Pembredelan TEMPO pada 1994 tidak berarti mematikan semangat Goenawan Mohamad untuk mewujudkan kebebasan menyampaikan pendapat. Itulah prinsip Goenawan Mohamad, pemimpin redaksi majalah ini, yang menyiasatinya-antara lain-dengan membuat TEMPO Interaktif, sebuah media internet. Banyak hal yang dilakukan Goenawan dalam melawan pengekangan terhadap pers di Indonesia.
Sikap Goenawan-biasa dipanggil GM-ini membawanya mendapatkan penghargaan "International Editors of the Year" dari World Press Review, di New York, Amerika Serikat, 11 Mei lalu. "Lewat internet, pemerintah tidak bisa membredel kami," kata GM selepas menerima penghargaan.
Penghargaan ini sendiri diberikan setiap tahun kepada para pemimpin redaksi (editor) di luar Amerika Serikat atas perjuangan mempertahankan kebebasan dan tanggung jawab pers serta membantu perkembangan dunia jurnalistik-meski, untuk itu, gerak-gerik GM, misalnya, selalu menjadi intaian para intel rezim orde Soeharto.
Penghargaan ini merupakan penghargaan internasional yang kesekian kalinya didapatkan GM, termasuk penghargaan "Kebebasan Pers Internasional" dari Komite bagi Perlindungan Wartawan (Committee to Protect Journalism), yang juga berpusat di New York, Amerika Serikat.
Semasa orde Soeharto, Majalah TEMPO pernah dibredel dua kali. Yang pertama terjadi pada 1981, kemudian pada 1994. Selepas Soeharto lengser dari kekuasaan Mei 1998, TEMPO terbit kembali Oktober 1998.
| Ulang Tahun |
Mochtar Riady, salah seorang bankir nasional, punya cara sendiri untuk memperingati hari ulang tahunnya yang ke-70, 12 Mei 1999, pekan lalu. Ia menandainya dengan meluncurkan buku Mencari Peluang di Tengah Krisis, di Hotel Aryaduta, Jakarta. Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya, Marzuki Usman, bertindak selaku tuan rumah. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan dan ceramahnya di berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri.
| Meninggal |
SATU per satu sastrawan Pujangga Baru Indonesia kembali ke pangkuan Ilahi. Setelah Hamka, Sari Amin, dan Sutan Takdir Alisjahbana, kini menyusul novelis Soeman Hasibuan atau Soeman Hs. Ia meninggal dalam usia 95 tahun, pada Sabtu, 8 Mei 1999, pukul 14.30 WIB, di Pekanbaru, Riau.
Almarhum, yang dilahirkan pada 4 April 1904 di Bengkalis, Riau, sejak kecil sangat suka membaca dan menulis cerita. Bahkan, di bangku sekolah dasar, ia sudah melahap puluhan bacaan, termasuk karya sastra Siti Nurbaya dan buku-buku asing yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Di antara cerita-cerita yang menarik perhatiannya adalah cerita detektif karya penulis Belanda. "Tiap buku yang berbau detektif memang membuat penasaran pembacanya. Mereka ingin membacanya sampai tamat, supaya tahu ujung ceritanya," kata Soeman ketika diwawancarai TEMPO pada 1985.
Tak aneh kalau karya-karya sastra Soeman Hs. banyak diilhami oleh cerita detektif. Di antara karyanya yang sangat terkenal berjudul Mencari Pencuri Anak Perawan, yang pernah diangkat ke layar kaca oleh TVRI.
Soeman mulai mengarang pada 1923, sewaktu berada di Siak Indrapura, Riau. Di samping cerita detektif, pendiri Universitas Islam Riau ini juga menulis cerita berbau agama. Misalnya, cerita berjudul Kasih Tak Terlarai bercerita masalah perlakuan orang tua angkat terhadap anak yatim.
Selain mengarang dan menulis karya sastra, Soeman Hs. adalah seorang guru. Ia bahkan mendirikan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Daerah Riau, yang menaungi sejumlah sekolah dari SD hingga perguruan tinggi (Universitas Islam Riau).
Kini, semua telah ia ditinggalkan. Tapi almarhum memperkaya khazanah sastra dan pengetahuan Indonesia.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
