• Home
  • 23 Maret 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 Maret 1999

    Perjalanan (Penganten) Ajip Rosidi

    PERJALANAN PENGANTEN
    Penulis: Ajip Rosidiv
    Penerbit:Pustaka Jaya
    Tebal: 171 halaman
    Terbit: Tahun 1958 dan 1998
    Lelaki itu masih sangat muda. Usianya baru mencapai 18. Namun di umur yang sangat dini ia telah memulai semuanya: berkeluarga, memiliki anak, bekerja sebagai redaktur pada sebuah perusahaan penerbitan, menjadi jengah terhadap Jakarta dan memutuskan pulang kampung. Di kampung, Desa Jatiwangi di daerah Majalengka, Jawa Barat, ia harus berinteraksi dengan masyarakat ''lokal" yang tradisional, tapi toh ia seperti kehilangan argumentasi untuk mendebat segala ''keanehan" tradisi yang dihadapinya. Ia—tokoh ''aku" dalam roman Perjalanan Penganten karya Ajip Rosidi—adalah seseorang yang asing dan mengalami krisis mental menghadapi lingkungan yang sedang berubah, lingkungan mosaik masyarakat Indonesia pada penghujung 1950-an. Perjalanan Penganten adalah roman yang diterbitkan kembali yang menandai ulang tahun ke-60 Ajip Rosidi. Seperti tokoh utama, Ajip memang menandai kemudaannya sebagai seorang pengarang. Ia menulis roman ini pada 1956, ketika usianya baru 18 tahun, tapi kegelisahan yang dirasakannya sebagai pengarang melampaui anak-anak muda seusianya. Kritikus sastra A Teeuw menyebut Ajip sebagai pengarang yang terlalu cepat matang. Namun, kematangan itulah yang menjadikan Perjalanan Penganten menjadi roman yang asyik dibaca. Meski ia tidak menyediakan cukup suspense seperti yang biasa terdapat dalam beberapa roman Indonesia kontemporer untuk memelihara perhatian pembaca, Ajip justru menyediakan sebuah daya tarik yang lain: roman sebagai karya etnografis. Kehidupan desa kecil Jatiwangi tempat setiap orang bisa saling kenal, lengkap dengan kasak-kusuk dan adat istiadat yang mengikat, ditampilkan dalam sebuah rangkaian detail yang memikat. Upacara babarit (prosesi yang menandai tujuh bulan usia kehamilan seorang calon ibu), kepercayaan orang kampung terhadap takhayul, cerita saling silang hubungan keluarga yang disebabkan oleh hubungan poligami (dan poliandri) dideskripsikan Ajip dalam runtutan yang mengalir. Namun, di sinilah ciri ''kemudaan yang terlalu cepat matang" Ajip— seperti yang digambarkan A Teeuw—menjadi jelas: melalui tokoh utama roman ini, ia menjadi gagap dalam menghadapi berbagai hal yang menandai tradisionalitas masyarakatnya. Ada keinginan untuk memberontak terhadap berbagai adat istiadat yang tidak masuk akal, tapi toh akhirnya ia kalah dalam menghadapinya. Dalam cerita tentang pesta perkawinannya, Ajip seperti ingin mengejek. ''Ia pun mengenakan pakaian yang menimbulkan geliku. Hampir-hampir tawaku meledak melihat bakal istriku berbedak begitu tebal dan berbaju hitam dengan kain yang tampak sangat kaku itu," tulis Ajip. Tapi perkawinan ini pun dilakoninya sampai tamat. Ketika ia menjelaskan dengan nada sinis tentang neneknya yang berobat ke dukun, Ajip justru menutup bagian ini dengan cerita tentang sembuhnya sang nenek. Apa yang dilakukan Ajip ini memang menandai sebuah pergulatan dan kegelisahan anak muda yang sedang berupaya menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Pilihan untuk memenangkan modernitas yang ditanamnya dalam tokoh ''aku" diperlakukan secara ambivalen. Ia memiliki keraguan: ia ingin dimenangkan, tapi ia juga percaya apa yang ditentangnya juga punya hak untuk hidup. Tentu saja, sikap ini bukan yang dengan sengaja dipilih untuk menggambarkan betapa realitas masyarakat sesungguhnya merupakan sesuatu yang ambigu, tapi sikap ini lebih menunjukkan sikap ''aku" sebagai sosok yang belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Adakah Ajip menggambarkan dirinya sendiri dalam Perjalan Penganten? A Teeuw dalam kata pengantarnya menyebut bahwa ada sifat biografis dalam novel ini. Dan, meski tidak selalu ada korelasi antara biografi pengarang dan karyanya, Perjalanan Penganten bagi pembaca masa kini mestinya bisa dimanfaatkan untuk menandai perjalan kepengarangan seorang Ajip. Sebuah sejarah, juga catatan penting tentang bagaimana sastra, juga sebuah etnografi, pernah ditulis dengan apik oleh seorang remaja berusia 18 tahun. Arif Zulkifli

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Perjalanan (Penganten) Ajip Rosidi

Catatan Pinggir

1955

Fotografi

Puisi dalam Foto Tak Berbingkai

Tari

Ketika Tari Menjadi Cermin Realita

Televisi

Sebuah Pesan, Sebuah Hiburan

TEMPO|interaktif

Top Scorer Tak Menjamin Gelar Juara

Nasional

Pencuri 5 Kilo Beras Keluar Penjara Jember

Nasional

Bocoran TrioMacan2000: dari Korupsi sampai Sukhoi

Nasional

99,5 Persen Siswa SMA Lulus Ujian Nasional  

Nasional

TrioMacan2000 Ternyata Takut Istri  

Nasional

Konflik Keraton Surakarta Dibawa ke Jalur Hukum  

Bisnis

Tri Bayan Tirta Targetkan Dana IPO Rp 250 Miliar

Nasional

Tangani Pemabuk, Polisi Tuban Babak Belur Dikeroyok

Nasional

Usai Rujuk, Raja Surakarta Ditolak Masuk Keraton  

Nasional

Subkontrak Proyek Alkes Melanggar Keppres  

Bisnis

Pertamina Bangun SPBU Bergerak di Kalimantan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif