Berdasarkan tulisan TEMPO, 2-8 Maret 1999, halaman 21, berjudul Irian: Setelah Tujuh Gunung Emas Dikuras, tampak TEMPO telah melupakan fakta sejarah. Setelah Bung Karno menyatakan konfrontasi dengan Belanda, peristiwa-peristiwa penting telah terjadi, antara lain Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) atau Act a Free Choice, yang disaksikan utusan PBB, pada 1969.
Tanggung jawab pelaksanaan Pepera diserahkan kepada Panitia 9 yang dilantik oleh DPRD setempat. Panitia ini bertugas menghubungi para tokoh masyarakat secara langsung untuk bergabung dalam Dewan Musyawarah Pepera, yang disingkat DMP.
Sebagai salah seorang anggota panitia itu, saya berhari-hari menelusuri hutan, menyeberangi sungai, dan berjalan kaki dengan berbagai ancaman binatang buas, dengan tujuan mengumpulkan tokoh masyarakat, demi suksesnya Pepera. Kami berhasil mengumpulkan mereka di Wamena dan mereka pun bebas berbicara tanpa tekanan di hadapan utusan PBB. Hasilnya, anggota DMP memilih bergabung kembali ke pangkuan RI. Ini adalah titik awal bahwa Irian Barat "kembali" dan diakui dunia internasional.
Bagi karyawan perusahaan asing yang sedang mengeskplorasi emas dan tinggal jauh di pedalaman, menurut saya, tuntutan memisahkan diri dari Indonesia bukan jalan yang terbaik. Saya mencintai Irianjaya karena kita adalah satu, dari Sabang sampai Merauke.
Moch. Hatta abad, S.H.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo"
Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9.
Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486 Download versi digitalnya : Terima Kasih.
Purnawirawan
Alamat lengkap pada Redaksi
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

