Komputer

Pentium III: Mutakhir atau Mubazir?

Pentium III kini telah hadir di pasar dengan sejumlah keunggulan dan terobosan. Kenapa para analis menyarankan untuk menunda pembelian produk canggih ini?
PROSESOR Pentium III produksi Intel, yang membuat penasaran banyak orang, akhirnya diluncurkan ke pasar Amerika Serikat pada 26 Februari lalu. Kehebatan cip terbaru yang dulu diberi nama kode Katmai ini telah santer didengung-dengungkan. Dikatakan, produk ini berkecepatan hingga 450 megahertz sehingga membuat pengguna tidak perlu lagi berlama-lama bengong di depan monitor menunggu data terproses. Kemampuan cip ini untuk mengenali suara sang pemakai dan menggunakannya untuk menjelajah di internet (speech web browsing) tentu saja adalah satu terobosan yang berarti. Selama ini, untuk berselancar, seseorang tak bisa lepas dari papan ketik (keyboard) dan clurut (mouse). Kehebatan lain lagi dari Pentium III ini adalah kemampuan untuk membuat tampilan tiga dimensi dalam internet terlihat sempurna.

Rasa ingin tahu publik memang tertebus. Namun, alih-alih mendapat pujian, produk baru ini ternyata lebih memanen kritik. Rupanya, keunggulan yang ditawarkan Intel dinilai hanya cocok untuk orang-orang yang banyak berurusan dengan tampilan tiga dimensi. Bagi pemakai biasa, hal itu tidak akan banyak berguna. Selain itu, pola pemasaran Intel yang mencicil dalam mengeluarkan teknologinya —cip dengan kecepatan satu gigahertz akan dirilis akhir tahun ini—membuat para analis menyarankan peminat untuk menunda pembelian. Satu set komputer dengan Pentium III dengan harga premium US$ 2.000-US$ 2.500, atau sekitar Rp 17,6-Rp 22 juta dengan kurs saat ini, akan terasa mahal bila pada akhir tahun nanti keluar prosesor yang lebih cepat dengan harga yang lebih murah.

Alasan lain untuk menunda, kemampuan Pentium III ini tidak diimbangi dengan perangkat lunak (software) yang tersedia saat ini. Sekalipun Intel menyatakan bahwa saat ini sudah ada 250 perusahaan pembuat peranti lunak (vendors) yang siap mendukung, pembuatan satu peranti lunak tetap memerlukan waktu yang tidak singkat. Sebagai contoh, pembuatan Windows 98 memerlukan waktu sekitar dua tahun. Namun, menurut Intel, dengan Pentium III yang telah diperkenalkan satu tahun sebelumnya, bisa jadi prosesnya tidak akan berkepanjangan seperti itu.

Hal paling kontroversial tentang cip baru ini justru terjadi jauh hari sebelum resmi diluncurkan. Pencantuman nomor serial pada prosesor oleh Intel semula dimaksudkan untuk mempermudah penggunaan di internet. Dengan nomor identitas diri pada satu prosesor yang telah dikenali, seseorang bisa masuk ke satu situs tanpa harus selalu mengetik ulang kata kunci (password). Kegunaan lain, bila katakanlah komputer seseorang dicuri, lokasi komputer baru ini bisa dilacak lewat nomor serial ini saat komputer digunakan. Namun gagasan ini diprotes karena bisa melanggar wilayah pribadi seseorang. Bila seseorang berbelanja lewat internet dengan komputer yang ber-Pentium III, misalnya, pihak lain bisa mengintip apa saja yang dibeli. Kerugian lain, dengan nomor yang bisa dikenali ini para penyusup (hacker) juga lebih mudah mengacak-acak atau paling sedikit menimbuni komputer pribadi seseorang dengan surat-surat sampah (junk e-mail). Terhadap protes ini, rupanya Intel cepat tanggap dengan menata ulang programnya sehingga pengguna bebas memilih untuk menghidupkan nomor serialnya atau tidak.

Dengan kritik yang cukup deras ini, dana kampanye Pentium III sebesar US$ 300 juta, atau sekitar Rp 2,64 triliun, jelas menjadi pertaruhan yang besar. Jadi, bagaimana kira-kira peluang pasar produk yang pekan ini akan mulai meramaikan pasar Indonesia? Menurut perkiraan Erika Gadjuli, periset analis perusahaan riset pasar Gartner Group/Dataquest, dari total pasar 130 ribu komputer pribadi yang terjual setiap tahunnya di Indonesia, komputer dengan Pentium III hanya akan bisa mengambil porsi sekitar 10 persen. Angka ini lebih rendah dari pangsa pasar Pentium II pada tahun lalu yang sebesar 20 persen. Bisa ditebak, penyebab penurunan ini adalah krisis berkepanjangan dan harga dolar yang masih betah di level Rp 8.000-an. Menurut Erika, peminat Pentium III adalah orang yang betul-betul techno-oriented. Mereka itu, selain hanya sedikit jumlahnya, juga terganjal masalah keuangan. Untuk sekarang, kata Erika, mereka mungkin lebih cenderung meng-up grade komputer lama daripada membeli yang baru. Reaksi pasar—yang kadang-kadang tak rasional—mungkin saja berbeda dengan perkiraan Erika dan para analis lainnya. Tinggal waktu yang akan membuktikan.

Yusi A. Pareanom
TempoInteraktif

Timteng
Hamas Tolak Seruan Gencatan Senjata PBB
-----------------
Nusa
Kakek Uzur Akhirnya Ceraikan Bocah 12 Tahun
-----------------
Ekbis
Revisi Asumsi Makro Anggaran Diajukan Bulan Depan
-----------------
Nasional
Pemerintah Kaji Penurunan Bahan Bakar Minyak 15 Januari
-----------------
Sepakbola
Pemain Terbaik Dunia Diumumkan Senin
-----------------
Kriminal
Siswa Playgroup Dianiaya Guru
-----------------
Ekbis
Stimulus Fiskal Baru Terasa Beberapa Bulan Mendatang
-----------------
Nusa
Aceh Targetkan Ekspor Beras 2009
-----------------
Asia
Prajurit Amerika Tewas di Afganistan
-----------------
Nusa
Pengusutan Korupsi Pasar Turi Masih Gelap
-----------------