• Home
  • 17 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 Mei 1999

    BCA Dijual, Salim Membeli?

    Orang sering menyindir BCA sebagai Bank Cina Asli. Bukan pelesetan yang terlalu meleset, sebenarnya. Apa boleh buat, bank swasta terbesar di Indonesia itu bukan sekadar dimiliki, tapi juga menjadi bendera bisnis pengusaha keturunan Cina di nusantara ini. Pengusaha superkaya Liem Sioe Liong dan kerabatnya di Grup Salim, selama ini, menguasai mayoritas saham di BCA. Selain itu, BCA juga jadi semacam sumber kehidupan bagi bisnis kaum keturunan. Maklumlah, lebih dari 90 persen uang di BCA mengalir untuk usaha para pengusaha nonpribumi, terutama kelompok Salim sendiri. Mestinya, sebutan Cina Asli itu sudah tak afdol lagi sejak tahun lalu. Tepatnya sejak Agustus, Salim tak lagi punya hak atas BCA. Setelah menerima injeksi dana dari Bank Indonesia Rp 30 triliun tanpa bisa dibayar Salim, kepemilikan BCA praktis berpindah tangan. Bank yang punya ribuan cabang dan jutaan nasabah itu 100 persen dikuasai bulat-bulat oleh pemerintah. Tapi pelesetan "Cina" dan label Salim di BCA tetap tak bisa ditanggalkan. Mengapa? Tampaknya, ada banyak sebab. Pertama, mungkin saja, perubahan kepemilikan BCA tak sedikit pun mengubah penampilan BCA. Yang kita temui di bagian layanan konsumen tetap saja orang-orang yang sama. Begitu juga para manajer atau kepala cabang yang meneken permohonan kredit yang kita ajukan. Pendek kata, pengelolaan BCA sehari-hari tetap memakai orang-orang lama alias tangan-tangan manajer Salim. Kedua, jeroan BCA, biarpun telah berganti pemilik, juga tak banyak berubah. Kendati praktis tak ada duit "baru" yang mengalir ke Salim, sebagian besar harta BCA tetap saja ngendon di anak-anak perusahaan milik konglomerasi terbesar Indonesia itu. Jumlah utang Salim ke BCA amat besar, dan repotnya belum terbayar. Pendek kata, sepanjang hartanya tetap bersarang di haribaan perusahaan-perusahaan Om Liem, BCA sulit diceraikan dari kelompok usaha Salim. Dan ketiga, ini tak kalah penting, belakangan ini, ketika pemerintah bermaksud menjual sahamnya di BCA, pengaruh Salim tetap tak bisa dihilangkan. Bukan 100 persen salah Salim, memang. Bahkan, menurut sumber TEMPO, justru pemerintah yang "gatel" mengundang Salim agar turut terlibat. Katanya, pemerintah minta tolong Anthony Salim, ahli waris takhta Grup Salim, agar mencarikan pembeli yang cocok bagi bank yang beraset hampir Rp 90 triliun itu. Keterlibatan Anthony dalam penjualan BCA tak dibantah seorang pejabat di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), lembaga pemerintah yang kini menguasai saham BCA. Semua tanggung jawab dan keputusan penjualan BCA, katanya dengan tegas, ada di tangan pemerintah. Tetapi, "Kalau sekadar minta tolong Anthony untuk ikut menawarkan, ya, tidak ada salahnya." Betul, pemerintah bukannya tak berusaha menjualnya sendiri. Dalam pamer keliling alias road show yang digelar tim BPPN untuk menjajakan hartanya ke luar negeri pekan lalu, BCA ikut pula dalam paket yang ditawarkan. Sejumlah investor dikabarkan berminat. Iyalah. Tetapi, sekali lagi tetapi, "Anthony Salim mestinya memiliki jaringan keuangan yang lebih cespleng," kata sumber TEMPO. Karena itu, wajar jika BCA dititipkan ke Anthony. Ahli waris Salim ini sempat menawarkan BCA ke para majikan Ford Motor di Detroit, Amerika Serikat, akhir Maret lalu. Melalui anak perusahaannya, Ford Finance, salah satu perusahaan otomotif terbesar dunia itu sebenarnya kepincut berat kepada BCA. Ford minta agar diberi kesempatan untuk mengambil alih saham BCA, sepenuhnya. Tapi, inilah persoalannya, Anthony keberatan. Ia mau menjual BCA sebagian saja. Menurut sumber TEMPO yang mengetahui penawaran BCA kepada Ford, Anthony ingin sedikitnya 40 persen saham BCA tetap dialokasikan untuk Salim. Akibatnya, Ford keberatan. Anthony, untuk sementara, gagal menjadi makelar. Kegagalan Anthony menawarkan BCA bukan sekali ini saja. Kira-kira setahun lalu, BCA juga sudah ditawar dua dinosaurus perbankan dunia: ABN Amro Bank dan Citibank. Tapi, lagi-lagi, Anthony tak rela melepas BCA bulat-bulat ke tangan investor baru. Salim enggan membagi hak mayoritasnya di BCA. Akibatnya, ABN dan Citibank mundur. Cerita soal ambisi Salim tetap mempertahankan BCA belum mendapat konfirmasi yang tegas dari Grup Salim. Tapi seorang pejabat konglomerasi itu membenarkan keinginan tetap memiliki BCA memang benar ada. Tapi berapa besar saham yang diinginkan, atau tercapai tidaknya keinginan itu, belum bisa dipastikan. Dengan diplomatis ia menjawab, "Kalau punya duit, mengapa tidak, BCA kan barang bagus?" Sikap ngotot seperti itu mungkin saja tak ada kelirunya. Kalau mampu, siapa berani melarang? Cuma, kali ini, ambisi Salim agaknya bakal tersandung. Dilihat dari harga yang harus dibayar, mungkin saja Salim tak punya hambatan berarti. Menurut perhitungan, nilai jual BCA saat ini paling banter Rp 7,5 triliun (lihat boks Meraba-raba Harga BCA). Nah, kalau cuma mau 40 persen saham, Salim tinggal menyiapkan dana Rp 3 triliun. Tentu saja, uang sebesar itu bukan halangan bagi Salim. Kalau benar-benar ingin, Salim tinggal menjual sebagian sahamnya di Indofood, QAF Singapura, First Pacific Hong Kong, atau melego sejumlah perusahaan perkebunan yang belum menjadi perusahaan publik. Atau, kalaupun tidak, Salim bisa saja mengusulkan ke First Pacific agar membeli BCA. Konglomerasi usaha asal Hong Kong yang 54 persen sahamnya dikuasai Salim itu, kabarnya, punya uang kontan hampir US$ 900 juta yang siap diinvestasikan. Dengan cara ini, Salim bisa saja tetap menguasai BCA secara tak langsung melalui First Pacific. Tapi, masalahnya, sebelum meminang BCA kembali, Salim harus memenuhi satu persyaratan: utangnya ke BCA harus terbayar lunas. "Kalau Salim punya duit, mengapa utangnya ke BCA tak diselesaikan dulu?" tanya seorang pejabat BPPN. Ini yang tampaknya tak mudah. Utang Salim ke BCA tak kira-kira jumlahnya, sedikit di bawah Rp 48 triliun. Menurut jadwal, sekitar Rp 27 triliun (Rp 13 triliun pokok dan Rp 14 triliun bunga) harus terbayar lunas November nanti. Sisanya, Rp 35 triliun utang pokok (belum dihitung bunga 30 persen setahun), harus dibayar dalam tiga tahun ke depan. Kalau ketentuan ini dipegang teguh, agaknya sulit bagi Salim untuk mempertahankan BCA sebagai Bank Cina Asli.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Buku

Sebuah Cermin Cembung

Inforial

Theme Park Opel Live

TEMPO|interaktif

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif