| (Seratus Puisi Taufiq Ismail) | ||
| Penulis | : | Taufiq Ismail |
| Peneribit | : | Yayasan Ananda, Jakarta, 1998 |
| Tebal | : | 208 + xvi halaman |
ADA satu puisi Taufiq Ismail yang membekas dalam ingatan kita. Tiga anak kecil/dalam langkah malu-malu/datang ke Salemba/sore itu//'Ini dari kami bertiga/Pita hitam pada karangan bunga/Sebab kami ikut berduka//Bagi kakak yang ditembak mati/Siang tadi.' Puisi berjudul Karangan Bunga ini ditulis Taufiq pada 1966. Imaji visual memang sangat akrab dengan karya-karya Taufiq pada saat itu. Tapi kini hal itu telah bergeser jauh. Kalaupun imaji visual masih tampak, itu tidak sekental dan segamblang dulu. Posisi Taufiq pun berubah, dari yang lebih banyak bertindak sebagai pencatat atau pelukis suasana, bergeser ke posisi yang baru: sebagai pengkritik, bahkan terkadang sebagai pemberontak terhadap situasi yang melingkupinya.
Kini, yang muncul dari karya-karya Taufiq adalah potret sebuah kearifan, sebuah sikap yang matang. Dalam pengantarnya di buku itu, Kuntowijoyo menulis bahwa imaji visual, yang begitu kuat menggambarkan perlawanan mahasiswa pada 1966, sudah digantikan dengan imaji konseptual. Menurut Kunto, Taufiq tidak lagi melukis, tapi berpikir. Puisi-puisinya bukan lagi menangkap detail dari sebuah gejala, tapi menangkap gejala-gejala itu secara umum. Imajinasinya tidak lagi lahir bersama pengalaman-pengalaman, tapi dari pikiran. Pergeseran demikian bisa dipahami. Soalnya, perubahan yang terjadi bukan saja perubahan alam, suasana, dan elemen-elemen dalam negaraekonomi, politik, budayatapi juga yang paling penting adalah perubahan kematangan pribadi seorang Taufiq Ismail. Itu semua akan memberikan corak dan ragam baru dalam karyanya.
Sebuah puisi pendek berjudul Takut '66, Takut '98 yang ditulis pada 1998 setidaknya bisa memberikan gambaran perbedaan antara Taufiq dulu (1966) dan Taufiq sekarang. Bunyinya: Mahasiswa takut pada dosen/dosen takut pada dekan/dekan takut pada menteri/menteri takut pada presiden/presiden takut pada mahasiswa (halaman 3). Puisi ini sama sekali jauh dari kesan visualistik.
Sebagian besar puisi terbaru Taufiq yang terkumpul dalam buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia ini memang menyorot kompleksitas permasalahan kekuasaan Orde Baru yang lekat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Buku ini sebenarnya punya keragaman dalam tematik dan gaya, yang secara langsung mewakili tahun penciptaannya, yakni 1960-an, 1970-an, 1980-an, dan 1990-an, misalnya masalah politik, moral, bahkan olahraga. Khusus untuk tahun 1998, Taufiq lebih akrab dengan masalah bernuansa reformasi, misalnya 12 Mei 1998, Bayi Lahir Bulan Mei 1998, Cinta Rupiah. Namun, ada satu hal yang kiranya tidak bergeser dari pola umum kepenyairan Taufiq Ismail, yakni keterlibatannya dalam pergumulan sejarah. Puisi-puisinya akrab dengan nuansa sejarah. Ini terlihat di antaranya dalam puisi
Mustafa Ismail
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
