• Home
  • 09 Maret 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 09 Maret 1999

    Pasar Gambir, di Era Jajahan

    Pekan Raya Jakarta punya cerita tempo doeloe. Begini kisahnya: di Koningsplein, kini lapangan Merdeka di kawasan Monas, Jakarta, tahun 1920-an sampai 1930-an, tradisi pasar atau fair itu dimulai dengan nama Pasar Gambir. Nama pekan raya di era penjajahan itu memang mirip Pekan Raya Jakarta (PRJ) kini. Dan seperti PRJ, Pasar Gambir memamerkan banyak hal yang disajikan melalui 270 stan yang memajang berbagai produk, mulai dari batik cap asal Betawi, ukiran Jepara, kerajinan emas Aceh, ukiran perak dari Bogor, sampai mobil Ford keluaran mutakhir. Sebagai saksi sejarah, Pasar Gambir menunjukkan tradisi pasar malam sesungguhnya yang telah dibawa Belanda ke tanah jajahan sejak dulu. Kesan itulah yang tertangkap dari pameran foto ''Pasar Gambir" di Erasmus Huis pertengahan bulan lalu. Foto yang diboyong dari Tropenmuseum Amsterdam itu merupakan sebagian kecil dari 200 ribu foto tua koleksi sejarah yang tersimpan Negeri Kincir Angin itu. Pasar Gambir adalah pasar yang riuh. Ia terdiri dari sebuah tanah lapang, rumah-rumah berarsitektur etnik dari bambu, atap rumbia, dan tuan Belanda berpantalon gelap, kemeja putih berkanji, dasi kupu-kupu, dan rambut yang mengkilat. Ada stan tembakau, papan luncur yang dikerubuti anak-anak, dan tak lupa, ketika matahari tenggelam, dansa-dansi ala Eropa dan minuman beraroma anggur yang pekat. Dilihat dari 50 buah foto yang dipamerkan itu, tampaknya para pengunjung Pasar Gambir bukan dari rakyat kebanyakan. Karena penampilan mereka yang gaya, paling tidak para pengunjung adalah kelompok priayi Betawi yang berpendidikan baik. Setiap tahun stan-stan yang dirancang khusus oleh arsitek Kota Batavia J.H. Antoinisse itu mengambil bentuk rumah daerah secara berganti-ganti: Bali, Cina, atau Minangkabau. Beberapa stan bahkan mengambil pola arsitektur masjid, lengkap dengan simbol bulan bintang di atapnya, seolah menandakan: inilah sebuah pasar malam yang digarap dengan serius. Serius? Ya, meski secara fotografis koleksi yang berharga ini tak lebih dari dokumentasi yang kaku—hampir tanpa sudut bidik yang menarik—pameran ini menandakan bagaimana Belanda, di era ketika dunia sedang dirundung kebangkrutan ekonomi yang dasyat, masih sanggup mengadakan pesta, pameran, dan hura-hura. Roda ekonomi dunia yang macet toh tidak mematikan keinginan untuk merayakan malam, dan tradisi menghormati Ratu dan Kerajaan toh tak perlu ditunda. Ketika kalendar menunjukkan 31 Agustus, hari ulang tahun Ratu, ratusan orang dalam festival Pasar Gambir bersorak dalam kegembiraan. Ironis? Mungkin ya. Tapi itulah watak ''pasar"—bentuk yang paling verbal dari kapitalisme. Tidak pernah, atau tidak perlu, ada kompromi dengan keadaan: kesenangan adalah kesempatan yang harus dirayakan. Atau ini mungkin watak penjajahan. Ketaklukan pada ''pusat" kekuasaan harus diwujudkan dalam berbagai bentuk di setiap lapisan masyarakat. Dan pasar, dengan ciri keramaian dan keberagaman di dalamnya, adalah media yang paling baik untuk menyosialisasikan ketaklukan itu. Begitukah? Entahlah. Yang pasti koleksi foto Pasar Gambir adalah dokumentasi berharga. Bahwa kita pernah punya pasar malam. Juga telah pernah dijajah. Arif Zulkifli

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Mambang Nasionalisme

Ben Anderson:

''Di Tim-Tim, Tentara Jadi Begitu Buas"

Catatan Pinggir

Joss

Fotografi

Pasar Gambir, di Era Jajahan

Kecap Dapur

Di Usia Ke-28

Halo, dari Mayor Panggih...

Empat Tahun Menunggu TEMPO Kembali

TEMPO|interaktif

Nasional

TrioMacan2000 Ternyata Takut Istri

Nasional

Konflik Keraton Surakarta Dibawa ke Jalur Hukum

Bisnis

Tri Bayan Tirta Targetkan Dana IPO Rp 250 Miliar

Nasional

Tangani Pemabuk, Polisi Tuban Babak Belur Dikeroyok

Nasional

Usai Rujuk, Raja Surakarta Ditolak Masuk Keraton

Nasional

Subkontrak Proyek Alkes Melanggar Keppres

Bisnis

Pertamina Bangun SPBU Bergerak di Kalimantan

Nasional

Tjipta Lesmana Nilai Bali Post Salah Fatal  

Nasional

449 Orang WNI Ditahan di Australia  

Bisnis

Batu Bara dan Minuman Soda Bisa Kena Cukai  

Bisnis

Merugi, ICB Bumiputra Tak Bagi Dividen  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif