• Home
  • 06 April 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Fotografi
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 06 April 1999

    Dibesarkan Sigit, Tommy, dan Nama-Nama Besar

    INI kado yang terlambat?dan mungkin menjengkelkan?untuk Djody Bambang Setiawan, yang populer dipanggil Setiawan Djody. Pada 15 Maret lalu, pemilik 100 persen Setiawan Djody & Co. itu genap 50 tahun, tapi dua minggu kemudian ia dituduh terlibat skandal. Menurut berita, dengan modal dengkul, PT Setdco Megacell Asia, salah satu anak perusahaan Setdco, mendapat lima persen saham di PT Telkomsel. Djody, menurut kabar ini, bisa mendapatkan lima persen itu karena ia dianggap masuk "lingkar dalam" mantan presiden Soeharto. Tentulah Djody membantah keras. Ia mengaku justru disingkirkan oleh mantan presiden Soeharto karena mencetuskan ide revolusi kebudayaan pada 1981 dan dekat dengan Iwan Fals, penyanyi yang lagunya sarat kritik kepada penguasa itu. Cendana dianggapnya membonsai bisnis yang ia kembangkan. Bisnis angkutan minyak dan gas yang berkongsi dengan Pertamina dibatasi, dan jatahnya dialihkan ke perusahaan-perusahaan milik Cendana. Djody menyebut nama Permindo milik Bambang Trihatmodjo yang kemudian menjadi mitra bisnis kelas wahid Pertamina. Ketidakmulusan Djody dengan Cendana itu diceritakan sebuah sumber. Katanya, paspor Djody sempat ditahan selama setahun oleh Benny Moerdani, yang pada saat itu menjabat sebagai Asisten Intel Kepala Staf Umum ABRI, sehingga Djody tidak bisa ke mana-mana. Padahal, kata sumber lain, Benny dan Joop Ave-lah yang mempertemukan Djody dengan Keluarga Cendana. Mana yang benar, wallahualam. Hanya, Djody tak pernah lepas dari "orang-orang besar" dalam berbisnis sejak awal ia merintis usaha. Ketika Setdco didirikan pada 1974, Djody bermitra dengan Yanto Tjokropranolo, anak mantan Gubernur DKI Tjokropranolo. Mereka menyewakan dan menjual rumah mewah untuk orang asing di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Menurut Djody, kongsi itu gagal, kemudian keduanya menjadi rekanan Bina Marga sebagai pemasok alat-alat berat. Dua tahun kemudian, Djody mulai menjajaki bisnis kapal tanker. Kapal pertamanya diberi nama Lady Valena, berbobot 3.000 ton, seharga US$ 300 ribu. Pada waktu itu, Djody hanya punya duit US$ 200 ribu. Untunglah, kekurangan itu ditutup oleh James Wales, induk semang Djody ketika dia mengambil gelar master bidang ekonomi di University of Pennsylvania, Wharton, AS. Wales adalah pengusaha di bidang penerbitan dan industri pertambangan. Melalui Wales inilah Djody bisa kenal dekat dengan orang-orang penting seperti bekas Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger dan raja pedagang senjata Adnan Kashoggi. Pada 1976 itu, Djody mulai berkongsi dengan Sigit Harjojudanto di bisnis pengangkutan minyak dan gas. Kata sebuah kabar, Joop Ave-lah, mantan Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, yang memperkenalkan Djody dengan Sigit. Joop memang dekat dengan Djody. Joop adalah wali pernikahan (pertama) Djody di New York. Melalui Sigit, Djody mendapat kontrak dengan Pertamina untuk angkutan minyak Pertamina ke mancanegara. Tapi dengan Sigit juga Djody sempat terjegal skandal penggelapan minyak Pertamina. Hingga kini, bisnis kapal-kapal tanker Djody adalah yang paling menguntungkan. Ia mengoperasikan 16 kapal tanker di bawah bendera perusahaan PT Multi Setdco Shipping, PT Sarpindo Gloria Shipping, dan PT Setdco Elangjaya. Tak cukup bermain di tanker, Djody juga masuk ke sektor pertambangan emas, telekomunikasi, perkebunan kelapa sawit, dan tekstil. Sejauh ini, hoki Djody ada di bisnis tanker. Bisnis itulah yang membawanya kenal dengan Tung Chee-Hwa, pengusaha Hong Kong yang kini menjadi Gubernur Hong Kong, setelah koloni Inggris itu kembali ke pangkuan Cina pada Juli 1997. Buah hubungan baik itu adalah proyek telekomunikasi di Hong Kong yang digarap Setdco Sino Ltd., perusahaan milik Djody dan anak Tung. Lewat jalur ini, Djody mengembangkan bisnis telekomunikasi dan serat akrilik di Cina Daratan. Setelah pecah dengan Sigit, sebenarnya hubungan bisnis Djody dengan Cendana tidak putus sama sekali. Pada 1993, Djody menggaet Hutomo Mandala Putra untuk rencana kerja sama memproduksi mobil merek Lamborghini di Indonesia, tapi bukan untuk jenis mobil balap yang mewah. Sebelumnya, Djody memang sudah membeli pabrik Lamborghini di Italia dari pemilik lamanya, Chrysler Corp., dengan nilai US$ 100 juta. Karena Djody tahu persis bahwa memproduksi mobil dengan merek baru di Indonesia tidak akan diizinkan, digandenglah Tommy. Tapi kongsi itu batal karena Tommy lebih tertarik membuat mobil nasional bekerja sama dengan KIA, Korea Selatan. Sebenarnya masih ada lagi dongeng tentang bisnis Djody. Yang paling anyar adalah keinginan Djody memberdayakan lahan gambut sejuta hektare di Kalimantan menjadi rice estate. Caranya? Belum jelas. Sebab, Djody memang senang berbisnis yang sifatnya avontur, seperti ketika dia membeli empat juta saham Vector Aeromotive Corp., produsen mobil balap AS, pada 1992. Djody memang menganggap bisnis sebagai hobi dan lebih merasa sebagai seniman. Bina Bektiati

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Meninggal

Buku

Berkah yang Tak Semua Diminati

Sari Berita dan Teori Konspirasi

Catatan Pinggir

Teror

Fotografi

Tubuh tanpa Roh Setelah Revolusi

Indonesiana

Kisah Kursi Gubernur

Tari

Tari Sederhana dan Tari Muluk

TEMPO|interaktif

Nasional

Raja Solo Masih Terkunci dalam Keraton  

Nasional

10 Jam Dicecar KPK, Menteri Andi Bantah Terima Suap  

Olahraga

Main di Kandang, Persisam Kalah 0-1 atas Persiba  

Trio Macan Asli Penasaran dengan Akun @TrioMacan2000

Olahraga

Turun Minum, Inter Unggul 1-0 Atas Liga Selection

Nasional

Sabtu, Pengumuman Kelulusan SMA/SMK

Bisnis

Pameran Energi Terbarukan Digelar Juli  

Polisi dan Militer Tak Luput Dari Rekomendasi UPR  

Bisnis

Pertamina EP Bidik Produksi 18.000 Barel Minyak  

Nasional

Menteri Amir Persilakan Granat Menggugat  

Internasional

Taliban Racun 120 Siswi Sekolah Afganistan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif