• Home
  • 31 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Mei 1999
    Effendi Ongko:

    "Kepala Saya Disetrum"

    PADA 2 Desember 1990, saya dibawa ke Kantor Pusat Artha Graha di dekat Jalan Gajah Mada, Jakarta. Saya dipaksa menyerahkan empat bidang tanah sebagai jaminan, selama Lody belum tertangkap. Saat itu Lody melarikan diri ke Hong Kong. Saya lalu minta bantuan Interpol. Lody tertangkap dan divonis tujuh tahun penjara. Pada 8 Desember saya meminta kembali surat tanah saya. Tapi dia menolak untuk mengembalikannya. Kami ribut besar.

    Atas perintah Tommy, Komandan Detasemen Intel Letkol Widayat membawa saya ke markasnya di Kramat V (ketika dikonfirmasi TEMPO, petugas di tempat ini mengaku bahwa sejak Soeharto mundur sudah tak ada kegiatan apa pun di kantor itu. Petugas ini juga tak tahu menahu tentang orang bernama Letkol Widayat, Red.). Saya disekap selama 17 hari dan diperlakukan amat tidak manusiawi. Ditelanjangi, disuruh berdiri dengan satu kaki, dan kepala saya disetrum. Tengah malam, 21 Desember, mendadak saya dikeluarkan. Terus saya dibawa ke kantor Lili Sumantri di Jalan Ceylon No. 9, Jakarta Pusat. Saya lalu dipaksa menandatangani akta jual beli fiktif PT Kranggan kepada Tommy.

    Saya sudah mengadu ke mana-mana, tapi saat itu posisi Tommy sangat kuat. Selain dengan Edi Sudrajat, ia juga dekat dengan Keluarga Cendana. Saya mendengar langsung dari seorang petugas reserse polisi yang menyidik kasus itu. Tommy membentaknya, "Di sini nggak ada hukum."


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penobatan

Buku

Esensi dari Esensi Naguib Mahfouz

Catatan Pinggir

Siapa

Indonesiana

Maling Pulsa Telepon Ambon

Inforial

OPEL Zafira dengan Multi-Variable Seat System

Seni Rupa

Realitas dan Fantasi Kekerasan

TEMPO|interaktif

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

Olahraga

Luis Suarez Akhirnya Minta Maaf

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif