• Home
  • 27 April 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Buku
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 27 April 1999

    Kesaksian atas Lia Aminuddin

    Berita TEMPO beberapa waktu lalu membuat saya datang ke Majelis Salamullah pimpinan Lia Aminuddin. Sebagai wartawan yang tinggal jauh dari Jakarta (baca: Kendari), saya tentu tidak begitu saja percaya pada berita tentang Lia di berbagai media. Saya ingin tahu keadaan yang sebenarnya, sambil mempelajari apakah pengakuan Lia?didampingi Malaikat Jibril dan Imam Mahdi?benar atau tidak. Apalagi setelah membaca berita TEMPO tentang Lia yang mengirim kartu ucapan Natal kepada ummat Kristiani dan bahkan memanjatkan doa bersama.

    Saya semula membayangkan jemaah Salamullah dan Ibu Lia sangat eksklusif dan ekstrem seperti tarekat dan jemaah aliran tertentu. Ternyata dugaan saya meleset. Lia adalah orang yang sangat ramah, mudah diajak bicara dan sederhana. Dia tidak dikultuskan oleh murid-muridnya, bahkan mengharamkan pengultusan terhadap dirinya.

    Dari penampilan ini saja, saya tertarik. Soalnya, saya juga pernah ikut sebuah taklim yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Zainab di Malaysia. Zainab juga mengaku didampingi Jibril dan mengaku sebagai Imam Mahdi serta mengaku salah seorang keturunan zad Nabi Isa. Tidak seperti Lia, Zainab sangat dikultuskan dan hidup mewah. Pengikut Zainab umumnya orang-orang intelek lulusan perguruan tinggi Islam di Timur Tengah. Tiap bulannya, ada iuran 50 ringgit. Pengajian ini akhirnya dibubarkan tahun l993 oleh pemerintah Malaysia.

    Ini sangat berbeda dengan Imam Mahdi Lia Aminuddin. Jemaahnya yang dianjurkan (tidak wajib) berpakaian putih-putih sangat beragam. Ada yang sangat terpelajar (lulusan dari universitas terkenal di AS) sampai ibu rumah tangga biasa. Ada yang sangat kaya, ada yang amat miskin dan tunanetra. Bu Lia tidak membeda-bedakan mereka kecuali ketakwaannya.

    Apa fakta bahwa Lia didampingi Jibril? Lihat ajaran-ajaran Jibril yang disampaikan melalui mulut Bu Lia, kemudian dicatat oleh jemaah Salamullah apa adanya (tak boleh diedit). Isinya: menekankan pada kemurnian tauhid. Bagi orang-orang Muhammadiyah atau kaum Wahabi, ajaran Jibril pas betul. Penekanan terhadap Keesaan Allah dan memaksimalkan kemampuan rasio untuk menjalani kehidupan sangat dipentingkan. Jibril sangat geram terhadap bangsa Indonesia yang membiarkan kemusyrikan merajalela. Ilmu kebal, susuk, isim, dukun, ramalan bintang, kerja sama dengan jin, dan lain-lain, yang menjerumuskan orang pada kemusyrikan. Para pemimpin Indonesia, khususnya Soeharto dan MUI, dianggap paling bertanggung jawab atas menjamurnya kemusyrikan di Indonesia ini.

    Ajaran Jibril sangat menekankan kesucian hati. Jemaah Salamullah, bahkan Lia sendiri, sering ditegur Malaikat Jibril jika mempunyai ambisi atau tujuan yang bukan karena Allah.

    Dan terakhir, dengarkan lagu-lagu yang dikarang Lia--wanita yang tak bisa membaca not balok dan tak mengerti musik. Sudah ada 140 lagu lebih yang dikarang Lia. Tiap lagu dikarang sampai sempurna musiknya tak lebih dari satu jam. Lagu-lagunya indah dan membawa hati ini terbang ke ?langit?.

    Apakah Ahmad Mukti itu Nabi Isa? Saat pertama saya datang dan berkenalan dengan Ahmad Mukti, rasanya biasa-biasa saja. Tak ada yang istimewa. Tapi saya jadi ingat kiai saya dulu di pesantren yang mengatakan, ??Kedatangan Nabi Isa sangat tersamar. Bahkan Isa sendiri tidak percaya bahwa dirinya adalah Isa,?? kata Kiai.

    Itulah kesaksian saya. Bagi orang-orang yang menghujat, selidikilah sampai tuntas, baru berkesimpulan.

    ACHMAD MUHTAZ
    Jalan Balai Kota No. 100 B2
    Kendari 93117


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Sumbangan Seorang Kiau-Seng untuk Republik Baru

Warisan Seorang Pendeta

Inforial

VisaTravelMoney dari Citibank

Televisi

Nasib Sebuah Sinetron Pesanan

Dan Sandy Nayoan Menjadi Juru Penerang

TEMPO|interaktif

Nasional

Di Yogya, Dahlan Iskan Ogah Bagi Sembako Gratis

Olahraga

Inter Milan Pukul Telak Liga Selection

Metro

John Kei Masuk Sel Tahanan Lagi

BIN Minta Semua Pihak Jaga Konser Lady Gaga

Nasional

Cekcok di Keraton Solo Jadi Tontonan Turis

Nasional

Serangan Ibas-Anas, Marzuki Minta Pers Tak Urusi Demokrat  

Metro

Tiap Bulan, Terjadi 10 Aksi Pelecehan Seksual di Depok

Nasional

Mahfud MD Minta Pemerintah Transparan Soal Corby  

Nasional

Romli: Grasi Corby Murni Kebijakan Politik

Olahraga

Tandang ke Sriwijaya, Persipura Optimistis Menang

Nasional

Raja Solo Masih Terkunci dalam Keraton  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif