• Home
  • 06 April 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 06 April 1999

    Meninggal

    PENDENGAR setia RRI atau pemirsa TVRI tentu ingat dan pernah menikmati suara baritonnya. Si pemilik suara tersebut, Sambas Mangundikarta, pada Selasa 30 Maret 1999 lalu telah dipanggil Al Khalik. Daddy, sapaan akrab untuk Sambas, bapak delapan anak, ini meninggal pada usia 73 tahun.

    Sebelumnya, Almarhum sempat dirawat di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Pusat, karena mengidap kanker paru-paru dan sesak napas. Kendati dokter berusaha merawatnya, penyakit pencipta lagu Manuk Dadali ini tak kunjung sembuh. Sambas akhirnya memilih dirawat di rumah hingga akhir hayatnya.

    Semua orang merasa kehilangan. Mereka rindu dengan suara khasnya yang terakhir muncul dalam acara kejuaraan bulu tangkis dan pertandingan sepak bola Piala Eropa 1996 lalu. Sejumlah kerabat TVRI dan pejabat Departemen Penerangan tampak melayat di rumah duka di Jalan Kemandoran 8 No. 96, Kompleks TVRI, Jakarta Barat.

    Sambas lahir di Bandung pada 21 September 1926. Lebih dari separuh hidupnya diabdikan untuk dunia siaran. Sebelum bergabung dengan TVRI (1962), ia mengawali karirnya sebagai petugas Radio Perjuangan Jawa Barat di Subang, yang didirikan bersama almarhum Dr. Mustopo. Selanjutnya, ia bergabung dengan radio di Madiun (1949-1952), dan menjadi penyiar RRI Bandung (1952).

    Sambas pensiun dari TVRI pada 1982, tapi Presiden Soeharto waktu itu, melalui Menteri Penerangan Harmoko, memanggilnya kembali bertugas. Ia dianggap sukses membawakan acara dari desa ke desa yang setiap minggu ditayangkan di TVRI. ''Sebuah acara yang sangat bermanfaat dan merupakan alat komunikasi paling efektif," ujar almarhum suatu ketika.

    Kini, penyiar radio andal itu telah pergi. Selamat jalan, Daddy.

    ***

    Salah seorang ahli hukum agraria di Indonesia, Prof. Dr. Adi Putera Parlindungan, S.H., 71 tahun, telah pergi untuk selamanya. Senin, 29 Maret 1999 lalu, guru besar hukum agraria di Universitas Sumatra Utara itu meninggal di Rumah Sakit Gleanegles, Medan, akibat pendarahan pada lambung dan saluran pencernaannya.

    Mantan wartawan Suluh Merdeka Pematangsiantar ini sebelumnya sempat dirawat di Rumah Sakit Mount Elisabeth, Singapura, selama dua minggu.

    Parlindungan memang bisa dibilang datang dari ''keluarga pertanahan". Hampir semua saudaranya bergelut di bidang pertanahan. Bahkan, ayahnya, yang ketika zaman Belanda pernah menjabat Kepala Urusan Tanah di Medan dan Aceh, acap bercerita kepadanya tentang pertanahan. Namun, tak satu pun dari keempat anaknya yang tertarik pada bidang ini.

    Penghargaan

    Barangkali dunia perfilman Indonesia akan bangkit kembali seperti pada 1970-an, setelah Presiden Habibie berjanji akan menghapus pajak tontonan dan memberikan bantuan kepada insan film. Janji itu disampaikan Habibie ketika memberikan sambutan pada acara Hari Film Nasional di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 30 Maret 1999.

    Pada kesempatan itu pula, Presiden memberikan penghargaan kepada insan film, antara lain Misbach Yusa Biran, 56 tahun, yang mendapat tanda kehormatan Satyalencana Pembangunan. Kepala Sinematek Indonesia ini dianggap berjasa membangun perpustakaan film Indonesia, yang terbaik di Asia. Sementara itu, penulis skenario dan sutradara Asrul Sani, artis Christine Hakim, dan sutradara Garin Nugroho mendapat Satyalencana Wirakarya.

    Pada kesempatan itu pula, Habibie secara jujur mengatakan bahwa selama ini ia belum pernah menonton film Indonesia sehingga tidak tahu bagian mana yang perlu dibantu. Karenanya, ia berharap untuk diundang menonton film Indonesia.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Berkah yang Tak Semua Diminati

Sari Berita dan Teori Konspirasi

Catatan Pinggir

Teror

Fotografi

Tubuh tanpa Roh Setelah Revolusi

Indonesiana

Kisah Kursi Gubernur

Tari

Tari Sederhana dan Tari Muluk

TEMPO|interaktif

Nasional

Raja Solo Masih Terkunci dalam Keraton

Nasional

10 Jam Dicecar KPK, Menteri Andi Bantah Terima Suap  

Olahraga

Main di Kandang, Persisam Kalah 0-1 atas Persiba  

Trio Macan Asli Penasaran dengan Akun @TrioMacan2000

Olahraga

Turun Minum, Inter Unggul 1-0 Atas Liga Selection

Nasional

Sabtu, Pengumuman Kelulusan SMA/SMK

Bisnis

Pameran Energi Terbarukan Digelar Juli  

Polisi dan Militer Tak Luput Dari Rekomendasi UPR  

Bisnis

Pertamina EP Bidik Produksi 18.000 Barel Minyak  

Nasional

Menteri Amir Persilakan Granat Menggugat  

Internasional

Taliban Racun 120 Siswi Sekolah Afganistan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif