• Home
  • 23 Maret 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 Maret 1999

    Puisi dalam Foto Tak Berbingkai

    PEREMPUAN itu memotret apa saja: Bayang-bayang daun yang jatuh di lantai, kursi, lelaki bertelanjang dada, anak-anak, cakrawala, jalanan, rumah kunci yang berkarat. Semuanya. Dia memotret dengan sudut-sudut bidik yang kuat, benda dan peristiwa sehari-hari yang direkam dalam gambar-gambar yang lirih. Puitis: serangkaian foto hitam putih yang bercerita tentang banyak hal. Hampir tanpa tepi. Pameran 37 foto karya Iin Rinasari di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dengan judul "Selarik Rasa, Sekejap Mata" pekan lalu itu memang mengesankan foto yang terserak. Ada kesan, fotografer yang masih mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta itu ingin membuka wilayah interpretasi terhadap karya fotografi seluas-luasnya. Setiap hal yang ingin dipotret segera direkamnya tanpa beban dan karena itu ia menghasilkan sebuah karya yang terasa mengalir. Tapi inilah konsekuensi sebuah karya yang dilakukan seperti orang bergumam. Karyanya tidak menyediakan referensi yang cukup bagi khalayak untuk berinteraksi dengan sang fotografer. Foto-foto tak diberi judul atau sekadar keterangan lokasi pemotretan. Beberapa frame yang dibiarkan kosong melompong tanpa gambar juga mempertegas bahwa foto-foto yang dipamerkan kali ini sungguh sebuah karya yang terpencil. Jauh. Akhirnya, tafsir khalayak terhadap karya Iin diserahkan sepenuhnya kepada pengalaman individual terhadap realitas visual yang ditangkap Iin. Seperti sebuah puisi, karya ini ingin memiliki peluang untuk diinterpretasi ulang terus-menerus. Setiap kali dipandang, setiap kali muncul tafsir baru. Sampai di sini tidak ada karya Iin yang bermasalah. Persoalannya, bagaimanapun, foto—sebagaimana puisi—tetap membutuhkan "bingkai" untuk menandakan "wilayah" yang sedang digambarkan. "Tanda-tanda" itulah yang akan membimbing orang lain di luar fotografer, atau penyair, untuk mengeksplorasi saraf interpretasinya dalam memberi tafsir terhadap sebuah karya. Tanpa itu, khalayak seperti melihat padang tak bertepi. Sebuah karya yang telah diberi "garis pinggir" tidak otomatis menjadi karya yang tertutup atau karya yang sempit. Puisi-puisi yang diberi embel-embel dedikasi (untuk HJ, dalam puisik Goenawan Mohamad atau seperti sering kita lihat dalam puisi Indonesia modern) tidak kemudian menjadi puisi yang personal. Dedikasi itu pun tetap mampu membuka peluang untuk diinterpretasi pula secara lapang. Bukankah sebuah puisi yang paling "gelap" pun tetap membutuhkan judul? Apa boleh buat, pameran foto ini, meski menarik dan tajam secara teknis, ia kehilangan fokus perhatian. Ia telah menjadi foto-foto tak berbingkai. Arif Zulkifli

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Perjalanan (Penganten) Ajip Rosidi

Catatan Pinggir

1955

Fotografi

Puisi dalam Foto Tak Berbingkai

Tari

Ketika Tari Menjadi Cermin Realita

Televisi

Sebuah Pesan, Sebuah Hiburan

TEMPO|interaktif

Polda Terjunkan 2.500 Personil di Laga Inter Milan

Top Scorer Tak Menjamin Gelar Juara

Nasional

Pencuri 5 Kilo Beras Keluar Penjara Jember

Nasional

Bocoran TrioMacan2000: dari Korupsi sampai Sukhoi  

Nasional

99,5 Persen Siswa SMA Lulus Ujian Nasional  

Nasional

TrioMacan2000 Ternyata Takut Istri  

Nasional

Konflik Keraton Surakarta Dibawa ke Jalur Hukum  

Bisnis

Tri Bayan Tirta Targetkan Dana IPO Rp 250 Miliar

Nasional

Tangani Pemabuk, Polisi Tuban Babak Belur Dikeroyok

Nasional

Usai Rujuk, Raja Surakarta Ditolak Masuk Keraton  

Nasional

Subkontrak Proyek Alkes Melanggar Keppres  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif