• Home
  • 23 Maret 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 23 Maret 1999

    Sebuah Pesan, Sebuah Hiburan


    Ingat Saudara
    Kelak di kemudian hari
    Negeri kita
    ada perubahan
    Yang memegang pemerintahan
    jangan keliru
    Berhati-hatilah saat pemilu......

    Ini sebuah pendidikan, mungkin bisa juga disebut hiburan, atau juga sebuah renungan. Tembang Jawa yang dinyanyikan dengan lirik berbunyi "imbauan" ini adalah salah satu dari sembilan rangkaian iklan layanan masyarakat produksi Kelompok Kerja Visi Anak Bangsa yang ditayangkan di enam televisi di Indonesia.

    Iklan layanan masyarakat ini menampilkan seorang lelaki Jawa yang bersila dan nembang dengan teks bahasa Indonesia. Dengan adegan yang statis seperti itu, mata penonton lebih terkonsentrasi pada teks bahasa Indonesia dan tembang Jawa itu, yang menekankan sebuah arah yang kita inginkan di negeri ini: demokrasi. "Kami menginginkan pesan ini membangkitkan kesadaran politik masyarakat Indonesia," tutur Garin Nugroho, yang menyutradarai kesembilan iklan layanan masyarakat ini. Garin tergabung dalam Kelompok Kerja Visi Anak Bangsa, yang terdiri atas Debra H. Yatim, Yanti B. Sugarda, dan Agus Pambagio, yang didukung oleh kelompoknya masing-masing. Kesembilan iklan ini, yang sebagian sudah ditayangkan di televisi, memang menarik?bukan hanya karena ini sebuah "pesan sponsor" yang tidak terasa sebagai pesan sponsor, tapi juga karena ia dikemas dengan sentuhan sinematik yang rapi dan dialog yang wajar.

    Garin memulai hampir setiap adegan dengan mainan jigsaw-puzzle yang melambangkan beragamnya masyarakat Indonesia. Lalu adegan berikutnya bisa beragam, bergantung pada target penontonnya. Ada lagi, juga dalam bentuk oral, visualisasi doa Dayak yang berisi keinginan arah bangsa Indonesia di masa depan. Ada lagi edisi dialog sekelompok remaja perempuan yang mempertanyakan pilihan mereka saat pemilu ("Aku sih lain. Boleh, kan?"); atau seorang lelaki yang dicukur bertanya kepada tukang cukurnya, partai mana yang akan dipilih, dan kamera bergerak menyorot rekannya yang menekankan bahwa kini bukan zamannya dipaksa-paksa lagi. Dalam edisi lain, ada sepasang remaja perempuan yang asyik berceloteh dalam bahasa khas remaja karena bingung mengisi waktu luang. Seekor gajah nyelonong melalui jendela menyampaikan sebuah surat berisi "Jangan lupa pendaftaran pemilu."

    Hampir semua rangkaian penyajian pesan ini terasa sangat membumi dan menyentuh persoalan mendasar negeri ini dengan cara yang amat sederhana dan kalimat yang pas. Bahkan lagu Pemilihan Umum yang biasa berkesan formal?dan, sori saja, membosankan?itu tiba-tiba terdengar begitu ramah dan akrab ketika dinyanyikan dalam versi keroncong sambil berjoget.

    Tentu saja penyajian yang "membumi" ini tidak lahir begitu saja. Menurut Garin, sebelum film iklan itu mulai dibuat, Kelompok Kerja Visi Anak Bangsa melalui sebuah proses yang panjang. Ini dimulai dengan mengundang 25 pemikir di bidangnya masing-masing sebagai kelompok think tank yang merumuskan persoalan di Indonesia saat itu. Dari mereka, muncul beberapa aspek penting, antara lain tentang pendidikan politik, hubungan antar-etnik dan agama, dan bahasa kekerasan. Hasil diskusi para pemikir ini kemudian diolah oleh kelompok kerja dan dilemparkan oleh polling center?dipimpin oleh Yanti Sugarda?untuk menjadikan anggota masyarakat (misalnya ibu rumah tangga, mahasiswa, anak jalanan, dan penganggur) sebagai think tank yang melahirkan gagasan, ide, atau kata-kata. Karena itu, menurut Garin, banyak dialog yang digunakan dalam film iklan itu memang asli diambil dari pemikiran anggota masyarakat yang diajak berdiskusi.

    Untuk pembuatan film ini, menurut Debra Yatim, mereka melibatkan sekitar 30 pihak, antara lain United States Agency for International Development (USAID) yang ikut menyumbangkan dana. "Ongkos produksi film ini kurang lebih menghabiskan Rp 800 juta," tutur Debra. Maklum, lokasi syutingnya memang banyak diambil di beberapa kota di Indonesia timur.

    Tentu saja kelompok kerja ini beserta para pemikir di belakangnya tidak berpretensi menuntut semua pemirsa serta-merta menjadi pemilih yang aktif dalam pemilu yang akan datang. "Paling tidak, kami mengharapkan adanya kesadaran tentang hak masyarakat dalam pemilu," tutur Debra. Ternyata, setelah diadakan sebuah studi oleh Yanti Sugarda, memang iklan layanan ini cukup mengena pada penonton. "Kami mengadakan studi penerimaan masyarakat terhadap iklan ini, antara lain, berdasarkan recall rate (tingginya angka ingatan masyarakat terhadap iklan tersebut). Dan ternyata iklan layanan edisi anak jalanan paling banyak diingat," ungkap Debra.

    Ini memang sebuah hasil kerja keras yang panjang (yang masih akan berlanjut). Pesan itu?di tangan kelompok ini?tidak jatuh sebagai sebuah khotbah, tapi menjadi sebuah "hiburan" yang kemudian melekat dan (mudah-mudahan) menggerakkan hati masyarakat.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Perjalanan (Penganten) Ajip Rosidi

Catatan Pinggir

1955

Fotografi

Puisi dalam Foto Tak Berbingkai

Tari

Ketika Tari Menjadi Cermin Realita

Televisi

Sebuah Pesan, Sebuah Hiburan

TEMPO|interaktif

Nasional

Kasus Ijazah Bupati Madiun Ditangani Polisi  

Polda Terjunkan 2.500 Personel di Laga Inter Milan

Top Scorer Tak Menjamin Gelar Juara  

Nasional

Pencuri 5 Kilo Beras Keluar Penjara Jember  

Nasional

Bocoran TrioMacan2000: dari Korupsi sampai Sukhoi  

Nasional

99,5 Persen Siswa SMA Lulus Ujian Nasional  

Nasional

TrioMacan2000 Ternyata Takut Istri  

Nasional

Konflik Keraton Surakarta Dibawa ke Jalur Hukum  

Bisnis

Tri Bayan Tirta Targetkan Dana IPO Rp 250 Miliar

Nasional

Tangani Pemabuk, Polisi Tuban Babak Belur Dikeroyok

Nasional

Usai Rujuk, Raja Surakarta Ditolak Masuk Keraton  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif