• Home
  • 02 Maret 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
    • Wawancara
  • Arsip
  • 02 Maret 1999

    Sebuah Kado yang Tak Terlalu Istimewa

    Kado Istimewa
    Sutradara: Enison Sinaro
    Skenario: Jujur Prananto
    Pemain: Rima Melati, Desy Ratnasari, Kaharuddinsyah
    Produksi: Multivision Plus

    Jawa Tengah, 1947. Agresi Belanda tidak hanya merumuskan sebuah bab sejarah, tapi juga menghasilkan sebuah nostalgia yang tertanam begitu hebat dalam kenangan seorang ibu. Adalah Kustiyah muda yang membantu di dapoer oemoem, memasak tiwul bagi para pejuang yang tertembak, sembari mendengarkan wejangan Komandan Hargiyono yang begitu meresap di kalbunya.

    Tahun 1990-an. Bu Kustiyah (Rima Melati), yang sudah menjanda, tetap tinggal di kampungnya sambil membuka warung nasi. Jakarta yang panas itu penuh sesak oleh warganya, yang juga terdiri atas putri Ibu Kustiyah bernama Wawuk (Desy Ratnasari) yang sudah menikah. Wawuk bekerja sebagai seorang sekretaris dan suaminya adalah pegawai BUMN di sebuah perusahaan yang presiden komisarisnya kebetulan Hargiyono, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai menteri.

    Suatu hari, Wawuk berkisah melalui surat kepada ibunya bahwa Pak Hargiyono akan ngunduh mantu. Berbekal kenangan zaman revolusi, sang ibu berangkat naik kereta api menuju Jakarta dan menggiring anak mantunya untuk menunjukkan tempat resepsi perkawinan anak Bapak Hargiyono itu. "Beliau pasti terharu dan ingat masa revolusi," demikian tutur sang ibu penuh semangat dan keyakinan kepada anak dan mantunya yang terlongong-longong. Apa boleh buat, sembari membawa kado berisi tiwul yang dibungkus kertas coklat, ibu, anak, dan mantu memasuki ruang resepsi berbintang lima itu. Apa daya, di dalam, mereka semua diperiksa detektor, ditanyai undangannya, serta mendapat segala perilaku yang serem-serem dari para penjaga. Maklum, Bapak Presiden dan menteri akan datang. Lalu, bagaimana Ibu Kustiyah akhirnya bisa tercapai cita-citanya untuk menyalami "bos"-nya pada zaman revolusi itu?

    Inilah cerita pendek Jujur Prananto?pernah dinyatakan sebagai cerpen terbaik harian Kompas?yang, menurut saya, merupakan cerita terbaik yang pernah ditulis selama satu dasawarsa ini. Inilah kisah sederhana tentang seorang ibu dari udik yang tanpa pretensi ingin bertemu dengan (mantan) pejuang yang dipujanya karena "telah memerangi penjajahan dan kini memerangi kemiskinan" itu. Sebuah cerita pendek sebagai bagian dari sastra adalah sebuah dunia imajinasi. Sebuah film televisi?yang kini nama populernya adalah sinema elektronik atau sinetron?adalah sebuah kesenian visual yang menyajikan kisah itu dalam visualisasi yang sudah dibentuk oleh para sutradara dan penulis skenario.

    Cerita pendek Kado Istimewa dalam bentuk sinetron yang skenarionya juga ditulis oleh penulisnya sendiri, Jujur Prananto, menjadi sebuah kesenian lain yang harus dinikmati dengan cara yang lain. Ibu yang keras hati, udik, dan berasal dari desa, yang diperankan oleh Rima Melati (kenapa dia?), dan sang anak oleh Desy Ratnasari, menjadi sebuah dunia yang sudah dibentuk secara pasti oleh sutradara Enison Sinaro.

    Meski Kado Istimewa sebagai cerita pendek dan Kado Istimewa sebagai sinetron adalah dua dunia yang sangat berbeda dan harus dilihat sebagai dua hal yang berdiri sendiri, sulit untuk tidak membandingkan keduanya. Pertama, Sinaro tidak terlalu kreatif dalam memainkan kamera. Hampir seluruh gambar disajikan dengan statis, dengan pencahayaan yang monoton, serta diselingi musik perang yang sangat klise (dengarkan bunyi yang diseram-seramkan pada saat agresi Belanda itu). Kedua, skenarionya, yang meskipun ditulis oleh penulis cerpennya, memang harus dikembangkan (artinya ditambahkan sosok-sosok baru dan perkembangan cerita di sana-sini) karena sinetron itu menjadi sebuah "benda" yang berbeda dengan cerpen asli. Untuk itu, muncullah tokoh Menteri Hermawan yang kena ancaman bom sehingga pesta kawin didramatisasi, kemudian muncul pula tokoh-tokoh rekan Pak Hargiyono yang memberi hadiah rumah, atau tokoh para veteran yang biasa mendapat sumbangan tetap dari Pak Hargiyono (dan setia berteriak "merdeka" sembari mendapat jatah amplop). Ini perkembangan cerita yang sebetulnya agak berlebihan, meskipun tokoh menteri (diperankan Galib Husein dengan baik) yang digambarkan itu memang tampil secara karikatural dan menyegarkan sinetron ini. Pemain bermain di atas rata-rata. Desy Ratnasari, Eeng Saptohadi, Galib Husein, dan Kaharuddinsyah adalah pemain yang berhasil menampilkan sajian yang pas dan wajar. Rima Melati, sebagai Ibu Kustiyah?meski perannya tidak jelek? memiliki problem fisik yang tampaknya lebih mewakili ibu priayi Jawa daripada seorang ibu yang lugu dari kampung.

    Seandainya Sinaro bisa lebih kreatif dalam pengadeganan?seperti yang dilakukannya dalam Hau Ema Timur, sebuah dokumentasi drama dalam serial Anak Seribu Pulau?mungkin Kado Istimewa akan menjadi kado yang istimewa bagi penonton televisi Indonesia.

    Leila S. Chudori


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Pemilu Yes, Cap Tinta No

Buku

Perang yang Membingungkan

Catatan Pinggir

Byar

Televisi

Jika New Kids on the Block ke Televisi

Sebuah Kado yang Tak Terlalu Istimewa

TEMPO|interaktif

Nasional

Subkontrak Proyek Alkes Melanggar Keppres

Nasional

Tjipta Lesmana Nilai Bali Post Salah Fatal  

Nasional

449 Orang WNI Ditahan di Australia  

Bisnis

Batu Bara dan Minuman Soda Bisa Kena Cukai  

Bisnis

Merugi, ICB Bumiputra Tak Bagi Dividen  

Nasional

Golkar Sesalkan Penetapan Tersangka Fadel Muhammad  

Metro

Listrik Biarpet, Warga Cipayung Kesal

Olahraga

Gagal ke Final Al-Nakbah, Timnas Diguyur Bonus  

Bisnis

Kobexindo Targetkan Penjualan Alat Berat Hingga 1.300 unit

Bisnis

Malaysia akan Kehabisan Lahan Sawit  

Bisnis

DPR Setujui RAPBN 2013 Masuk Badan Anggaran  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif