Para Ronin dan Sebuah Koper Metal
RONIN| Sutradara | : | John Frankenheimer | Skenario | : | J.D. Zeik dan Richard Weisz | Pemain | : | Robert de Niro, Jean Reno dan Natascha Mcelhone, Jonathan Pryce | Produksi | : | United Artists | |
Mereka sudah tak bertuan, tak punya kantor pusat, tak punya prinsip, dan tak bertempat tinggal. Mereka me- rasa dirinya sebagai "samurai" yang kehilangan tuanuntuk berbagai alasandan bekerja untuk dirinya sendiri sesuai keahlian masing-masing. Tetapi, meski mereka kemudian menjadi "orang bayaran", ternyata ada etika tertentu yang harus ditaati: jangan banyak tanya dan jangan berpretensi mencari jawab. Laksanakan tugas sebaik-baiknya, untuk kemudian mengunci mulut.
Sam adalah ronin terbaik dari kelompok ronin yang dikumpulkan Deidre (Natascha Mcelhone). Dia berhidung tajam, jago tembak yang andal, bermata elang, dan bekerja dengan menggunakan otak dan insting. Sebagai seorang anggota CIA yang andalyang tak pernah kita ketahui penyebab ia melepaskan diri dari "induknya"Sam adalah ronin yang paling dipercaya kekuatannya. Syahdan, Deidre memberikan tugas yang tak lazim di kuping orang awam. kelima ronin itu ditugasi untuk merebut sebuah koper metal. Para ronin tak perlu tahu isi koper, tak perlu tahu pemilik koper, dan tak boleh tahu kenapa berbagai kelompok (dari kelompok mafiya Rusia hingga Irlandia) mati-matian memperebutkan koper metal itu.
Untuk sesaat, film yang memasang Robert de Niro sebagai magnet terkuat ini terkesan seperti sebuah film action yang serius. Sutradara memulai film dengan sebuah keterangan filosofis tentang perbedaan samurai (yang bertuan) dan ronin (tak bertuan). Ketegangan yang muncul sejak awalperkenalan para ronin di sebuah kafeyang seolah akan memberikan sebuah suspense, memberi kesan film ini akan menjanjikan sesuatu yang lebih istimewa daripada thriller. Apalagi dengan seluruh lokasi yang mengambil tempat di Paris dan sekitarnya, serta sederetan nama-nama pemain bertaraf internasional (Amerika, Prancis, Irlandia), penonton sudah siap dengan segumpal harapan bahwa film ini sebuah hiburan yang berbobot, paling tidak karena sang Bob de Niro.
Apa daya, yang terjadi adalah sebuah mubazir besar. Selain sutradara membuang begitu banyak waktu dan energi (lebih dari 15 menit hanya untuk beberapa kali adegan kejar-kejaran dengan mobil untuk memperlihatkan betapa dahsyatnya mobil buatan Jerman; hingga sulit untuk tidak curiga film ini disponsori oleh perusahaan mobil), kemampuan para pemain papan atas itu sama sekali tidak dijelajahi. Robert de Niro bermain baik, tapi tidak terlalu istimewa. Jean Reno dan Jonathan Pryce seperti tidak memiliki usaha apa-apa untuk memperlihatkan sebuah karakter, tetapi itu semua juga disebabkan skenario yang seperti tidak memiliki fokus. Apakah keinginan skenario adalah memperlihatkan kehidupan dan suka duka ronin atau misteri sebuah koper metal? Kenapa dalam paruh akhir film ini para pembuat film seperti kesetanan ingin membuat penonton penasaran dengan isi koper itu?
Memang, film ini diakhiri dengan gaya yang menarik: isi kopersebagai targetternyata tidak penting lagi. Yang penting adalah bagaimana para ronin menjalankan tugasnya. Tetapi, sayangnya, fokus cerita memang jadi buyar ke mana-mana.
Sebagai sebuah film laga pun, para kordinator laga tidak memberikan sebuah variasi adegankecuali kejar-kejaran mobil sambil menghancur-hancurkan mobil lain, yang sudah dilakukan James Bond 20 tahun silamatau permainan kamera yang kreatif (kecuali ada beberapa shot yang diambil dari pandangan mata supir, sehingga penonton mendapat kesan seperti ikut mengendarai sebuah roller-coaster).
Selebihnya, ya, hiburan yang berkelas rata-rata. Bahkan Robert de Niro pun, yang menjadi andalan film ini, seperti mengisi sebuah kerutinannya sebagai seorang aktor. Ia sudah terlalu jauh di atas film-film semacam ini, dan tidak seyogyanya aktor sekelas dia memilih untuk terlibat dalam film ini.
Leila S. Chudori
