• Home
  • 09 Februari 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Ralat
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 09 Februari 1999

    BRI, Rakyatmu di Mana?

    Pada usianya yang ke-103, Bank Rakyat Indonesia (BRI) tercoreng reputasinya. Aib BRI ini mengingatkan kita pada Bank Barings di London yang setelah 233 tahun tiba-tiba kolaps, hanya karena spekulasi derivatif yang dilakukan Nick Leeson. Peristiwa itu menjadi skandal besar pada awal tahun 1995. Leeson dijatuhi hukuman penjara, Bank Barings dinyatakan bangkrut. Gara-gara Leeson, 28 tahun, menggebu-gebu bertaruh pada indeks Nikkei 225, Bank Barings merugi US$ 1 miliar (pada waktu itu setara dengan Rp 2,4 triliun), sedangkan bank sentral Inggris (Bank of England) tidak mampu menyelamatkannya. BRI kini diperkirakan tersandung kredit macet sebesar Rp 8,5 triliun, akibat pinjaman yang melampaui BMPK (batas minimum pemberian kredit) yang telah disalurkan kepada 10 konglomerat. Pada akhir 1998, Kejaksaan Agung telah menyatakan Direktur Utama BRI, Djokosantoso Moeljono, sebagai tersangka kasus pidana korupsi yang jumlahnya mencapai Rp 1,5 triliun. Bersama Djoko, dua pengusaha besar resmi jadi tersangka, yaitu The Ning King (Grup Argo Manunggal) dan Djoko S. Tjandra (Grup Mulia). Grup Argo Manunggal tidak mampu membayar bunga yang sangat rendah (5 persen), sedangkan Grup Mulia mendapat kucuran dana untuk proyek fiktif. Agunannya ternyata cuma "garansi pribadi". Sejak berdiri, BRI ditugasi menyalurkan kredit untuk pengusaha kecil dan menengah, sesuai dengan amanat pendirinya, Raden Bei Wiriatmadja. Misi yang mulia ini terlaksana dengan baik. Sampai akhir tahun 1998, kredit BRI sebesar Rp 5 triliun untuk debitur kecil mendatangkan untung miliaran rupiah, sebaliknya kredit BRI buntung di tangan debitur besar. Kini BRI diperkirakan rugi Rp 3,68 triliun, melebihi kerugian Barings sebesar Rp 2,4 triliun. Semestinya BRI sudah dinyatakan bangkrut karena kerugiannya melampaui modalnya yang Rp 2,7 triliun. Anehnya, CAR BRI justru yang tertinggi di kalangan bank BUMN, yakni minus 35 persen, dan agar bisa sehat memerlukan suntikan Rp 11,3 triliun. Bandingkan dengan CAR BNI yang minus 52,90 persen, atau CAR BBD yang minus 55,58 persen. Angka CAR itu memperlihatkan bahwa semua bank BUMN berada dalam kondisi parah. Penyebabnya-kalau mau bercermin pada kasus Djokosantoso-adalah pelanggaran semena-mena terhadap asas perbankan yang seharusnya berhati-hati. Sejauh ini, pelaku pelanggaran ini baru dinyatakan sebagai tersangka. Para konglomerat yang menjadi sumber kredit macet BRI juga tetap bisa menghirup udara bebas setelah The Ning King, misalnya, menyatakan komitmen untuk membayar utangnya. Nasib Djoko malah jauh lebih baik dari Leeson. Berdasar SK Menteri Negara Pendayagunaan BUMN tertanggal 11 September 1998, Djoko diperpanjang masa jabatannnya sebagai Direktur Utama BRI, sampai ada ketentuan baru tentang itu. Apa moral dari kasus BRI dan Djokosantoso? Hukum yang lucu dan etika bisnis yang dikembangkan selama ini membuka peluang terlalu besar bagi para konglomerat, dan pada saat yang sama memelihara para bankir yang tidak bertanggung jawab. Dengan alasan krisis ekonomi, kredit yang sejak semula salah penyalurannya kini oleh pemerintah akan ditutup dengan rekapitalisasi, yang dananya dirogoh dari rakyat. Kelak, andaikata kejaksaaan tidak mampu memperkarakan Djokosantoso ke pengadilan, berbagai upaya penyelamatan sektor perbankan diperkirakan juga tidak akan terlalu bermanfaat bagi pembangunan. Inti dari sektor perbankan bukan semata-mata dana yang cukup dan suku bunga rendah, tapi asas kehati-hatian. Asas ini menuntut para bankir untuk tidak sembrono terhadap dana bank, bahkan wajib memperlakukan dana itu sebagai barang suci yang dititipkan oleh masyarakat nasabah. Tanpa etika yang ketat seperti ini, dana seberapa besar pun akan cepat menguap, tanpa bisa dilacak. Itulah yang menimpa Rp 15 triliun dana BRI, dan triliunan rupiah lainnya pada bank-bank BUMN plus bank-bank swasta di Indonesia.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Musa Ditolak, Musa Diterima

Berobat

Buku

70 Tahun Wartawan Berjambul

Catatan Pinggir

Tlön

Ralat

Ralat

TEMPO|interaktif

Bisnis

DPR Setujui RAPBN 2013 Masuk Badan Anggaran

Bisnis

275 Daerah Belum Susun Raperda PBB

Nasional

Istana Tak Tahu Ibas Nyaris Jadi Korban Bentrokan

Metro

Rekonstruksi Pengeroyokan Kelasi Arifin Digelar

Nasional

Pengadilan Pamekasan Eksekusi Rumah Dinas Polisi

Bisnis

Kobexindo Akan Buka Lima Kantor Cabang Baru

Nasional

Ini Pemicu Serbuan Massa ke Anas dan Ibas  

Otomotif

Awas, Bahan Bakar Etanol Pekat Bisa Merusak Mesin  

Bisnis

Pelambatan Manufaktur Cina Bebani Bursa Asia  

Nasional

Indofarma Bukan Distributor Alat Kesehatan

Welbeck Masih Cedera, Inggris Krisis Penyerang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif