• Home
  • 24 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 24 Mei 1999

    Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

    (Seratus Puisi Taufiq Ismail)
    Penulis:Taufiq Ismail
    Peneribit:Yayasan Ananda, Jakarta, 1998
    Tebal: 208 + xvi halaman

    ADA satu puisi Taufiq Ismail yang membekas dalam ingatan kita. Tiga anak kecil/dalam langkah malu-malu/datang ke Salemba/sore itu//'Ini dari kami bertiga/Pita hitam pada karangan bunga/Sebab kami ikut berduka//Bagi kakak yang ditembak mati/Siang tadi.' Puisi berjudul Karangan Bunga ini ditulis Taufiq pada 1966. Imaji visual memang sangat akrab dengan karya-karya Taufiq pada saat itu. Tapi kini hal itu telah bergeser jauh. Kalaupun imaji visual masih tampak, itu tidak sekental dan segamblang dulu. Posisi Taufiq pun berubah, dari yang lebih banyak bertindak sebagai pencatat atau pelukis suasana, bergeser ke posisi yang baru: sebagai pengkritik, bahkan terkadang sebagai pemberontak terhadap situasi yang melingkupinya.

    Kini, yang muncul dari karya-karya Taufiq adalah potret sebuah kearifan, sebuah sikap yang matang. Dalam pengantarnya di buku itu, Kuntowijoyo menulis bahwa imaji visual, yang begitu kuat menggambarkan perlawanan mahasiswa pada 1966, sudah digantikan dengan imaji konseptual. Menurut Kunto, Taufiq tidak lagi melukis, tapi berpikir. Puisi-puisinya bukan lagi menangkap detail dari sebuah gejala, tapi menangkap gejala-gejala itu secara umum. Imajinasinya tidak lagi lahir bersama pengalaman-pengalaman, tapi dari pikiran. Pergeseran demikian bisa dipahami. Soalnya, perubahan yang terjadi bukan saja perubahan alam, suasana, dan elemen-elemen dalam negara—ekonomi, politik, budaya—tapi juga yang paling penting adalah perubahan kematangan pribadi seorang Taufiq Ismail. Itu semua akan memberikan corak dan ragam baru dalam karyanya.

    Sebuah puisi pendek berjudul Takut '66, Takut '98 yang ditulis pada 1998 setidaknya bisa memberikan gambaran perbedaan antara Taufiq dulu (1966) dan Taufiq sekarang. Bunyinya: Mahasiswa takut pada dosen/dosen takut pada dekan/dekan takut pada menteri/menteri takut pada presiden/presiden takut pada mahasiswa (halaman 3). Puisi ini sama sekali jauh dari kesan visualistik.

    Sebagian besar puisi terbaru Taufiq yang terkumpul dalam buku Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia ini memang menyorot kompleksitas permasalahan kekuasaan Orde Baru yang lekat dengan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Buku ini sebenarnya punya keragaman dalam tematik dan gaya, yang secara langsung mewakili tahun penciptaannya, yakni 1960-an, 1970-an, 1980-an, dan 1990-an, misalnya masalah politik, moral, bahkan olahraga. Khusus untuk tahun 1998, Taufiq lebih akrab dengan masalah bernuansa reformasi, misalnya 12 Mei 1998, Bayi Lahir Bulan Mei 1998, Cinta Rupiah. Namun, ada satu hal yang kiranya tidak bergeser dari pola umum kepenyairan Taufiq Ismail, yakni keterlibatannya dalam pergumulan sejarah. Puisi-puisinya akrab dengan nuansa sejarah. Ini terlihat di antaranya dalam puisi

    Mustafa Ismail


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pengukuhan

Buku

Kumpulan Manusia yang Terdampar

Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia

Catatan Pinggir

Lenin

Inforial

Koleksi Terbaru Hugo Boss

TEMPO|interaktif

Internasional

Pelaut Iran Selamatkan Kapal AS dari Perompak  

Kehadiran Terry Tak Ganggu Kondisi Skuad Inggris

Nasional

Jenazah Susana Korban Sukhoi Disambut Histeris

Olahraga

535 Atlet Sepatu Roda di Hamengku Buwono Cup

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi  

Nasional

Jokowi Siap Jadi Mediator Konflik Keraton Solo  

Olahraga

Aguero: City Selevel dengan Madrid dan Barca

Pemimpin Jemaat HKBP Filadelfia Diancam Dibunuh

Nasional

Di Yogya, Dahlan Iskan Ogah Bagi Sembako Gratis

Olahraga

Inter Milan Pukul Telak Liga Selection  

Metro

John Kei Masuk Sel Tahanan Lagi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif