Korban-korban Para Pengkhianat Itu
Kekejaman Raja tak cuma sebatas itu. Ia, misalnya, ikut aktif turun tangan menyiksa mereka yang dituduh anggota gerombolan pengacau keamanan (GPK)--istilah yang populer dilontarkan oleh Jend. (TNI) Try Sutrisno, ketika menjadi Panglima ABRI.
Cerita ini dibenarkan oleh para korban yang didata oleh Tim Pencari Fakta (TPF) Wilayah II Pidie. Bahkan, boleh dibilang, orang sipil yang paling berperan dan sangat kejam dalam penyiksaan, ya, si Raja itu. Korban-korbannya biasa dibawa dan dikerjai di Rumoh Geudong, di Geulumpang Tiga, yang sekarang sudah jadi abu lantaran dibakar warga.
Ketua TPF Wilayah II Kabupaten Pidie, Syahrul Nurfa, 37 tahun, mengisahkan, di dalam Rumoh Geudong itu korban rata-rata diperlakukan secara kejam. Mereka ditelanjangi. Kemudian yang perempuan disetrum hidung, payudara, dan kemaluannya. Adapun yang laki-laki disetrum kemaluan dan hidungnya.
Ada cerita, Raja bahkan tega mencekik bapaknya sendiri, Teungku Hamzah. Untung, Teungku dapat diselamatkan dan masih hidup sampai sekarang. Raja sendiri kini raib seperti ditelan bumi. Ada yang menduga ia disembunyikan ABRI. "Saya dengar berita dia sudah lari bersama istrinya," ujar Syahrul.
Masih merupakan hal yang samar siapa sebenarnya Raja. Cuma ada kabar bahwa ia pernah menikah dua kali. Dari istri pertama, ia mendapat dua orang anak. "Dari istri mudanya, saya tidak tahu berapa anaknya," tutur Syahrul, yang terjun langsung ke lapangan mengumpulkan fakta mengenai cuak.
Kisah Raja menjadi cuak berawal dari penangkapan yang dilakukan oleh aparat terhadap sejumlah orang yang diduga sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka. Ia ditahan bersama ayahnya. Entah apa sebabnya, setelah beberapa saat dalam tahanan, Teungku dilepas. Tapi Raja tidak.
"Orang yang pernah ditangkap umumnya kemudian digunakan sebagai tenaga pembantu operasi," kata Syahrul, yang juga Koordinator Badan Pekerja Kontras Sigli, kepada Mustafa Ismail dari TEMPO, yang mewawancarainya lewat saluran telepon Jakarta-Sigli (Aceh), Jumat pekan lalu.
Para tenaga pembantu operasi itu dimanfaatkan tentara untuk menemukan orang yang dicurigai sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka. Menurut buku Aceh Bersimpah Darah terbitan Pustaka Al-Kautsar, mereka juga bertugas memasok informasi, misalnya di mana penduduk menyimpan senjata.
Celakanya, informasi mereka tak selalu akurat, seperti yang menimpa warga Sarahpanyang, Bandarbaru, M. Abas Saleh. Suami Puteh Idris ini dibawa pergi aparat lantaran dilaporkan punya simpanan senjata di rumahnya oleh cuak bernama M. Yusuf. Padahal, setelah digeledah, senjata yang dimaksud tak ditemukan. Abas pergi dan kini tak pernah kembali.
Nyak Maneh, warga Desa Rinti, Mutiara, juga pernah jadi korban intimidasi cuak bernama Is alias R. Nyak Maneh diteror karena melaporkan pemerkosaan yang dialaminya ke DPRD. Untung, lagi-lagi, Nyak Maneh tak diapa-apakan. Tapi ia jadi ketakutan dan tak berani tidur di rumah.
Yang tak beruntung mungkin Teungku Abdul Wahab Daud, 61 tahun. Guru mengaji di Masjid Baitul Mukmin, Lampohsaka, Pidie ini terpaksa menanggung siksa cuak dan tentara karena dituduh melindungi Idris, seorang anggota gerilyawan Aceh Merdeka. Kaki dan punggung Abdul habis dihajar pakai rotan. Seperti yang tertulis di Aceh Bersimbah Darah, Abdul diambil dari penginapannya di Kantor KUD Bahagia, Lampoihsaka, 30 April 1998. Penculik dikenalinya sebagai seorang aparat bernama Sas dan cuak berinisial Is alias R. Mereka mengendarai jip Daihatsu Taft Rocky.
Tentu saja masih banyak cerita seram dan menyedihkan di balik tingkah polah para pengkhianat itu. Sayang, tak semua sempat tercatat karena banyak korban yang keburu putus nyawanya, tak kuat menanggung siksa.
