| Respon Seniman Tari atas Realitas | ||
| Produksi | : | IKJ Dance Company |
| Koreografer | : | Sukardji Sriman, Grace Susan, Indra Zubir, Wiwiek Sipala |
| Tempat dan waktu | : | Teater Utankayu, 26-27 Maret 1999 |
| Produksi | : | Fox 2000 |
SEORANG lelaki bersarung dan seorang perempuan berkebaya. Keduanya bergerak ketika cahaya lampu redup. Sang lelaki melakukan gerakan merayu, yang perempuan merajuk. Sang lelaki bergumam, sang perempuan bergumam. Sesekali keduanya berputar dalam gerak yang serempak. Namun, seketika, sang perempuan berteriak sehingga sang lelaki mematung. Inilah karya tari garapan Indra Zubir berjudul Insan yang dipentaskan di Teater Utankayu dua pekan lalu. Ia adalah sebuah relasi antarmanusia yang manusiawi. Hubungan antarjenis dalam sebuah lingkup domestik bernama keluarga disajikan tanpa pretensi. Dan, hasilnya, Indra yang malam itu merangkap sebagai penari laki-laki berhasil memotret dunia "kecil" itu dalam sebuah komposisi tari yang lengkap dan gayeng.
Pementasan Indra Zubir bersama empat koreografer lainnya di Teater Utankayu malam itu merupakan rangkaian kegiatan pementasan tari bertajuk "Respon Seniman Tari terhadap Realitas". Sebelumnya, paling tidak telah ada dua pementasan serupa yang digelar di Taman Ismail Marzuki. Namun, sebagaimana temanya, pada banyak karya para koreografer umumnya terjebak dalam tema besar "respon terhadap realitas" tersebut. Tampaknya, realitas ditafsirkan sebagai kenyataan sosial semata. Akibatnya, ada beban ide yang menekan. Dan, gerak tari terbelenggu dalam keharusan merespon kenyataan yang mahaberat tersebut.
Indra Zubir menyajikan realitas yang lain. Ia berhasil menyajikan tarian sebagai kesenian yang akrabjuga kocak. Simbolisasi persoalan melalui gerak tari disajikan tanpa kerumitan, sementara ia juga tidak terjebak menjadi verbal. Tari di tangannya menjadi kesenian yang tidak berjarak.
Empat tarian lainnya tampaknya belum lepas dari beban "berat" tema yang dijanjikan. Wiwiek Sipala dalam Sop Konro ingin mengemukakan tema besar optimisme manusia melawan badai krisis yang melanda negeri ini. Perlawanan disimbolkannya melalui kibaran bentangan kain putih yang dipadu dengan gerak ritmis yang bersemangat. Namun, dengan mengandalkan sembilan penari yang bergerak cepat di atas panggung yang luasnya terbatas, garapan itu menjadi berat.
Adalah Sukarji Sriman, melalui Biaswara, yang berhasil menyajikan garapan yang sublim. Peristiwa-peristiwa aktual, kekerasan, pengharapan terhadap keadilan, dan dominasi kekuasaan disajikan dengan gerak yang halus dan berjiwa. Sebelum panggung terang, tampak tiga perempuan berpakaian koyak-moyak mematung. Seorang lelaki berdiri tegap di pusat panggung. Ketiga perempuan mendekat, meraih dia, berpusing dalam lingkaran diikuti gerak yang seragam, terus ke atas dalam formasi yang mendesak-desak lalu ambruk. Inilah gambaran pesimistis Sukarji tentang pengharapan manusia menghadapi lingkungannya yang galau: manusia yang berusaha bangkit tapi gagal.
Sayang sekali, tari Perempuan karya Sukarji Sriman dan Penari dalam Ruang dan Waktu karya Grace Susan menunjukkan ide cerita yang terlalu muluk. Perempuan, yang ingin bercerita tentang kegalauan kaum hawa menyikapi perannya di zaman yang sedang berubah, terkesan individualistis. Sementara itu, Penari dalam Ruang dan Waktu mengesankan sebagai tari yang meletihkan karena beban ide yang berat dan juga karena tari ini dikemas dalam gerak yang banyak dan saling menumpuk.
Apakah tema-tema "besar" seperti respon seniman atas realitas masih perlu dipertahankan? Itu perlu dipikirkan kembali oleh para koreografer dan penari. Seniman tari toh tetap bisa merespon realitas tanpa harus dipaksa merespon realitas.
Arif Zulkifli
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

