Jalan hidupnya seperti lintasan roller coaster. Dari dinamo lekra yang penuh kuasa, menjadi paria Pulau Buru sepanjang Orde Baru, dan kini memperoleh pengakuan internasional yang kian tinggi. Bagaimana menempatkan tokoh paradoksal ini dalam peta sastra dan politik Indonesia?
Setelah 20 tahun tak menyentuh sepatu, Pramoedya Ananta Toer "terpaksa" mengenakannya untuk sebuah perjalanan jauh. Ke New York. Diiringi anggota Partai Rakyat Demokratik, keluarganya, wartawan asing dan lokal, serta kamera televisi asing yang merekam keberangkatannya ke Bandara Cengkareng, Pram melangkahkan kakinya—dalam rangka memenuhi undangan ke AS. Di sana Pram akan meluncurkan buku terjemahan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Ia mengenakan sepatu.
Tokoh-tokoh Pramoedya memang kalah dilanda sejarahnya, tapi sekaligus juga sanggup mengalahkan kekalahannya sendiri dengan mengatasi baik ketakutan maupun kesombongan untuk tidak menang.
"Heap of Ashes" Harry Aveling ternyata menyenangkan juga. Setiap terjemahan pasti ada kekurangannya. Hanya kaum perfeksionis yang menghendaki ketidakterbatasan atas kemampuan terbatas manusia, maka juga sangat terbatas langkah dan jejaknya. Apalagi kalau seseorang mencoba menerangkan tentang seseorang yang lain, maka manusia yang digambarkannya selalu bolong-bolong karena keterbatasan manusia juga untuk dapat memahami semua dan segala. Experdito credite!
(Dari Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, P.A.Toer, hal.197)