• Home
  • 07 Juni 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 Juni 1999
    Indosat

    Jurus Rahasia Pendekar 001

    BERITANYA sih biasa-biasa saja: soal rencana pembelian saham. Tapi, apa yang terjadi sesungguhnya di balik rencana itu, tak banyak yang tahu. Yang muncul hanyalah serangkaian jawaban yang kurang jelas dan sejumlah misteri.? Ceritanya berawal tiga bulan lalu ketika PT Indosat berencana membeli saham PT Excelcomindo Pratama. Menurut sumber TEMPO, Indosat menawarkan US$ 300 juta untuk membeli 60 persen saham Excel yang dimiliki PT Telekomindo Primabhakti. Tapi Telekomindo keberatan. Perusahaan yang dikuasai pengusaha Peter Sondakh itu bertahan pada harga US$ 360 juta. Tawar-menawar terjadi, sebuah praktek bisnis yang biasa. Bagi Indosat, rencana akuisisi ini agaknya tidak salah alamat. Selain mengelola jasa telepon seluler, Excelcomindo juga punya proyek jaringan telekomunikasi serat optik yang menghubungkan kota-kota di sepanjang Jakarta-Surabaya. Ini bisa dimanfaatkan Indosat untuk memperkuat jaringan telekomunikasi gateway 001 miliknya. Malah, jika globalisasi telekomunikasi dibuka tahun 2005 kelak, Indosat bisa memanfaatkan jaringan serat optik ini untuk mem-by-pass fungsi Telkom sebagai penyambung lokal pembicaraan internasional. Selain itu, jaringan ini juga bisa dipakai untuk membangun industri multimedia, sektor usaha yang sudah lama diincar Indosat. Dengan jaringan serat optik yang terbentang di sepanjang Pulau Jawa, Indosat dengan gampang bisa membangun industri TV kabel. Jika mau, jaringan ini bisa juga dijadikan tulang punggung (backbone) internet. Sampai di sini ceritanya masih datar-datar saja, tapi belakangan terasa ganjil setelah ada yang ikut menghitung: bukankah penawaran Indosat itu terlalu mahal? Menurut sumber tersebut, nilai bersih seluruh saham Excel tak lebih dari US$ 300 juta. Angka ini diperoleh dengan menjumlahkan seluruh biaya investasi Excel dikurangi kewajiban utangnya. Menurut sumber ini, nilai investasi Excel cuma US$ 475 juta. Sekitar US$ 300 juta untuk proyek telepon angin, sisanya untuk serat optik. Karena US$ 175 juta dari investasi ini diperoleh dari utang, ditemukanlah angka US$ 300 juta tadi. Jadi, jika cuma mau mengambil 60 persen saham, Indosat mestinya hanya membayar US$ 180 juta. Kalaupun mau memberi premium, "Harga US$ 200 juta pun sudah ketinggian.?" Lalu, mengapa Indosat mesti menaikkan tawaran harganya sampai satu setengah kali nilai wajar Excel? Jika, misalnya, Telekomindo ogah melepas saham pada harga yang ditawarkan, Indosat mestinya bisa membangun sendiri fasilitas yang sama?dengan harga yang lebih murah. Lalu, mengapa Indosat harus ngotot? Sayang, tak ada jawaban yang bisa memuaskan. Direktur Pengembangan Indosat, Safwan Natanagara, malah membantah penawaran kepada Excel. Ia mengaku bahwa Indosat memang akan membeli perusahaan pengelola telepon seluler. Tapi Indosat baru sampai tahap menimbang-nimbang. Di antara ketiga operator yang ada, Excel, Satelindo, dan Telkomsel, belum jelas mana yang akan dipilih. Jawaban Safwan justru membuat cerita jadi makin ajaib. Publik mestinya belum lupa, beberapa waktu lalu, Indosat bukannya mau membeli, sebaliknya malah menawarkan saham Satelindo yang sudah dimilikinya. "Masa kami punya saham di perusahaan saingan," kata Direktur Utama Indosat, Tjahjono, mengemukakan alasan rencana penjualan penyertaan sahamnya di Satelindo. Nah, kini, mana yang benar: Indosat mau melepas atau membeli Satelindo? Gampang diduga, teka-teki ini kemudian melahirkan spekulasi. Ada yang bilang akuisisi ini dilakukan untuk menyelamatkan muka Peter Sondakh. Selain punya tunggakan utang US$ 178 juta di bank-bank pemerintah, pengusaha ini terancam tudingan kolusi. Berdasarkan undang-undang, semua perusahaan jasa telekomunikasi dasar harus menyertakan BUMN sebagai pemegang saham. Nah, dalam Excelcomindo, yang sahamnya dikuasai Peter, tak ada selembar pun saham perusahaan pemerintah. Kabarnya, keistimewaan ini bisa didapat berkat peran Joop Ave, bekas Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, yang selama ini dikenal dekat dengan Peter. Benarkah spekulasi itu? Tak ada jawaban yang memuaskan. Hanya, sebagai perusahaan publik yang juga tercatat di bursa New York, sepak terjang Indosat tak bisa gegabah. Kalau transaksi-transaksi "miring" seperti itu terjadi, Indosat pasti tak akan lolos dari jerat hukum pengawas bursa saham Amerika Serikat. Jadi, apa yang membuat Indosat ngotot melamar Excel? Entahlah. Mungkin benar kata orang, ini langkah awal Indosat banting setir ke bisnis multimedia. Maklum saja, tak lama lagi, hak monopoli bisnis telepon tak bisa dikangkanginya lagi. Dwi Setyo, Mardiyah Chamim, M. Taufiqurohman

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pensiun

Buku

Mari Bermeditasi dengan Anand

Pengembaraan Anand Krishna

Catatan Pinggir

Mukjizat

Inforial

Konsep Baru Kelas Bisnis British Airways

Televisi

Berdebat di Layar Kaca Indonesia

Masih ada 'Hantu' di TV Kita

TEMPO|interaktif

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

Internasional

Polisi Myanmar Pukuli Demonstran Listrik Byar-Pet

Mencicipi Makanan Malaysia di Kedai Penang

Teknologi

Penjualan BlackBerry Turun, BBM Tetap Teratas

Layanan Telepon dari Pesawat Ditolak Penumpang

Gaya Hidup

Buku Murah di Pameran Bandar

Inforial

Menyelami Gaya Hidup Urban Legian

The 101 Legian

Inforial

Luncurkan BII KPR Bebas Bunga

Bank Internasional Indonesia (BII)

Inforial

Makin Dikenal melalui Superbrands

Sirup Kurnia

Bisnis

Tahun Ini, Garuda Tambah 21 Pesawat Baru

Sharon Stone Digugat Mantan Pengasuh Anaknya

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif