Pendidikan

Belajar Sambil Bermain

Dari kelas berdinding bambu, Romo Mangun mempersiapkan anak-anak yang mampu berpikir kritis. Mereka lulus ebtanas dengan mudah. Bahkan, ada yang peringkat terbaik.
SEKELOMPOK anak sekolah berseragam merah putih berjalan tanpa alas kaki meniti pematang sawah. Dengan berbekal pensil dan buku, mereka ditemani seorang wanita bersandal jepit, yang ternyata guru mereka. Bila menemui seorang petani, rombongan berhenti. Berbagai pertanyaan seputar pertanian meluncur dari bibir-bibir mungil itu.

Inilah salah satu pelajaran yang diterapkan di SD Kanisius Mangunan yang ada di Desa Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Belajar sambil bermain, itulah konsep yang diterapkan budayawan dan rohaniwan Y.B. Mangunwijaya ketika almarhum mendirikan SD percobaan itu pada 1994. Dengan tetap mengacu pada kurikulum pemerintah, ia mengembangkan metode pendidikan tanpa meninggalkan sifat bermain yang ada pada setiap anak.

Maka, berkembanglah pelajaran IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) di pematang sawah, atau sambil berjalan menyusuri jalan kampung. Bagi guru di SD ini, tak ada istilah haram terhadap semua pertanyaan murid. Mereka boleh bertanya tentang apa saja yang dilihatnya. Jawabannya akan didiskusikan oleh sang guru di bawah sebatang pohon rindang.

Diskusi memang bentuk yang dipakai untuk merangsang daya kritis para murid. Diskusi seperti itu tentu berbeda dengan metode belajar yang dialami murid SD lainnya, yang hanya dicekoki deretan pelajaran. Untuk itu, di sini ada pelajaran "Kotak Pertanyaan". Di atas secarik kertas, para siswa menuliskan berbagai pertanyaan tentang hal-hal yang dialami sehari-hari. Namun, sebelumnya, ia harus menguraikan dulu permasalahannya. Ada anak yang bertanya, mengapa sapu lidi yang semula panjang bila sering digunakan lama-kelamaan menjadi pendek. Tiap pertanyaan dilemparkan dulu kepada teman-temannya. Bila tak ada yang bisa menjawab, barulah guru menjawabnya dengan penjabaran teori fisika.

Masih ada mata pelajaran membuat laporan serta pelajaran "Bacaan Bagus" yang dilakukan dalam posisi duduk setengah lingkaran atau berkelompok. Semua hal yang tak umum itu diterapkan Romo Mangun, "Karena Romo ingin siswanya memiliki jiwa kritis, suka mencipta hal baru, dan berani bertanya," ujar A.M. Sri Mursitowati, Kepala SD Kanisius Mangunan. Dengan sistem seperti itu, 14 siswa kelas VI semua lulus ebtanas dengan nilai ebtanas murni (NEM) di atas 38 dan meraih predikat lulusan terbaik di Ranting Berbah.

SD Kanisius Mangunan memang bukan sekolah pertama yang menerapkan sistem pengajaran yang tidak biasa. Tercatat ada sekolah alam di Ciganjur, atau sekolah Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) yang ada di beberapa kota besar. Namun, SD ini memiliki nilai lebih karena ia menampung anak-anak tak mampu di Desa Mangunan. Dari 69 siswa, hanya ada seorang anak yang dianggap mampu dan diwajibkan membayar SPP Rp 8.000 tiap bulannya. Lainnya, cukup memberi Rp 1.000 atau tidak membayar.

Walaupun mereka anak-anak miskin, Romo Mangun tampaknya menyiapkan ladang pendidikan yang subur, yang selama ini hanya dimonopoli oleh keluarga kaya. Maka, sebuah asrama dibangun di sebelah sekolah, khusus untuk menampung anak jalanan yang mau belajar. Sayang, saat ini hanya empat anak jalanan yang mau tinggal di sana.

Memang, asrama maupun gedung sekolahnya tidak layak dibandingkan dengan sekolah-sekolah unggulan. Sekolah dasar yang terletak di kilometer 12 jalan raya Yogya-Solo ini hanya memiliki empat bangunan berdinding anyaman bambu yang semuanya merupakan rumah penduduk.

Namun, apalah artinya bangunan fisik bila dibandingkan dengan materi pelajaran yang didapat. Sekolah dasar di Mangunan itu juga mengajarkan bahasa Inggris yang, seperti mata pelajaran lain, diajarkan dalam konsep bermain. Mereka juga mendapat pelajaran matematika dengan metode, lengkap dengan buku-buku dan bentuk permainan dari Belanda. Efeknya tampak jelas. "Anak-anak di sini jadi tak takut dengan matematika dan IPA," kata Ninik Marheni, guru senior di sekolah ini.

Agar pengajaran yang tak lazim ini bisa berjalan, tentu diperlukan guru yang tidak biasa juga. Untuk itu, semasa hidupnya Romo Mangun sangat memperhatikan kualitas lima guru dan kepala sekolah SD Mangunan. Setiap triwulan, misalnya, diadakan lokakarya sebagai penyegaran bagi guru-guru tersebut. Beberapa dosen dari Universitas Sanata Dharma kerap didatangkan untuk mengawasi guru di kelas, termasuk Butet Kertaredjasa, seniman Yogyakarta yang menjadi langganan Romo untuk mengajarkan cara bercerita yang menarik kepada anak. "Kini, setelah Romo tiada, kami belum melakukannya lagi," ujar Sri Mursitowati seraya mengenang Romo Mangun yang berpulang awal Februari silam.

Ma'ruf Samudra dan L.N. Idayanie (Yogyakarta)