Impian yang Fana, Nestapa yang Kekal
"Rumah sudah kami jual karena kami memang berniat ikut transmigrasi," kata Buyadi, salah seorang dari mereka, seperti dikutip harian Republika kala itu. "Sekarang, saya terpaksa menumpang di rumah kakak ipar."
Buyadi dan kawan-kawan mewakili 1.000 calon transmigran dari wilayah itu. Mereka direkrut oleh Kantor Cabang Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) setempat. Tidak tanggung-tanggung, untuk menyukseskan impian Soeharto itu, AMPI memang bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Malang yang mengerahkan aparat tiap Muspika, berkampanye, dan mendaftar generasi muda yang berniat ikut transmigrasi.
Dan, sukses. Dalam waktu kurang dari enam bulan, pendaftar yang berminat melampaui target. Karenanya, panitia bahkan sempat membuat proses seleksi. Sebagian transmigran telah diberangkatkan. Namun, krisis ekonomi membuat pemberangkatan berikutnya tersendat.
Orang-orang seperti Buyadi panik. Uang hasil penjualan harta benda untuk bekal menuju "tanah impian" itu semakin tipis untuk bisa menopang hidup selama penantian.
Seandainya saja Buyadi tahu.? Dia mungkin akan lebih bersyukur tidak pernah berangkat sama sekali, betapapun kehilangan rumah memang menyakitkan.
Itulah kegetiran yang berawal dari mimpi indah. Tak hanya diimpikan menjadi lumbung padi yang kekal, proyek lahan gambut?jika benar dan lancar sesuai perhitungan awal?juga akan menjadi "metropolis pertanian". Sekitar 1,6 juta jiwa transmigran akan memenuhi kawasan itu, baik yang berasal dari Kalimantan sendiri maupun mereka yang datang dari Jawa.
Benih metropolis itu sudah mulai mekar, tapi segera punah kembali. Di bagian hilir, antara Sungai Mengkatip dan Barito, terbentang tanah gambut yang sejak dua tahun lalu telah diubah menjadi derah pemukiman transmigran. Kawasan pemukiman ini rencananya akan dipakai untuk menampung lebih dari 12 ribu kepala keluarga (KK) yang akan mendapatkan jatah masing-masing 2,5 hektare lahan siap olah. Kawasan ini terletak tepat di seberang Desa Dadahup dengan jalan masuk saluran sekunder kecil yang cukup untuk satu perahu motor saja.
Sungguh jauh benar apa yang terbayang dan apa yang terjadi di kawasan ini. Saluran air yang dibuat lurus-lurus itu ternyata menjadi penghubung antarunit pemukiman transmigran, selain jembatan, dan penghubung kawasan ini dengan dunia luar. Namun, pemukiman itu pada hakikatnya kini berubah menjadi pulau rendah di tengah genangan air.
Pagi itu, ketika bunyi mesin perahu motor pelan-pelan dimatikan, yang tersisa hanya kesunyian, sepi yang sebenar-benarnya sepi. Yang terlihat dari saluran itu hanya rumah-rumah bercat putih berbanjar rapi di kiri kanan, masjid, gereja, dan pasar yang cuma tinggal kerangka. Semuanya kosong tanpa penghuni.
Alang-alang tumbuh di mana-mana, seperti kota-kota hantu dalam cerita horor. Dermaga-dermaga rusak menghitam menjorok ke saluran, seperti putus asa tak pernah disinggahi perahu, hanya dipenuhi rumput teki. Menara penjernih air, jembatan penyeberangan, atau pohon pisang yang tumbuh tak terurus adalah pemandangan lain.
Di belakang tiap rumah itu ada tanah yang dulu dikira bisa memberikan harapan, sekarang terbengkalai ditumbuhi rumput dan tergenang air. Lahan itu dulu adalah beje, tempat orang Dayak memanen ikan setelah banjir. Yang utuh di tempat itu hanya papan pembatas dan penunjuk lokasi unit pemukiman. Yang tampak mata hanya saluran panjang sejauh mata memandang dan air di mana-mana. Jangan bicarakan soal pemeliharaan saluran karena sebagian sudah menyempit dan rusak terkikis air.
Namun, ternyata areal yang terbentang luas tanpa pohon itu bukan tanpa kehidupan. Beberapa transmigran ternyata masih bertahan, beberapa ekskavator ternyata masih bekerja walau proyek ini sedang dikaji ulang dan transmigran katanya tak akan ditambah lagi, dan beberapa warung masih buka walau untuk beberapa orang. Masih ada anak-anak sekolah dasar, meski dengan satu guru.
Sebenarnya tak ada yang tahan di tempat itu. Panen padi selalu gagal karena hama, palawija selalu busuk karena air meluap, dan tak ada yang bisa ditanam selain bunga-bungaan untuk menghibur. Tak ada listrik walaupun tiang dan kabelnya sudah terpasang, dan televisi hanya satu untuk ratusan orang. Jangankan hiburan, bekerja mengolah tanah pun menjadi sesuatu yang mewah karena telah lama putus asa.
Lindung Manurung telah merasakannya. Orang Batak ini datang di proyek lahan gambut itu dari Surabaya, awal tahun lalu. Dengan kulit legam terbakar matahari dan celana tentara sobek di sana-sini, ia bersemangat menceritakan apa saja yang dialami oleh dirinya dan teman-temannya di lokasi transmigran itu. "Tiga kali musim tanam aku sudah mencobanya, tapi selalu gagal karena serangan hama tikus," katanya.
Lindung berangkat ke Kalimantan setelah usahanya menjual buku-buku sekolah bangkrut. Namun, di Kalimantan, kebangkrutan lain menantinya. "Aku sekarang ngurus ayam dan pekarangan yang aku tanami dengan apa saja. Kadang-kadang semangka atau ubi. Pokoknya bisa makanlah."
Satu-satunya gantungan hidup Lindung kini adalah jatah hidup dari pemerintah: 50 kilogram beras, 3 kilogram gula, dan 3 kilogram kacang hijau, 3 potong garam, lauk-pauk berupa ikan kering, dan minyak sayur 5 liter setiap bulan?jatah yang menurut dia sering terlambat datang dan disunat oleh kepala unit pemukimannya. "Minyaknya kadang kurang," katanya. "Ikan keringnya hampir tak bisa dimakan, bahkan sudah seperti tepung saja."
Nasib M. Djuriansyah, pensiunan ABRI, tidak banyak berbeda. Transmigran asal Banjar (transmigran lokal) itu mengaku telah mencoba beberapa metode pertanian di lahan gambut, tapi tak satu pun yang berhasil.
Dia pernah mencoba membuat lahan percontohan tanaman padi dengan cara memakai plastik saat mau panen. Dia membeli plastik sampai Rp 350 ribu untuk mencegah tikus, tapi tidak berhasil juga dan habis dimakan tikus. "Menurut saya, kawasan ini serba tanggung karena kalau kita mau tanaman keras, terlalu banyak air; kalau padi, banyak hamanya," katanya.
Banyak transmigran tidak kerasan karenanya. Dari 55 KK asal Surabaya, misalnya, hanya tinggal Lindung yang bertahan. Beberapa desa transmigran itu kini mulai sepi, telantar, dan ditumbuhi ilalang.
Padahal, dulu mereka datang dengan semangat besar. Yetsi Ronjan, seorang kepala suku Dayak setempat, masih ingat betul bagaimana para transmigran datang pertama kali tiga tahun silam, dan mengolah sawah barunya dengan penuh semangat.
Namun, bertani di lahan gambut memang tidak mudah, dan tidak murah. Dan, kini ada sekitar puluhan ribu KK transmigran yang harus menanggung sengsara.
Dilihat dari berbagai segi, sulit mengatakan, apakah proyek lahan gambut ini punya masa depan. Namun, pilihan meneruskan atau mematikan proyek lahan gambut tetap mendatangkan kerugian. Walhi, yang semula garang meminta proyek ini ditutup, akhirnya mengalah demi alasan kemanusiaan karena para transmigran sudah telanjur hadir di proyek itu: lahan yang sudah telanjur dibuka sebaiknya diteruskan, sementara yang belum dikembalikan sebagai lahan konservasi.
Gunawan Satari, Ketua Tim Kaji Ulang Proyek Lahan Gambut, merekomendasikan kepada pemerintah agar proyek itu diteruskan, tapi dengan paradigma baru: dari pendekatan produksi ke pendekatan kemanusiaan dan komunitas.
Lahan gambut juga mungkin sama sekali tak berpengharapan. Bambang Setiadi dari Pusat Riset Gambut Tropika (Purigatro), sebuah lembaga penelitian di bawah BPPT, tetap yakin bahwa lahan gambut seluas 27 juta hektare di seluruh Indonesia bisa menjadi primadona pertanian masa depan. Apa yang salah dari proyek lahan gambut di Kalimantan Tengah, menurut dia, masih bisa dikoreksi dengan mengerahkan pendekatan lebih ilmiah, bukan pendekatan politik.
Melalui risetnya, Bambang menemukan pugas, senyawa penyubur gambut. Dia sudah melakukan percobaan selama 12 tahun di kawasan gambut Pontianak, dan menurut dia sukses. Dia berhasil memanen tiga ton jagung atau kedelai per hektare, dengan tiga kali panen setiap tahun. "Secara ekonomi, akan sangat layak," katanya.
Optimisme Bambang mungkin tidak kosong belaka. Namun, orang juga sudah mendengar optimisme serupa?optimisme Grup Sambu dan Soeharto?lima tahun lalu.....
