• Home
  • 17 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 Mei 1999

    Sebuah Cermin Cembung

    Partai-Partai Politik Indonesia: Ideologi, Strategi, dan Program
    Penyusun:Tim Penelitian dan Pengembangan Kompas
    Peneribit:Kompas, 1999
    Tebal:634 + xiv halaman
    Setelah terkungkung oleh sistem kepartaian Orde Baru, yang sangat ramping, Indonesia mengalami ledakan partai politik luar biasa. Antara akhir Mei 1998 dan Februari 1999, kurang dari 10 bulan, telah lahir 160 partai politik baru. Ini berarti hampir setiap dua hari lahir satu partai politik baru. Sepeninggal Soeharto, sistem kepartaian Indonesia pun hiruk pikuk. Partai politik berjumlah 181 buah, dan 148 di antaranya mendaftarkan diri secara resmi ke Departemen Kehakiman. Departemen Kehakiman kemudian mengesahkan 141 di antaranya. Dari 141 partai politik ini, 110 mendaftarkan diri kepada Tim Sebelas untuk ikut Pemilu 1999, dan setelah melalui proses verifikasi, hanya ada 48 partai politik yang boleh ikut Pemilu 1999. Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas melakukan pendataan terhadap 48 partai itu, dan hasilnya adalah buku tebal yang bermanfaat ini. Mengutip Daniel Dhakidae, penanggung jawab penerbitan buku ini bersama H. Witdarmono, inilah satu dari tiga edisi yang disiapkan. Dua edisi sisanya adalah edisi bahasa Inggris dan edisi yang memuat 181 partai politik, yang bakal menghabiskan 1.500 halaman. Ini memang bukan buku pertama yang memotret hiruk pikuk partai politik Indonesia pasca-Soeharto. Namun, buku ini bisa dianggap terlengkap dibandingkan dengan buku-buku sejenis pendahulunya. Selain memuat data-data partai yang elementer, buku ini memuat gambaran umum, perspektif dan program partai, dan data secukupnya tentang pemimpin masing-masing. "Bonus" paling bermanfaat dari buku ini adalah bab pertama tulisan Daniel Dhakidae. Daniel melacak sistem kepartaian Indonesia di masa lalu dan membuat pemetaan baru. Hanya saja, sekalipun tajam, pemetaan identitas politik partai-parta itu dikerjakan secara terburu-buru. Pemilahan partai-partai ke dalam jalur kelas (developmentalisme versus sosialisme) dan jalur aliran (agama versus kebangsaan) mengidap sejumlah soal. Pertama, pemilahan itu abai pada fakta bahwa semua partai politik yang ada di Indonesia sekarang sebetulnya tak punya waktu cukup untuk membangun basis politik dan ideologi. Maka, berbeda dengan partai-partai politik peserta Pemilu 1955, yang sudah berhasil membangun dirinya sebagai barisan politik dan ideologi, partai-partai peserta Pemilu 1999 adalah kerumunan politik dan ideologi yang diikat oleh bendera. Dalam konteks ini, adalah berlebihan memilah partai ke dalam jalur kelas dan aliran seperti yang dilakukan Daniel. Kedua, sebagai kerumunan yang diikat bendera, umumnya partai tak punya identitas politik dan ideologi yang koheren pada level elite dan massa. Dalam konteks ini, pemetaan Daniel lebih tepat dialamatkan ke elite partai, dan sama sekali tak bisa menjelaskan karakter massa—bahkan bisa salah alamat sama sekali. Peta Daniel hanya menggambarkan sosok partai secara parsial (sikap pemimpin) dan belum integral (ideologi, orientasi politik, kecenderungan program, dan karakter massa). Ketiga, umumnya partai-partai yang lahir pasca-Soeharto adalah anak kandung developmentalisme. Dalam banyak hal, mereka ditandai oleh pandangan-pandangan khas kaum developmentalis. Bias developmentalisme bahkan sangat kental ada pada PDI Perjuangan, PPP, PAN, dan PRD sekalipun, yang diposisikan Daniel tanpa persinggungan sama sekali dengan developmentalisme. Maka, analisis canggih Daniel sebetulnya terbantah oleh paparan sederhana Jacob Oetama dalam "Prakata". Partai-partai yang ada, tulis Jacob, tak kental dan eksplisit ideologinya, didirikan dan dibangun (sambil) mengejar waktu; mereka tak terorganisasi massanya, dan lebih sibuk mengurus dirinya ketimbang pemilih. Tetapi, bagaimanapun, Daniel telah memulai upaya pemetaan yang bermanfaat di tingkat awal. Selain itu, buku ini bisa menjadi panduan yang amat bermanfaat menjelang Pemilu 1999. Hal lain yang menarik dari buku ini adalah karena buku ini membeberkan bahwa diam-diam ternyata tak satu pun partai yang siap menjadi oposan. Semuanya bersiap menjadi penguasa baru. Lihat saja programnya: berderet dan menyeluruh, seolah mereka akan mengendalikan negara secara penuh; tak ada fokus yang spesifik sebagaimana layaknya program partai oposisi. Selebihnya, buku ini bak sebuah cermin cembung yang menghasilkan bayangan partai politik yang lebih besar dari sosok sesungguhnya. Tak perlu heran jika Anda bertemu Partai Rakyat Indonesia (Pari), yang yakin akan memperoleh 100 kursi di DPR Pusat, atau PNI Massa Marhaen, yang yakin akan menggaet 47 juta pemilih. Pendidikan politik memang masih dalam proses. Eep Saefulloh Fatah

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Buku

Sebuah Cermin Cembung

Inforial

Theme Park Opel Live

TEMPO|interaktif

Nasional

Jenazah Susana Korban Sukhoi Disambut Histeris

Olahraga

535 Atlet Sepatu Roda di Hamengku Buwono Cup

Nasional

Jokowi Siap Jadi Mediator Konflik Keraton Solo  

Olahraga

Aguero: City Selevel dengan Madrid dan Barca

Pemimpin Jemaat HKBP Filadelfia Diancam Dibunuh

Nasional

Di Yogya, Dahlan Iskan Ogah Bagi Sembako Gratis

Olahraga

Inter Milan Pukul Telak Liga Selection  

Metro

John Kei Masuk Sel Tahanan Lagi

BIN Minta Semua Pihak Jaga Konser Lady Gaga  

Nasional

Cekcok di Keraton Solo Jadi Tontonan Turis

Nasional

Serangan Ibas-Anas, Marzuki Minta Pers Tak Urusi Demokrat  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif