• Home
  • 11 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 Mei 1999

    Fotografi Pembebasan Frank Thiel

    Sebuah gerbang berwarna merah darah, TOR 1. Perangkat gerbang penjara yang kukuh ini adalah obyek karya foto berwarna fotografer Jerman, Frank Thiel, yang dipamerkan di Galeri Fotojurnalistik Antara, Jakarta Pusat, hingga akhir pekan silam. Thiel mengomposisikannya dalam simetri yang teliti, sementara perangkat elektronik—seperti perangkat pemanggil dan lampu untuk sirene—disertakan sebagai elemen visual yang melengkapi komposisi itu, sekaligus mengusik simetri tersebut. Tampaknya, Thiel memberikan perhatian khusus dalam menyajikan potret-potret dari gerbang-gerbang penjara yang sebenarnya merupakan ambang ke dunia yang represif. Hasil akhirnya tampak lebih seperti suatu poster hasil rancangan grafis ketimbang karya fotografi. Penjara memang menjadi bagian dari pengalaman hidup Thiel. Dilahirkan di dekat Berlin, Thiel dibesarkan di Jerman Timur. Karena kegiatan politiknya, sebelum lulus dari sekolah menengah atas, pada 1984, ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara selama satu tahun. Setelah itu, ia diperkenankan beremigrasi ke Jerman Barat setelah di-"beli bebas" sebagai bagian dari perjanjian ''Freikauf". Di Berlin Barat, ia melanjutkan sekolahnya. Dan di situlah ia tertarik pada karya-karya foto rekan sekelasnya sehingga minatnya pada fotografi terus berkembang. Runtuhnya Tembok Berlin pada 1989 memberi Thiel kesempatan untuk kembali ke tempat asalnya dan menginterpretasikan kenangannya tentang masa lalunya ketika ia masih hidup di dalam negara yang totaliter. Sebelum memotret gerbang penjara, ia mengabadikan benda lain yang tak kalah monumental, yaitu monumen-monumen yang megah dan indah yang merupakan lambang kekuasaan yang totaliter. Lambang yang begitu absolut dan abadi dalam penampilan tidak direpresentasikan oleh Thiel sebagai karya fotografi yang abadi. Sebaliknya, Thiel justru ''mengabadikan"-nya dalam format yang tak konvensional. Dalam karya M.E.L., yang dibuat pada 1990, ia menampilkan monumen Marx dan Engels secara terpilah dalam empat segmen. Kepala patung Marx—digambarkan dalam keadaan duduk—dipisahkan dari bagian tubuhnya yang lain oleh garis hitam gelap yang merupakan bagian bingkai eksposur segmen foto itu. Dalam segmen yang lain, tampak Engels sedang berdiri—tubuhnya juga dipilah bingkai gelap itu—sedangkan foto patung Lenin ditampilkan terpisah dari dua tokoh yang lain, tapi juga terpilah dalam dua segmen. Penggunaan segmen ini mirip dengan pemotretan foto panorama. Namun, dalam hal ini, tiap segmennya tidak dirapatkan, tapi justru dibiarkan terpisah oleh bingkai hitam gelap. Bingkai hitam gelap yang agak buram dalam foto-foto itu tampil sangat mengganggu. Dan tampaknya itu memang merupakan intensi Thiel. Dalam seri Gerbang Penjara, obyeknya ditampilkan dalam komposisi yang sangat simetris dan teliti, sehingga obyek yang begitu menjemukan bisa tampak menarik. Sementara itu, dalam seri Monumen, Thiel justru mengacaukan keindahan estetis dari karya-karya patung realis sosial menjadi citra yang mengganggu. Keindahan tetap menjadi perhatiannya. Seperti yang dikatakan Ute Eskildsen dalam pengantar katalog, Thiel tidak menampilkan tugu-tugu di Jerman Timur sebagai bukti dari masa lalu, tapi justru sebagai obyek yang tidak mudah diabadikan. Karya-karya foto dari proyek Gerbang Penjara digarap Thiel pada 1991 dengan pendekatan yang sama sekali berbeda. Dalam seri ini, ia menggunakan kamera fomat besar dengan film berwarna, tanpa manipulasi dalam pencetakan. Namun, ia tetap mencoba menangkap keindahan dari obyek fotografinya yang tidak hanya menjemukan, tapi juga mengandung kenangan yang pahit bagi dirinya. Dua tema yang ditampilkan dalam pameran ini jelas sangat berbeda dari segi obyek. Yang satu gerbang penjara, sedangkan yang lain monumen. Namun, sebenarnya, keduanya merupakan obyek yang berhubungan dengan keterikatan waktu. Penjara adalah tempat orang ditahan untuk waktu tertentu, sedangkan monumen adalah lambang tentang suatu peristiwa yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu. Obyek-obyek yang berhubungan dengan keterikatan pada waktu tersebut direpresentasikan oleh Thiel menjadi karya-karya fotonya yang membebaskan pemirsanya dari elemen-elemen keterikatan. Semua interpretasi yang absolut diluluhkan oleh si fotografer, sehingga setiap orang bisa bebas membuat interpretasi sendiri tentang karya-karyanya. Ia tak mau karya-karyanya dianggap memenjarakan ataupun membekukan pemirsanya dalam satu cara pandang tertentu. Ia juga tidak mau pemirsanya dipenjarakan ataupun dibekukan seperti monumen. Amir Sidharta

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Sejarah Islam Totalitas

Catatan Pinggir

Lamijah

Fotografi

Fotografi Pembebasan Frank Thiel

Inforial

Sensasi Generasi Terbaru Honda Accord

TEMPO|interaktif

Nasional

Jokowi Siap Jadi Mediator Konflik Keraton Solo  

Olahraga

Aguero: City Selevel dengan Madrid dan Barca

Pemimpin Jemaat HKBP Filadelfia Diancam Dibunuh

Nasional

Di Yogya, Dahlan Iskan Ogah Bagi Sembako Gratis

Olahraga

Inter Milan Pukul Telak Liga Selection  

Metro

John Kei Masuk Sel Tahanan Lagi

BIN Minta Semua Pihak Jaga Konser Lady Gaga  

Nasional

Cekcok di Keraton Solo Jadi Tontonan Turis

Nasional

Serangan Ibas-Anas, Marzuki Minta Pers Tak Urusi Demokrat  

Metro

Tiap Bulan, Terjadi 10 Aksi Pelecehan Seksual di Depok

Nasional

Mahfud MD Minta Pemerintah Transparan Soal Corby  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif