• Home
  • 31 Mei 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 31 Mei 1999

    Realitas dan Fantasi Kekerasan

    TUMBAL
    Karya:Hendro Suseno
    Tempat:Galeri Milenium
    Waktu:sampai 7 Juni 1999
    Bagaimana fantasi seorang Hendro Suseno tentang kekerasan? Tengoklah karyanya berjudul Indonesian Laundry Service (1998), yang kini tengah dipamerkan di Galeri Milenium Jakarta. Inilah sebuah karya seni, dibuat dengan charcoal (arang), tempat Hendro menafsirkan kesadistisan dan kebengisan dengan "meminjam" praktek binatu sebagai sebuah metafora. Ia menjadi tumbal atau korban yang dilindas dengan besi panas untuk diratakan. Sebuah misal yang pedih, menyakitkan, dan sangat mengganggu perasaan. Dan Hendro melukiskan ketidaknyamanan itu dengan fantastis. Pameran seni gambar Hendro ini sesungguhnya memperlihatkan bagaimana seni gambar menyampaikan permasalahan masa kini dengan komunikatif. Lulusan Seni Lukis Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, sesuai dengan isi pamerannya yang sarat dengan komentar sosial, memberi tema Tumbal?diambil dari salah satu judul karyanya. Semua karya yang dipamerkan ini diciptakan pada 1995 hingga 1999. Menurut pengakuannya, semua itu merupakan catatan atas realitas yang dialami, dilihat, dan didengarnya. Dalam rentang waktu hampir setengah dekade itu, Indonesia tengah menghadapi suatu masa yang tak nyaman untuk dikenang. Bahkan kita menyaksikan bagaimana sekelompok orang tertawa di depan kepala manusia yang baru saja dipenggalnya, ratusan manusia yang terpanggang percuma dalam bangunan maut, ada sebagian yang lain pecah batok kepalanya dihantam pelor serdadu. Inilah realitas sosial paling buruk yang dicemaskan sejumlah perupa dan akhirnya menganggap, apalah gunanya lagi sepotong kanvas manakala realitas di depan mata sudah jauh lebih gila. Tapi Hendro satu dari sedikit perupa yang dapat mengartikulasikan realitas itu dari sudut pandang lain, mengundang kita untuk masuk dalam pengalaman individualnya. Dalam mengembangkan gagasannya, Hendro tampak tak ingin terjebak seperti membuat berita dalam seni rupa. Sekalipun gagasan umumnya adalah realitas sosial yang secara luas telah dikenal masyarakat, ia menyampaikannya dengan cara yang unik dan dari sudut yang tak terkirakan oleh banyak orang. Realitas yang disaksikannya telah diolah dalam ruang perenungan dan berbaur dengan macam-macam imaji dalam dirinya sendiri tentang kekerasan dan sadisme. Ia menggambarkan, tapi kemudian juga seperti menyatakan kemarahan atas sesuatu yang tak bisa dihentikannya. Lalu mengucapkan realitas itu kembali dengan cara yang paradoks. Karya berjudul Souvenir dari Aceh (1999), berupa gambar tengkorak kepala manusia yang berlubang-lubang, disuarakan dengan nada sangat sinis. Walau tanpa diberi keterangan lain, gambar itu segera mengingatkan kita pada peristiwa tragis daerah operasi militer (DOM). Di situ, Hendro memisalkan korban hanya sebagai sebuah cendera mata. Ia hanya menarik untuk ditimang-timang dan ditonton, tapi bukan untuk diselesaikan masalahnya. Walaupun hanya menampilkan 27 karya, sebagian besar terdiri dari gambar charcoal dan beberapa lukisan cat minyak di atas kanvas, pameran ini seperti memetakan sejumlah masalah sosial di sekitar kita, mulai dari soal tenaga kerja wanita yang digambarkannya sebagai "komoditi ekspor", soal suara perempuan yang nyaris tak terdengar, buruh yang dieksploitasi majikan, hingga soal layanan publik seperti bus kota?karena lebih banyak berurusan dengan orang pinggiran?yang tak pernah diperhatikan secara serius. Orang-orang kalah itu setiap hari berebut sejengkal ruang dalam bus kota, seperti sebuah pertarungan. Pameran ini mengantarkan kita pada kenyataan sesungguhnya dan sekaligus fantasi mengerikan mengenai kekerasan. Dan setelah apa yang terjadi di negeri ini, kemudian, apa perbedaan antara realitas dan fantasi tentang kekerasan? Asikin Hasan

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Penobatan

Buku

Esensi dari Esensi Naguib Mahfouz

Catatan Pinggir

Siapa

Indonesiana

Maling Pulsa Telepon Ambon

Inforial

OPEL Zafira dengan Multi-Variable Seat System

Seni Rupa

Realitas dan Fantasi Kekerasan

TEMPO|interaktif

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

Internasional

Polisi Myanmar Pukuli Demonstran Listrik Byar-Pet

Mencicipi Makanan Malaysia di Kedai Penang

Teknologi

Penjualan BlackBerry Turun, BBM Tetap Teratas

Layanan Telepon dari Pesawat Ditolak Penumpang

Gaya Hidup

Buku Murah di Pameran Bandar

Inforial

Menyelami Gaya Hidup Urban Legian

The 101 Legian

Inforial

Luncurkan BII KPR Bebas Bunga

Bank Internasional Indonesia (BII)

Inforial

Makin Dikenal melalui Superbrands

Sirup Kurnia

Bisnis

Tahun Ini, Garuda Tambah 21 Pesawat Baru

Sharon Stone Digugat Mantan Pengasuh Anaknya

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif