Syarwan Hamid.
Pekan ini, tepatnya 11 Februari 1999, Menteri Dalam Negeri Syarwan Hamid berangkat ke Jerman. Syarwan yang perokok berat itu dikabarkan akan menjalani operasi tenggorokan. Sebelum ke Jerman, Syarwan akan singgah di Amerika Serikat untuk menjalani medical check-up.
Operasi dilakukan di Jerman karena sebelumnya, di negara yang sama, Syarwan menjalani perawatan sejenis. Selama Syarwan menjalani pengobatan--dua pekan--Menteri Kehakiman Muladi ditunjuk sebagai Mendagri ad interim.
K.H. Abdurrahman Wahid.
Bukan karena kencan dengan Syarwan Hamid jika Ketua PB Nahdlatul Ulama, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Sabtu pekan ini juga akan menuju Jerman. Di negara tersebut, selain memenuhi undangan Kanselir Jerman, Gus Dur akan menjalani perawatan mata.
Selain ditemani oleh istrinya, Nuriyah, Gus Dur didampingi oleh dr. Umar Wahid (adik sekaligus dokter pribadinya) serta anaknya, Anita, dan asistennya, Al Zastrouw Ng.
Penghargaan
Nurcholish Madjid.
Rektor Universitas Paramadina Mulya, Nurcholish Madjid, Jumat pekan lalu dianugerahi Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Award dalam acara Dies Natalis Ke-52 HMI. Cak Nur, demikian panggilan akrabnya, dianggap sebagai tokoh HMI yang konsisten dalam memperjuangkan ide-ide kebangsaan, khususnya menempatkan Islam dalam pluralisme Indonesia. "Selain itu, Cak Nur dinilai tidak larut ke dalam kepentingan-kepentingan politik tertentu," kata Hamdani Hamid, panitia acara dies natalis tersebut.
Selain kepada Nurcholish, di acara yang sama diberikan Penganugerahan Tanda Jasa kepada almarhum Victor Tanja, intelektual Kristen yang mencoba memahami keberadaan HMI dalam membangun nasionalisme Indonesia. Disertasi doktornya membahas keberadaan HMI di tengah pembaruan Islam.
Prof. Dr. R.V.S. Bain.
Atas jasanya menemukan vaksin haemorhogic septacemia, yang di Indonesia dikenal sebagai "vaksin Bain", pakar bakteriologi penyakit ternak, Profesor Doktor R.V.S. Bain, asal Australia, dianugerahi Bintang Satyalencana Pembangunan RI. Penghargaan tersebut diberikan 3 Februari lalu di Australia oleh Konsul Jenderal RI di Sydney.
Prof. Bain, 82 tahun, guru besar di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Sydney, mengabdikan keahliannya untuk Indonesia pertama kali pada 1966. Sejak saat itu, ia banyak melakukan penelitian dan penyuluhan peternakan di Indonesia.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
