Meninggal
PENDENGAR setia RRI atau pemirsa TVRI tentu ingat dan pernah menikmati suara baritonnya. Si pemilik suara tersebut, Sambas Mangundikarta, pada Selasa 30 Maret 1999 lalu telah dipanggil Al Khalik. Daddy, sapaan akrab untuk Sambas, bapak delapan anak, ini meninggal pada usia 73 tahun.
Sebelumnya, Almarhum sempat dirawat di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Pusat, karena mengidap kanker paru-paru dan sesak napas. Kendati dokter berusaha merawatnya, penyakit pencipta lagu Manuk Dadali ini tak kunjung sembuh. Sambas akhirnya memilih dirawat di rumah hingga akhir hayatnya.
Semua orang merasa kehilangan. Mereka rindu dengan suara khasnya yang terakhir muncul dalam acara kejuaraan bulu tangkis dan pertandingan sepak bola Piala Eropa 1996 lalu. Sejumlah kerabat TVRI dan pejabat Departemen Penerangan tampak melayat di rumah duka di Jalan Kemandoran 8 No. 96, Kompleks TVRI, Jakarta Barat.
Sambas lahir di Bandung pada 21 September 1926. Lebih dari separuh hidupnya diabdikan untuk dunia siaran. Sebelum bergabung dengan TVRI (1962), ia mengawali karirnya sebagai petugas Radio Perjuangan Jawa Barat di Subang, yang didirikan bersama almarhum Dr. Mustopo. Selanjutnya, ia bergabung dengan radio di Madiun (1949-1952), dan menjadi penyiar RRI Bandung (1952).
Sambas pensiun dari TVRI pada 1982, tapi Presiden Soeharto waktu itu, melalui Menteri Penerangan Harmoko, memanggilnya kembali bertugas. Ia dianggap sukses membawakan acara dari desa ke desa yang setiap minggu ditayangkan di TVRI. ''Sebuah acara yang sangat bermanfaat dan merupakan alat komunikasi paling efektif," ujar almarhum suatu ketika.
Kini, penyiar radio andal itu telah pergi. Selamat jalan, Daddy.
***
Salah seorang ahli hukum agraria di Indonesia, Prof. Dr. Adi Putera Parlindungan, S.H., 71 tahun, telah pergi untuk selamanya. Senin, 29 Maret 1999 lalu, guru besar hukum agraria di Universitas Sumatra Utara itu meninggal di Rumah Sakit Gleanegles, Medan, akibat pendarahan pada lambung dan saluran pencernaannya.
Mantan wartawan Suluh Merdeka Pematangsiantar ini sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elisabeth, Singapura, selama dua minggu.
Parlindungan memang bisa dibilang datang dari ''keluarga pertanahan". Hampir semua saudaranya bergelut di bidang pertanahan. Bahkan, ayahnya, yang ketika zaman Belanda pernah menjabat Kepala Urusan Tanah di Medan dan Aceh, acap bercerita kepadanya tentang pertanahan. Namun, tak satu pun dari keempat anaknya yang tertarik pada bidang ini.
| Penghargaan |
Barangkali dunia perfilman Indonesia akan bangkit kembali seperti pada 1970-an, setelah Presiden Habibie berjanji akan menghapus pajak tontonan dan memberikan bantuan kepada insan film. Janji itu disampaikan Habibie ketika memberikan sambutan pada acara Hari Film Nasional di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 30 Maret 1999.
Pada kesempatan itu pula, Presiden memberikan penghargaan kepada insan film, antara lain Misbach Yusa Biran, 56 tahun, yang mendapat tanda kehormatan Satyalencana Pembangunan. Kepala Sinematek Indonesia ini dianggap berjasa membangun perpustakaan film Indonesia, yang terbaik di Asia. Sementara itu, penulis skenario dan sutradara Asrul Sani, artis Christine Hakim, dan sutradara Garin Nugroho mendapat Satyalencana Wirakarya.
Pada kesempatan itu pula, Habibie secara jujur mengatakan bahwa selama ini ia belum pernah menonton film Indonesia sehingga tidak tahu bagian mana yang perlu dibantu. Karenanya, ia berharap untuk diundang menonton film Indonesia.
