelitian di Amerika Serikat, setiap kenaikan angka pengangguran sebesar 1 persen di negara tersebut, ternyata, memicu angka bunuh diri jadi meningkat rata-rata 4,1 persen.
Dr. Budi Sampurna sendiri mengaku cukup kaget melihat statistik kasus ini di Jakarta. Dari data di Fakultas Kedokteran UI, terlihat bahwa cara gantung diri ternyata masih menjadi pilihan "favorit" para pelaku sekaligus korban (lihat tabel).
Bunuh diri di DKI 1997| Cara bunuh diri | Pria | Wanita | Total | Gantung diri | 39 | 14 | 53 | Insektisida | 22 | 26 | 48 | Kekerasan tajam | 2 | 2 | 4 | Racun | 2 | 0 | 2 | Senjata api | 1 | 0 | 1 | Jatuh | 2 | 0 | 2 | Lain-lain | 3 | 0 | 3 | Total | 71 | 42 | 113 | |
Bunuh diri di DKI 1998| Cara bunuh diri | Pria | Wanita | Total | Gantung diri | 62 | 22 | 84 | Insektisida | 21 | 22 | 43 | Kekerasan tajam | 3 | 0 | 3 | Senjata api | 2 | 0 | 2 | Lain-lain | 7 | 7 | 14 | Total | 95 | 51 | 146 | |
Itu barangkali erat kaitannya dengan fakta bahwa hampir semua pelaku bisa dipastikan tidak berpengalaman membunuh dirinya, sehingga mereka meniru apa yang mereka lihat pada berita di media massa dan film. Lebih banyaknya pria yang bunuh diri daripada wanita tampaknya mengindikasikan lebih beratnya beban yang disandang kaum pria selaku kepala keluarga.
Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater yang juga guru besar Fakultas Kedokteran UI, menyatakan kenaikan angka bunuh diri ini sebetulnya bisa diramalkan. "Krisis semakin berat, sementara tidak semua orang punya daya tahan," ujar Dadang. Dan bila dilihat bahwa kebanyakan korban bunuh diri ini berasal dari kalangan bawah, itu memang karena kelas inilah yang paling rentan terhadap krisis. Yang mentalnya tak kuat memilih bunuh diri, sementara yang kuat terpicu menjadi pelaku kriminal atau ikut menjarah kalau cara halal tak bisa ditemukan.
Dadang sendiri mengaku cemas bahwa tingginya angka kasus ini bisa makin meledak bila pemerintah bersikap masa bodoh. "Memang, menurut agama, bunuh diri itu dilarang. Namun, mereka juga korban dari pemimpin yang menelantarkan mereka," kata Dadang. Nah, para pemimpin, bersiaplah ikut menanggung dosa dari kaum yang malang ini.
Yusi A. Pareanom, Dwi Wiyana, Dewi Rina Cahyani
