• Home
  • 11 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
    • Hiburan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 11 Mei 1999
    Palestina

    Momentum yang Hilang bagi Palestina

    Selasa, 4 Mei 1999, seyogianya merupakan hari yang bersejarah bagi rakyat atau bangsa Palestina. Itulah tanggal yang semula ditentukan sebagai hari kemerdekaan Palestina. Tapi yang terjadi sebaliknya. Apa boleh buat, Sidang Majelis Pusat Palestina yang berlangsung sejak akhir April lalu memutuskan menunda pengumuman kemerdekaan. Keputusan itu tentu saja membuat rakyat Palestina kecewa. Surat kabar Palestina al-Quds menggambarkan kekecewaan ini lewat karikatur berupa sebuah kalender dengan kata-kata "Lupakan" yang tertulis di antara 3 Mei dan 5 Mei. Opini publik cenderung semakin tidak percaya kepada kesepakatan Oslo, yang semula diharapkan dapat mengubah nasib 2,6 juta penduduk Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat. "Israel yang diuntungkan kesepakatan Oslo. Orang tak diizinkan bekerja atau terpaksa pergi ke negara Arab lainnya. Tanah kami hilang dan sekarang anak kami bekerja dengan upah sangat murah," ujar Taysir Saeed, penduduk Desa Kufr Deek, Tepi Barat. Kekecewaan itu pula yang mendorong ratusan penduduk Palestina?termasuk kelompok laki-laki dengan kafiyeh melilit muka?menembakkan senjata otomatis dan pistol ke udara. Mereka berpawai sepanjang Tepi Barat sembari meneriakkan, "Bernegara adalah hak kami." Sekelompok pengunjuk rasa di Hebron memenuhi jalan sembari membakar ban dan melempari pasukan Israel dengan batu. Tentara Israel membalasnya dengan tembakan peluru karet yang mencederai 17 penduduk Palestina. Aksi yang sama berlangsung di kampus Universitas Hebron. Di Yerusalem Timur, warga Palestina mengundang ratusan orang berkumpul di markas PLO. Tapi, tak jauh dari kelompok ini, kerumunan pendukung kelompok garis keras Israel berkumpul merayakan yang mereka sebut "Kematian Perjanjian Oslo", sebuah perjanjian yang mendasari pembentukan pemerintah otoritas Palestina. "Oslo sudah mati," ujar Avraham Chaimson, pemuda garis keras Israel. Ucapan pemuda ini merupakan gambaran ketakutan kelompok garis keras Israel?termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu?sejak perjanjian Oslo mulai berlaku pada Mei 1994. Bagi mereka, perjanjian Oslo merupakan mimpi buruk yang harus dilenyapkan dengan segala cara. Netanyahu tak peduli atas kecaman Amerika dan bahkan terus mengganggu kesabaran Yasser Arafat dengan terus meluaskan permukiman Yahudi. Ketika Yasser Arafat frustrasi dan mengancam akan mengumumkan kemerdekaan, sebaliknya Netanyahu balas mengancam akan menganeksasi wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza. Amerika dan Barat pun buru-buru membujuk Arafat agar menunda pengumuman setelah pemilu di Israel, yang akan berlangsung pada 17 Mei. Alasannya: agar tidak mempengaruhi hasil pemilu Israel. Tapi, ketika Arafat patuh, Netanyahu dengan pongah menyatakan inilah kemenangan negara dan pemerintah Israel. "Dia (Arafat) tahu, selama saya memerintah, tak akan pernah ada negara Palestina," ujar Netanyahu. Pemerintah otoritas Palestina memang menyatakan akan tetap mengumumkan kemerdekaan meski Netanyahu kembali memenangi pemilu. Tapi penundaan ini jelas merupakan langkah Arafat terjun ke gelanggang perjudian politik Israel, yang selalu berubah menangkap isu Palestina. Sikap pemerintah Israel terhadap Palestina sangat bergantung pada partai yang berkuasa. Kini Arafat berharap Ehud Barak, yang memimpin Partai Buruh, memenangi pemilu. Dengan demikian, ia berharap rumusan "tanah untuk perdamaian" dan terwujudnya negara Palestina merdeka bisa lebih mulus. Harapan Arafat tampaknya tak berlebihan. Sebuah survei terbaru menunjukkan Barak memperoleh 47 persen dan Netanyahu 38 persen, sementara 15 persen pemilih tak memutuskan apa-apa. Tapi untuk itu Barak memainkan isu kunci Palestina untuk meraih suara. Ia menuduh Netanyahu telah salah menangani negosiasi dengan Palestina, sehingga mendorong munculnya negara Palestina secara de facto, dan juga menipiskan hubungan erat Israel dengan Amerika. "Kita terisolasi dari dunia, sedangkan Arafat menjadi kekasih Gedung Putih dan pemimpin dunia bebas," ujar Barak ketika berkampanye di sebuah mal di Haifa, Kamis pekan lalu. Selain itu, ia akan tetap mempertahankan Yerusalem sepenuhnya di bawah kontrol Israel dan bersikeras agar seluruh permukiman Yahudi tetap utuh. Ini berarti tak ada perbedaan signifikan antara Barak dan Netanyahu dalam isu Palestina. Kemerdekaan Palestina pun kehilangan momentum. R. Fadjri (Associated Press, Reuters)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Sejarah Islam Totalitas

Catatan Pinggir

Lamijah

Fotografi

Fotografi Pembebasan Frank Thiel

Inforial

Sensasi Generasi Terbaru Honda Accord

TEMPO|interaktif

Nasional

Jokowi Siap Jadi Mediator Konflik Keraton Solo  

Olahraga

Aguero: City Selevel dengan Madrid dan Barca

Pemimpin Jemaat HKBP Filadelfia Diancam Dibunuh

Nasional

Di Yogya, Dahlan Iskan Ogah Bagi Sembako Gratis

Olahraga

Inter Milan Pukul Telak Liga Selection  

Metro

John Kei Masuk Sel Tahanan Lagi

BIN Minta Semua Pihak Jaga Konser Lady Gaga  

Nasional

Cekcok di Keraton Solo Jadi Tontonan Turis

Nasional

Serangan Ibas-Anas, Marzuki Minta Pers Tak Urusi Demokrat  

Metro

Tiap Bulan, Terjadi 10 Aksi Pelecehan Seksual di Depok

Nasional

Mahfud MD Minta Pemerintah Transparan Soal Corby  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif