• Home
  • 23 Maret 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 Maret 1999

    Ketika Tari Menjadi Cermin Realita

    SEBUAH kafe, studio penyiar radio, ruang keluarga dengan piano yang berdenting. Tiga ruang yang terpisah: tak saling mengenal. Mungkin asing. Di kafe itu ada perjanjian untuk bertemu, tapi tak jelas apakah akan ditepati. Di studio, penyiar berceloteh, tapi kata-kata telah lama menguap. Denting piano bernyanyi, tapi entah untuk siapa. Ketiganya seperti menyiratkan betapa di sebuah kota besar, keterasingan, juga sepi, bisa menyergap siapa pun. Sound of Silence, karya tari ciptaan Rusdy Rukmarata, salah satu karya yang dipentaskan dalam pagelaran tari di bawah tajuk "Respons Seniman Tari atas Realita" di Taman Ismail Marzuki dua pekan lalu, menggambarkan bagaimana kesepian kaum urban adalah sebuah keniscayaan. Rusdy, yang berlatar belakang balet, mampu mengisi panggung dengan gerak-gerak gelisah yang ulet. Ornamen kafe, kursi-kursi pelayan dan minuman, memberi aksentuasi pada gerak Rusdy—semuanya seperti memberi konteks. Namun, kekuatan pementasan ini tidak hanya terletak pada gerak badan pimpinan sanggar tari Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) itu. "Puisi-puisi" Sudjiwo Tedjo yang berperan sebagai penyiar radio dan piano Dian A.G.P. dalam ramuan tari Rusdy juga memperkuat kesan sepi yang larut tadi. Tedjo, yang memang pernah jadi penyiar radio ketika ia tinggal di Bandung, itu memang piawai memberi kesan malam yang jauh pada keseluruhan pementasan. Keindahan yang diciptakan Rusdy, Tedjo, dan Dian A.G.P. ini bersanding dengan karya Miroto berjudul Kidung Wengi. Diilhami oleh patung-patung Buddha tak berkepala di pucuk Borobudur, Miroto, yang malam itu bertelanjang dada dan mengecat hitam seluruh kepalanya, seolah hendak mengejek manusia yang hidup di zaman yang edan seperti sekarang—manusia-manusia tanpa kepala. Tubuh telah menjadi ornamen organik semata, tanpa kepala yang menjadikan tubuh itu tidak cuma onggokan daging. Secara estetis, apa yang ditampilkan pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini memang menarik. Ketika panggung dibuka sementara cahaya lampu redup, Miroto benar-benar seperti tubuh tak berkepala. Eksperimen yang sebenarnya sederhana ini telah memberikan efek visual yang kuat. Panggung yang lengang seperti dikuasai oleh sosok asing. Kepada sosok asing itulah mata penonton seperti disihir untuk tak mengejap. Terlebih lagi, Miroto mampu membawakan gerak tari yang halus sekaligus bergetar. Ia memang banyak belajar tari dari berbagai sumber—dari Sardono W. Kusumo sampai Daniel Nagrien—sehingga gerak yang dihasilkannya adalah gerak yang kaya: perpaduan antara kehalusan tari Jawa dan gerak ritmis yang energetik. Perpaduan ini mampu memberi kesan bahwa apa yang telah dilakukan Miroto sesungguhnya tidak sekadar sebuah gerak tari. Ia telah mengubah gerak menjadi roh, menjadi alat ekspresi yang subtil. Dua tarian lainnya, Proyeksi Signal karya Andi Abubakar dan Uang karya Djoko H.M., dibandingkan dengan karya Miroto dan Rusdy memang jadi kehilangan elan. Uang menarik karena diperkuat oleh musik etnik yang matang. Derap gerak yang dihasilkan koreografer Djoko H.M. tidak berhasil menciptakan kesan cibiran terhadap materialisme seperti yang diniatkannya. Sementara itu, Proyeksi Signal, meski memiliki ide yang kuat, tidak didukung oleh penari yang mumpuni. Ada kesan, ide besar tentang proyeksi pesan masa lampau itu tidak mampu tertampung dalam tarian berdurasi sekitar setengah jam. Akibatnya, ada penumpukan ide. Kain-kain warna-warni, yang pada pertengahan pertunjukan tertusuk pisau, tidak mampu memberikan aksentuasi yang memikat. Walhasil, melihat rentang mutu pertunjukan tari yang begitu beragam seperti ini, respon seniman atas realitas memang tak cuma tergantung pada kepekaan mereka dalam menyerap realitas tersebut. Satu hal yang tak kalah penting: bagaimana realitas itu ditafsirkan dan diwujudkan ke dalam karya seni yang menarik dan indah secara estetis. Tanpa itu, karya seni mungkin tidak banyak beda dengan pidato politik seorang kader partai. Arif Zulkifli

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Perjalanan (Penganten) Ajip Rosidi

Catatan Pinggir

1955

Fotografi

Puisi dalam Foto Tak Berbingkai

Tari

Ketika Tari Menjadi Cermin Realita

Televisi

Sebuah Pesan, Sebuah Hiburan

TEMPO|interaktif

Nasional

Kasus Ijazah Bupati Madiun Ditangani Polisi  

Polda Terjunkan 2.500 Personel di Laga Inter Milan

Top Scorer Tak Menjamin Gelar Juara  

Nasional

Pencuri 5 Kilo Beras Keluar Penjara Jember  

Nasional

Bocoran TrioMacan2000: dari Korupsi sampai Sukhoi  

Nasional

99,5 Persen Siswa SMA Lulus Ujian Nasional  

Nasional

TrioMacan2000 Ternyata Takut Istri  

Nasional

Konflik Keraton Surakarta Dibawa ke Jalur Hukum  

Bisnis

Tri Bayan Tirta Targetkan Dana IPO Rp 250 Miliar

Nasional

Tangani Pemabuk, Polisi Tuban Babak Belur Dikeroyok

Nasional

Usai Rujuk, Raja Surakarta Ditolak Masuk Keraton  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif