Kecemasan Hanya Milik Wanita?
Setidaknya ada empat versi iklan tersebut yang dimuat, yaitu tentang seorang karyawati beranak dua yang cemas karena kerusuhan dan kejahatan semakin marak, ibu rumah tangga beranak empat yang selalu cemas menunggu suaminya pulang, ibu seorang mahasiswi yang waswas setiap kali anaknya berangkat kuliah, dan nenek bercucu 10 yang berdoa agar terhindar dari rasa gelisah yang menghantuinya setiap hari.
Iklan-iklan yang didominasi warna hitam tersebut sesungguhnya cukup menarik dan enak dilihat, selain tepat dimunculkan saat ini, tatkala semua orang merasa cemas dengan situasi yang tidak menentu. Maka apa yang ditulis di iklan tersebut langsung diamini oleh pembaca. Dan, setelah itu, pembaca diharapkan terbujuk memakai produk pengiklan agar kecemasannya (sedikit) berkurang.
Petikan feature Kompas dan pemuatan foto "bintang iklan" yang namanya ditulis lengkap (nonartis) rupanya disengaja untuk menampilkan (memotret) apa yang tengah terjadi dan dirasakan masyarakat. Kecemasan masyarakat diwakili oleh kecemasan keempat perempuan dalam iklan itu.
Yang agak janggal adalah keempat tokoh yang ditampilkan semuanya perempuan. Mengapa? Apakah karena kecemasan dianggap oleh pembuat iklan sebagai sifat perempuan? Apakah karena perempuan dianggap sebagai makhluk yang punya rasa cemas lebih tinggi dibandingkan dengan lakilaki?
Kecemasan sesungguhnya milik seluruh masyarakat. Kecemasan ada di sekujur hati semua orang, lalu dipompa jantung yang berdebardebar hingga menyebar ke segenap pembuluh darah yang menghidupkan tubuh.
Kecemasan bukan milik perempuan saja. Kecemasan dirasakan pula oleh laki-laki. Kecemasan juga bukan milik orang kota atau orang kaya saja. Kecemasan dirasakan oleh seluruh penduduk negeri ini.
Heri Winarko Mahasiswa Komunikasi UGM Jalan Sosioyustisia 02, Kampus Bulaksumur Yogyakarta 55281
