Banyak Rujukan, Sedikit Peminat
Kemudahan ini bisa dimungkinkan karena dengan peranti lunak WAIS (Wide Area Information System), data yang tercakup dalam CDS/ISIS (Computerized Documentation Service/Integrated Set of Information System) yang dimiliki lembaga-lembaga tersebut bisa diakses pengguna internet. ''Peranti lunak ini sudah banyak digunakan oleh perpustakaan di Indonesia sehingga mudah dikembangkan," ujar Ismail Fahmi, salah satu anggota tim ITB yang terlibat dalam pembuatan jaringan ini.
Pada masa mendatang jaringan ini memang direncanakan akan menjadi muara semua katalog yang dimiliki perpustakaan-perustakaan di Indonesia. Sekarang, mungkin karena baru beberapa minggu berjalan, layanan informasi di jaringan yang dirintis Oktober 1998 oleh Onno W. Purbo, pakar internet dan Kepala Perpustakaan ITB ini, masih terbatas. Misalnya katalog buku yang hanya menyebutkan judul, pengarang, serta materi buku secara sangat singkat—berbeda dengan katalog hasil penelitian yang tampil lebih lumayan dengan menyertakan abstraksi.
Jika semua perpustakaan universitas di Indonesia telah bergabung, mungkin fasilitas ini baru terasa besar manfaatnya. Saat ini para pengguna perpustakaan mungkin tak puas hanya dengan mengandalkan satu perpustakaan. Maklum, anggaran perpustakaan untuk pembelian buku dan jurnal umumnya sangat kecil sehingga koleksi perpustakaan juga terbatas. ''Dengan tukar informasi antarperpustakaan ini, kami bisa memberi rujukan kepada pengunjung," ujar Abdul Rahman Saleh, Kepala Perpustakaan IPB. Menurut Kepala Perpustakaan UI, Lily Irawati Roesma, jaringan semacam ini juga bisa dijadikan ajang promosi perpustakaan. Karena itu, UI pun berniat membangun kios internet sendiri bagi koleksi perpustakaannya, menyusul perpustakaan Universitas Gadjah Mada yang telah lebih dulu memajang koleksinya di situs www.ugm. ac.id.
Kemudahan mengintip koleksi perpustakaan perguruan tinggi atau lembaga penelitian ini mungkin akan menimbulkan masalah. Seperti yang dikatakan Kepala Perpustakaan UGM Slamet Subagyo, bisa jadi ada ide penjiplakan oleh mahasiswa dan peneliti yang curang. ''Ini memang tantangan bagi dosen pembimbing agar lebih teliti," ujar Slamet.
Ternyata sejauh ini jaringan antarperpustakaan dan lembaga penelitian ini belum cukup dikenal para mahasiswa—jadi kemungkinan menjiplak penelitian orang lain masih kecil. Menurut Siswanto, petugas yang melayani informasi lewat internet di UGM, sedikit sekali mahasiswa yang tertarik menjelajahi dunia maya ini. Untuk memperoleh data dari internet, para mahasiswa masih minta dilayani petugas. ''Sebagian besar mahasiswa yang ke sini bahkan tidak tahu cara memakai internet," ujar Siswanto.
Beberapa mahasiswa yang ditemui TEMPO di beberapa perpustakaan perguruan tinggi malah menyatakan tidak begitu tertarik dengan layanan informasi melalui jaringan antarperpustakaan itu. ''Tidak ada kelebihan yang ditawarkan, lebih baik mengakses situs BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) atau Yahoo, yang lebih lengkap," ujar Harry Satrio, mahasiswa Teknik Lingkungan ITB.
Yusi A. Pareanom, Ahmad Fuadi, Rinny Srihartini (Bandung), L.N. Idayanie (Yogyakarta)
