70 Tahun Wartawan Berjambul
Tintin telah melanglang buana ke penjuru dunia. Sampai saat ini, komik itu telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa dan terjual lebih dari 200 juta kopi. Tokoh-tokoh Tintin bahkan telah menyatu ke dalam bahasa lokal. Di Jepang, Tintin diterjemahkan menjadi Tan Tan. Di Iran, ia dipanggil Tainetaine. Di Mesir, ia diberi nama Ten-Ten. Pada komik Tintin yang terbit di beberapa negara Afrika, tokoh ini dipanggil Kuifie. Sementara itu, nama anjingnya, yang lebih dikenal sebagai Snowy dalam komik Tintin versi Inggris dan Indonesia, sebetulnya bernama Milou dalam bahasa Prancis, bahasa asli komik Tintin.
Tapi pada akhirnya Tintin memang menjadi sebuah sukses universal. Di Indonesia, komik Tintin mencatat sukses besar ketika diterbitkan pertama kali pada 1975 oleh PT Indira. Menurut Bambang P. Wahyudi, Direktur Utama Indira, yang menerjemahkan sendiri Tintin tiga edisi penerbitan pertama, komik Tintin pertama kali dicetak sebanyak 5.000 eksemplar. Dengan modal uang Rp 2,5 juta, Tintin nomor perdana itu dijual seharga Rp 625. Kini, dengan harga Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu per buah, komik Tintin dicetak dua kali per tahun dengan jumlah 3.000 sampai 5.000 eksemplar setiap kali cetak.
Ledakan penjualan Tintin di Indonesia terjadi pada 1977. Ketika itu, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) secara rutin menyelenggarakan pameran buku. Stand Indira, yang memajang komik Tintin, diserbu pengunjung. Saat itu, 30 ribu komik Tintin ludes terjual. "Uang tak bisa dihitung lagi. Dijejal-jejal saja ke dalam karung, lalu kita masukkan ke dalam mobil boks," kata Bambang.
Tak aneh kalau Tintin diserbu pembaca. Keunggulan Tintin, menurut kartunis Dwi Koendoro, terletak pada eksplorasi Herge atas tokoh-tokohnya. Setiap tokoh punya keunikan sendiri. Ada Profesor Calculus, yang budek dan selalu salah mengerti. Ada Snowy (atau Milou), anjing setia Tintin yang selalu asyik dengan dirinya sendiri. Selain itu, Herge mempelajari betul aspek-aspek alam. Ia bahkan mampu mendeskripsikan secara detail setiap tempat dan kejadian yang tidak pernah ia saksikan. Seri Tintin ke Bulan, misalnya, dibuat jauh sebelum pesawat Apolo 11 milik NASA mendarat di satelit bumi tersebut.
Bagaimanapun, Ayu Utami, redaktur jurnal kebudayaan Kalam, menyebut bahwa ada kecenderungan orientalisme dalam komik Tintin. Gambaran Herge tentang dunia Timur, misalnya, diwarnai oleh kepercayaan bahwa Timur adalah sebuah dunia "yang lain" (baca boks resensi dan ilustrasi Ayu Utami: Tintin di Timur). Bahkan, pada edisi-edisi awal, gambaran tentang Rusia dan Kongo sangat sinis—meski pada beberapa edisi yang belakangan gambaran itu perlahan-lahan surut. Stereotip beberapa edisi awal Tintin memang diakui oleh Herge. Dalam buku Tintin and the World of Herge karya Benoit Peters, Herge mengakui dan mengkritik dirinya dengan keras, "Saat mencipta Tintin in the Congo dan Tintin in the Land of the Soviets, saya termakan oleh sikap kelas borjuasi saat itu yang cenderung penuh curiga.… Saya menggambarkan orang Afrika dengan spirit yang begitu paternalistik, yang saat itu memang dominan di Belgia," tutur Herge.
Pada 1946, dengan semangat dekolonisasi, Herge meminta edisi Tintin di Kongo ditarik untuk diperbaiki isinya. Bagian ketika Tintin mengajarkan geografi kepada anak-anak Kongo dan mengatakan Belgia sebagai "tanah airmu" diganti menjadi pelajaran aritmetika, dan bau-bau kolonialisme dihilangkan sama sekali. Namun, perombakan ini pun masih tetap memperlihatkan elemen paternalistik itu. Dan perubahan sikap Herge itu semakin terlihat karena belakangan Tintin digambarkan membela para gerilyawan.
Tintin kemudian memang berkembang pesat menjadi sebuah industri. Boneka tokoh-tokohnya dibuat dan dipasarkan secara massal. Ia pernah dibuat dalam versi layar lebar dengan judul Tintin et le Mystere de la Toison d'Or dengan Jean Pierre Talbot sebagai pemeran utamanya. Toko yang khusus menjual pernak-pernik Tintin dibuka pertama kali di London pada 1984. Beberapa tahun kemudian, toko ini berkembang-biak di Tokyo, Brussel, Barcelona, Montreal, Lisbon, Kyoto, dan Dubai. Herge Foundation didirikan pada 1986, tiga tahun setelah Herge meninggal. Pada 1988, sebuah museum Tintin dibangun di tengah Kota Brussel, Belgia. Di internet, kita bisa menemukan ratusan, mungkin ribuan, situs Tintin, baik yang resmi maupun yang partikelir. Tintin memang telah menjadi ikon. Inilah sebuah catatan tentang bagaimana sebuah komik bisa begitu awet, bisa begitu mendunia.
Arif Zulkifli, Nurur Rokhmah Bintari, Setiyardi
