Sang Negosiator dari Timur Tengah
Inilah saat-saat terakhir rakyat Yordania, ketika sang Raja secara klinis sudah dinyatakan meninggal. Hidupnya hanya bergantung pada mesin respirator yang memungkinkan Hussein tetap bernafas. Otak Hussein sudah berhenti berfungsi. Begitu pula hati dan ginjalnya. Tapi keluarga Hussein bersikeras tidak akan melepaskan Hussein dari respirator. Penguasa monarki Yordania ini meninggalkan Klinik Mayo di Rochester, Minnesota, Amerika, setelah tubuhnya memberikan reaksi menolak cangkok sumsum tulang belakang, Selasa pekan lalu. Akhirnya semua anggota kerajaan memutuskan membawa pulang Raja Hussein ke Amman, sesuai dengan wasiat Hussein, karena kesehatannya sangat buruk dan peluang menyelamatkan sang Raja sangat kecil.
Hussein adalah satu dari sedikit penguasa monarki yang masih bertahan. Meski ia dibantu oleh seorang perdana menteri, posisi perdana menteri tak lebih sebagai hulubalang yang menjalankan titah sang raja. Meski demikian, pemilihan anggota parlemen di Yordania dianggap sebagai pemilihan yang paling bebas dan jujur di kawasan Timur Tengah.
Lahir di Amman, 14 November 1935, Hussein mewarisi tahta dari ayahnya, Pangeran Talal bin Abdullah, sebagai raja dari dinasti Hasmit di Yordania. Pada usia 17 tahun, Hussein sudah mewarisi tahta itu, tapi ia baru benar-benar diangkat sebagai raja setelah setahun kemudian. Ia bekerja keras untuk menaikkan standar hidup rakyat Yordania yang kini berjumlah 4,4 juta jiwa, meski Yordania hanya mengandalkan sektor pariwisata dan valuta asing yang dibawa pekerja Yordania dari tetangganya yang kaya minyak.
Adalah Raja Hussein yang kemudian berperan membawa perdamaian dalam kerusuhan politik regional di Timur Tengah. Seusai perang Arab-Israel pada 1967, Hussein terlibat dalam pembuatan rancangan resolusi DK PBB 242, yang mewajibkan Israel mengembalikan semua tanah Arab yang didudukinya diganti dengan perdamaian. Sejak itu, Hussein menjadi negosiator perdamaian Timur Tengah. "Saya selalu percaya bahwa jalan menuju perdamaian terhampar dalam saling pengertian antara penduduk dunia," ujar Hussein. Akibatnya, ia dimusuhi negara Arab penganut garis keras. Meski ia menerima banyak pengungsi Palestina (dua pertiga penduduk Yordania adalah bangsa Palestina), nyawanya berkali-kali terancam oleh unsur garis keras Palestina karena dianggap terlalu lunak kepada Israel. Di dalam negeri pun ia menghadapi oposisi dari kelompok Ikhwanul Muslimin yang secara tradisional memihak garis keras Palestina. Namun, ironisnya, Raja Hussein pula yang merelakan tanah Yordania?Tepi Barat dan Jalur Gaza?yang diduduki Israel menjadi calon negara Palestina merdeka. Meski bersikap lebih moderat, Hussein tetap belum mau berdamai dengan Israel. Ia mendorong Yasser Arafat, yang kemudian melunak, untuk berunding dengan Israel dalam sebuah delegasi bersama Yordania-Palestina dalam Konferensi Perdamaian Madrid pada 1991. Konferensi ini telah memberi masa depan yang lebih pasti pada hak-hak rakyat Palestina dengan terbentuknya Pemerintah Otoritas Palestina. Barulah kemudian Hussein mau menandatangani perjanjian perdamaian dengan Israel pada 1994. Hussein juga yang kemudian turun tangan menembus kebekuan perundingan Palestina-Israel di Wyne River, Amerika, tahun lalu. Bakat negosiator Raja Hussein sangat ditunjang oleh kepribadiannya yang hangat. Tak aneh kalau ia sempat memperistri empat wanita. Ia bercerai dengan dua istrinya yang berasal dari Mesir dan Inggris. Sedang isteri ketiganya?seorang wanita Palestina?meninggal akibat kecelakaan helikopter pada 1977. Setahun kemudian, Hussein menikahi Lisa Halaby, seorang wanita keturunan Arab-Amerika, yang kemudian dikenal sebagai Putri Noor Hussein. Sebelum Hussein mengidap kanker, Putri Noor pernah melakukan manuver untuk menjadikan putranya, Pangeran Hamza, sebagai calon pengganti ayahnya. Ayah 12 anak ini kemudian sempat menunjuk adiknya, Pangeran Hassan, tapi akhirnya hubungan mereka rusak, dan Hussein menunjuk Pangeran Abdullah (37 tahun) sebagai pewaris tahtanya. Abdullah adalah putra Hussein hasil perkawinannya dengan istri asal Inggris, Toni Gardiner, yang dikenal dengan nama Putri Muna.
Tapi banyak kalangan menilai Abdullah tak sekaliber ayahnya. Ia tak memiliki kemampuan politik luar negeri. Bekas putra mahkota, Pangeran Hassan, justru dianggap menguasai masalah politik Yordania dan Timur Tengah. Namun Abdullah adalah komandan pasukan elite Yordania. Di tangan sahabat Jenderal Prabowo Subianto inilah nasib Yordania dipertaruhkan, ketika pergolakan Timur Tengah tak jelas akhirnya.
R. Fadjri (sumber: Associated Press, Reuters)
