• Home
  • 04 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Layar
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 04 Mei 1999

    Rp 53,5 Juta untuk Micky

    Kalau cinta melekat, tai kucing rasa cokelat. Itu kata penyanyi beken asal Surabaya yang kini tiada, Gombloh. Mungkin cinta seperti itulah yang kini hinggap di hati Martin Gondowijaya, pemilik toko onderdil kendaraan bermotor di Surabaya. Cintanya yang meluap-luap pada Micky membuat ia rela menghabiskan uang Rp 53,5 juta. Mohon jangan berpikir macam-macam dulu—misalnya bahwa Micky ini tipe cewek yang doyan morotin duit pacarnya. Micky hanyalah seekor burung merpati. Dan uang sebanyak itu dikeluarkan Martin untuk menebus Micky dalam acara lelang di Balai Lelang Tunjungan, Surabaya, pertengahan April lalu. Uniknya, si merpati—tak jelas jantan apa betina—adalah aset bank beku operasi. Yang jelas, tentunya Micky bukan merpati sembarangan. Burung dara yang bulunya berwarna "gambir selad nutup" ini adalah juara merpati di Surabaya berturut-turut sejak 1991 sampai 1995. Sepasang telurnya saja bisa laku Rp 2,5 juta. Itulah sebabnya meski angka pembukaan Micky dalam lelang itu "hanya" Rp 25 juta, harga penutupannya bisa melejit lebih dari dua kali lipat. "Bagi saya, Micky bisa membawa berkah," kata Martin kepada Jalil Hakim dari TEMPO. Tapi bukan hanya karena berkah kalau Martin tergila-gila pada Micky. Di Surabaya, merpati yang pernah jadi juara bisa dilego dengan harga Rp 40 juta. Harapan sarjana psikologi Universitas Surabaya itu, Micky bisa menetaskan telur-telur yang bisa jadi juara-juara baru hingga modal Martin bisa cepat kembali. Itulah sebabnya meski "sang pacar" sudah ditawar orang Rp 75 juta, Martin ogah melepasnya. Kini, Micky adalah penghuni kesayangan kandang burung Martin di antara 70-an ekor burung dara lainnya. Dan Martin—sang pencinta itu—mengunjungi mereka saban pagi dari pukul 6.00 sampai 9.00. Lalu, sebanyak lima hari tiap dua pekan dihabiskannya untuk latihan kecepatan dan kelincahan terbang, sejak siang sampai menjelang magrib. Untung, istri dan dua anaknya belum protes. Mungkin mereka maklum bahwa cinta bisa membuat orang gelap mata.

    Gembok untuk Kantor Gubernur
    RUMAH digembok pemiliknya itu biasa. Tapi kalau kantor gubernur digerendel massa, itu baru luar biasa. Begitulah yang terjadi pertengahan April lalu di Kantor Gubernur Jawa Barat, Gedung Sate, Bandung. Pelaku penggembokan adalah massa dari Gerakan Pemuda Islam (GPI), yang siang itu memang sedang melakukan aksi unjuk rasa. Mereka nekat menggembok kantor itu karena merasa kesal. Selama ini, usul mereka untuk melakukan dialog segi tiga (gubernur, DPRD Tingkat I Jawa Barat, dan GPI), selalu ditolak. Padahal dialog segi tiga ini dianggap penting untuk membahas dugaan korupsi, kolusi, dan nepotisme yang dilakukan oleh Gubernur Nuriana dalam beberapa proyek besar di Jawa Barat. Alasan DPRD menolak permintaan dialog itu adalah, semua permasalahan yang terkait dengan dugaan KKN yang dilakukan oleh Nuriana mesti dirampungkan secara konstitusional. Kendati ditolak, toh Ketua GPI Jawa Barat, Zaky Robby Cahyadi, bertekad meneruskan aksi mereka sampai Nuriana lengser. Apalagi, katanya, Departemen Dalam Negeri sebagai atasan gubernur sudah menyetujui usul dialog segi tiga itu. Walhasil, karena selalu membentur tembok penolakan, massa GPI pun berunjuk rasa sepanjang April lalu. Selain menggerendel, massa yang mencapai sekitar 200 orang itu juga menempelkan sejumlah poster berbagai ukuran di pintu gerbang yang terbuat dari besi kokoh. Poster-poster itu berbunyi antara lain "gedung ini disegel", "DPRD bungkam dan tak punya nyali", dan "DPRD jangan plintat-plintut soal Nuriana". Nuriana sendiri sedang tak ada di tempat ketika aksi penggembokan berlangsung. Petugas keamanan yang berjaga di depan pintu gerbang mengatakan bahwa Gubernur sedang ke luar kota. Sebelum berdemonstrasi di depan kantor gubernur, massa GPI sempat mampir ke Kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, yang berjarak sekitar satu kilometer dari Gedung Sate. Di sana, mereka ditemui oleh Asisten Intel Kejati Jawa Barat, Putu Wasa. "Kami datang ke sini untuk mengetahui apakah benar pihak kejaksaan telah mengusut Nuriana," ujar Zaky kepada Upik Supriatun dari TEMPO. "Dan, ternyata, kejaksaan belum melakukan penyidikan." Karena itu, kantor gubernur memang pantas digembok. Bukankah begitu, Bung?

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Catatan Pinggir

Diam

Indonesiana

Rp 53,5 Juta untuk Micky

Layar

Sebuah Jendela di Senja Hidup Pram

Wawancara Paramoedya Ananta Toer:

"Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja"

Cerita-cerita Pulau Buru:

Sejarah dan Nyanyi Burung Kedasih

TEMPO|interaktif

Pemimpin Jemaat HKBP Filadelfia Diancam Dibunuh

Nasional

Di Yogya, Dahlan Iskan Ogah Bagi Sembako Gratis

Olahraga

Inter Milan Pukul Telak Liga Selection

Metro

John Kei Masuk Sel Tahanan Lagi

BIN Minta Semua Pihak Jaga Konser Lady Gaga

Nasional

Cekcok di Keraton Solo Jadi Tontonan Turis

Nasional

Serangan Ibas-Anas, Marzuki Minta Pers Tak Urusi Demokrat  

Metro

Tiap Bulan, Terjadi 10 Aksi Pelecehan Seksual di Depok

Nasional

Mahfud MD Minta Pemerintah Transparan Soal Corby  

Nasional

Romli: Grasi Corby Murni Kebijakan Politik

Olahraga

Tandang ke Sriwijaya, Persipura Optimistis Menang

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif