• Home
  • 17 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 17 Mei 1999
    Bank Asing

    Juragan Londo, Welcome...

    LAMA disimpan, jurus "habis-habisan" itu akhirnya dikeluarkan juga: investor asing boleh membeli mayoritas bank publik. Selama ini kepemilikan asing dibatasi cuma 49 persen, tapi Jumat pekan lalu pemerintah membuka pintu lebar-lebar, asing boleh membeli 99 persen. Aturan yang sama juga diberlakukan bagi bank yang belum masuk bursa. "Sekarang ketentuan itu sudah hitam di atas putih," kata Subarjo Joyosumarto, Direktur Bank Indonesia (BI). Masuknya asing sebagai mayoritas adalah pilihan yang tak bisa dielakkan. Beban pemerintah menanggung biaya rekapitalisasi saja sudah sangat berat. Saat ini ada 8 bank swasta yang ikut program rekapitalisasi, 4 bank pemerintah termasuk Bank Mandiri, dan 12 bank take over. Tahun ini pemerintah menganggarkan Rp 34 triliun untuk program penyehatan bank tadi. Berharap dari swasta nasional juga "bagai pungguk merindukan bulan". Kondisi ekonomi yang masih "megap-megap" menyebabkan modal kalangan swasta menipis, bahkan grup usaha besar milik swasta banyak yang terancam gulung tikar. Diundanglah si asing ke sini. Selain mereka boleh menguasai 99 persen saham, bank asing kini bebas membuka cabang di Indonesia, tentu dengan sejumlah persyaratan. Salah satunya, bank asing itu harus masuk 200 bank terbesar di dunia dan punya peringkat A dari perusahaan pemeringkat internasional seperti Moody's dan Standard & Poor's. Artinya, pemerintah mencabut aturan yang pernah diterapkan tahun 1972, yakni membatasi cabang bank asing di Indonesia. Waktu itu cuma sepuluh bank yang bisa membuka cabangnya di Indonesia. Tapi masih ada "halangan" lain, yaitu soal modal. Untuk bank asing yang ingin membuka cabang, pemerintah mensyaratkan modal Rp 3 triliun, angka yang persis sama dengan persyaratan pembukaan bank baru. Pucuk dicita ulam tiba. Aturan baru ini jelas seperti membuka bendungan. Ramai-ramailah bank asing menyerbu bank-bank lokal. Apalagi harga saham bank lokal saat ini sedang "murah-murahnya". Bank Bali, contohnya, diperebutkan tiga investor asing, yakni Standard Chartered Bank, General Electric (GE) Capital, dan ABN-Amro Bank. Dua nama terakhir ini akhirnya kalah bersaing dengan Standard Chartered, dan keduanya kini mengincar Bank Niaga. Investor lain yang sedang bersiap masuk adalah New Bridge Capital dan Global Allianz. Dari Taiwan juga ada Kuo Min Tang dan Core Pacific Development. Asing akan menguasai bank-bank di sini? Ada kekhawatiran seperti itu. Tapi Subarjo punya angka perhitungan berbeda. Menurut orang BI yang namanya setiap hari ada di koran ini, yang paling diminati investor asing barulah bank-bank yang akan direkapitalisasi. Kalau delapan bank peserta program rekapitalisasi masing-masing 20 persen sahamnya dibeli asing, porsi asing di perbankan nasional tak meningkat terlalu besar. Dari aset perbankan sekitar Rp 600 triliun sekarang ini, porsi asing cuma tujuh persen. "Kalau 20 persen saham delapan bank rekap dibeli asing semua, kepemilikan asing paling-paling naik jadi 12 persen," kata Subarjo. Meskipun porsi sahamnya masih kecil, ekspansi bank asing belakangan ini makin gencar. Mereka sudah mulai rajin mendekati konsumen dari kelas menengah ke bawah. Iklan produk bank asing hampir setiap hari menghiasi media massa di sini. Mereka menawarkan banyak kemudahan untuk membuka rekening baru. Citibank, misalnya, dulu mematok Rp 20 juta untuk pembukaan rekening baru, kini cukup Rp 1 juta. Jaringan ATM dan outlet bank asing juga mulai ditebar, terutama di kota besar. Lagi-lagi Citibank yang jadi contoh. Belum lama ini, bank asal Amerika itu menambah 40 mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di Jakarta. ABN-Amro, bank asal Belanda, yang juga menawarkan berbagai kemudahan, kebanjiran nasabah baru. "Jumlah nasabah kami setelah krisis memang meningkat enam kali lipat," ujar Pieter Van Der Aker, Country Manager Indonesia ABN-Amro, kepada Iwan Setiawan dari TEMPO. Sampai sejauh ini, bank asing mengincar bank lokal yang punya jaringan luas dan punya kinerja bagus. Jika ekonomi Indonesia pulih, jaringan luas tadi tentu menjadi aset luar biasa. Soalnya tinggal ini: kapan ekonomi pulih? M. Taufiqurohman, Yusi A. Pareanom, Agus Hidayat, dan Hardy Hermawan

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penghargaan

Buku

Sebuah Cermin Cembung

Inforial

Theme Park Opel Live

TEMPO|interaktif

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

Nasional

Forum Pendiri dan Deklarator buat Selamatkan Demokrat

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif