| REVOLUSI #9 | ||
| Karya | : | Sembilan Mahasiswa ISI Yogyakarta |
| Tempat | : | Galeri Foto Jurnalistik Antara |
| Waktu | : | 23 Maret-4 April 1999 |
PADA mulanya adalah kejenuhan. Sejumlah mahasiswa fotografi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta merasa bosan karena sekolah hanya mengajarkan bagaimana memotret Candi Prambanan dengan baik. Obyek yang monoton membangun keinginan untuk mencari terobosan baru.
Maka, lahirlah Revolusi #9. Diprakarsai oleh sembilan mahasiswa ISI itu, pameran foto yang digelar di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) pada 23 Maret hingga 11 April 1999 ini menyajikan foto-foto dengan obyek yang lain: tubuh yang bugil. Tentu saja, tak semua foto yang dipamerkan berkisah tentang ketelanjangan. Foto-foto yang disajikan para perupa foto muda itu juga menyajikan obyek yang lain, misalnya mobil, adegan operasi pada sebuah rumah sakit, atau seonggok tubuh yang direkam dari kejauhan. Tubuh dan ketelanjangan muncul utuh dalam slide yang disajikan kepada pengunjung GFJA, Sabtu dua pekan lalu.
Dalam pemutaran slide, Indra, salah satu peserta pameran, misalnya, menyajikan foto-foto perempuan dengan tubuh yang berselimut cat dalam berbagai sudut bidik. Beberapa karya J. Ulis dan Angki Purbandono, yang diberi judul Antiintegrasi, memperlihatkan foto-foto perempuan melayang dengan latar belakang obyek dan aktivitas sehari-hari: jalan raya, gedung atau antena, juga pohon-pohon. Eko Bhirowo, yang mengambil judul Minimal Body, memperlihatkan tubuh perempuan dan laki-laki dari berbagai perspektif.
Secara umum, tidak ada gagasan yang kuat dari foto yang dipamerkan. Apa yang mereka sebut sebagai revolusi sesungguhnya baru mencapai tahap mendobrak tabu yang selama ini ditekankan masyarakat: tubuh dan ketelanjangan adalah obyek yang haram dalam seni fotografi, sementara dalam dunia seni rupaseni lukis, patung, atau instalasitema ketelanjangan sudah lebih lazim. ''Orang lebih sulit menerima ketelanjangan dalam fotografi dibandingkan dengan seni rupa karena foto dianggap lebih dekat dengan realitas," kata Ayu Utami, pembicara dalam diskusi yang mengantarkan pameran itu.
Namun, setelah dobrakan itu, kita memang belum bisa mendapatkan foto-foto dengan konsep yang jelas. Tubuh hanya diperlakukan sebagai ''realitas baru" semata, sementara makna tubuh itu kurang dieksplorasi. Tubuh-tubuh melayang karya J. Ulis dan Angki, misalnya, adalah permainan montase yang kering dan kurang menempatkan tubuh dalam proporsi yang dominan. Akibatnya, tubuh tidak (atau tepatnya belum) bisa menjadi representasi yang utuh dari obyek yang bernama manusia. Tubuh hanya menjadi organ fisik, dan ia kehilangan roh.
Kita, dalam pameran ini, belum bisa menemukan tubuh yang diperlakukan dalam sebuah konsep yang matang seperti yang dilakukan seniman-seniman Jerman pada masa Republik Weimar: tubuh sebagai obyek kekerasan, tubuh yang hancur, tubuh yang luka dan menyimpan rasa sakitsehabis perang.
Harus diakui, tidak semua foto itu miskin dalam gagasan. Satu dua foto dalam pameran ini adalah pengeculian. Embrio, karya Handoyo Susetiya, menggambarkan tubuh telanjang perempuan dewasa dalam posisi mirip bayi dalam rahim, memperlihatkan ide yang lumayan kaya. Ia ingin membalik siklus manusia bahwa dalam ketelanjangan, seorang dewasa pun bisa menjadi janin kembali dengan segala kemurniannya. Namun itu hanya pengecualian.
Apakah hal ini disebabkan karena kesembilan fotografer tersebut tersedak oleh ide besar revolusi yang mereka lontarkan? Boleh jadi. Dan, kalau ini benar, sesungguhnya mereka sedang mengkhianati semangatnya sendiri. Sebuah revolusisebuah ledakan besaryang tidak diisi oleh sesuatu yang berarti, maka yang muncul adalah pertanyaan: ''Lalu, untuk apa revolusi harus dicetuskan?"
Arif Zulkifli
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

