• Home
  • 07 Juni 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Album
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 07 Juni 1999

    Dialog Partai Politik

    SABTU, 29 Mei 1999, saya menghadiri acara Dialog Partai Politik tentang Permasalahan HIV/AIDS, yang diselenggarakan oleh Masyarakat Peduli AIDS Indonesia (MPAI) di Aula FKUI Salemba, Jakarta. Dialog itu dihadiri oleh wakil dari 10 partai politik: PNI, PADI, PAN, PBB, PK, PDR, PNBI, PBI, Partai Pilihan Rakyat, dan Masyumi.

    Ada empat isu yang diangkat oleh panitia: pandangan parpol mengenai pendidikan kesehatan reproduksi, seks di sekolah, pembahasan masalah kondom, efektivitas penutupan lokalisasi, dan sikap diskriminatif terhadap ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Menurut saya, hasil diskusi ini amatlah memprihatinkan. Ada beberapa hal yang menjadi pengamatan saya:

    Dalam pembahasan tentang HIV/AIDS, ternyata ada kecenderungan parpol bersikap konservatif dan "ikut arus". Sama sekali tidak tercermin adanya sikap pembaruan dalam menanggulangi masalah kesehatan ini, padahal istilah reformasi selalu didengung-dengungkan.

    Ternyata parpol-parpol kita belum siap memikirkan isu HIV/AIDS dan kesehatan reproduksi secara khusus. Ada parpol yang berapologi dengan mengatakan masih banyak prioritas lain yang selama ini perlu diperhatikan bahkan ada parpol yang dengan gamblang mengatakan bahwa prioritas mereka adalah ekonomi bangsa, kendati semua orang menggunakan istilah "semua permasalahan ini kompleks". Padahal, dalam mengatur negara, parpol seyogianya menyadari bahwa semua masalah yang menyangkut warga negara itu penting. Apalagi bagi peserta dialog parpol mengenai HIV/AIDS, tentu prioritasnya adalah HIV/IDS dan seputar permasalahannya.

    Hal yang paling membuat saya kecewa adalah sikap wakil parpol yang hadir ini senang menggunakan istilah "mereka" untuk menjelaskan remaja, pekerja seks, ODHA, atau anak-anak jalanan. Seakan mereka itu berbeda dengan "masyarakat". Para wakil parpol ternyata lengah bahwa yang disebut "mereka" itu adalah orang yang hadir pada acara tersebut. Kalau parpol itu memang ingin mengambil simpati dari segenap lapisan masyarakat, seyogianya mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdialog dengan remaja, ODHA, pekerja seks, atau kelompok marginal lainnya yang hadir pada acara dialog itu.

    Bukankah kelompok marginal ini ingin berkata, "Mbok ya kita sekali-sekali didengerin.."? Kenyataan itu juga bisa menjadi pelajaran bagi kita yang bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS, kesehatan reproduksi, dan pemberdayaan kelompok-kelompok marginal, bahwa perlu upaya lebih keras untuk menyampaikan informasi kepada para wakil parpol. Sebab, tampak sekali bahwa mereka kurang mengetahui persoalan tentang HIV/AIDS.

    Hal ini memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena mungkin kita yang ada di lembaga-lembaga inilah yang kurang gencar menyampaikan informasi sehingga tantangan kita berikutnya menysusun "program pendidikan (atau kalau mungkin study tour ke lokalisasi?)" bagi mereka yang konon akan mengatur negara kita nantinya.

    Sayang sekali, parpol-parpol yang relatif besar seperti PDI Perjuangan, Golkar, PKB, dan PKP, atau parpol yang punya program bagi kelompok-kelompok marginal seperti PRD tidak mengirim wakilnya. Padahal kami juga ingin mengetahui pandangan mereka terhadap isu HIV/AIDS.

    DANNY I. YATIM
    Relawan AIDS Yayasan Mitra Indonesia


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Album

Pensiun

Buku

Mari Bermeditasi dengan Anand

Pengembaraan Anand Krishna

Catatan Pinggir

Mukjizat

Inforial

Konsep Baru Kelas Bisnis British Airways

Televisi

Berdebat di Layar Kaca Indonesia

Masih ada 'Hantu' di TV Kita

TEMPO|interaktif

Olahraga

Leverkusen Tanpa Ballack Lawan Barca

Olahraga

MU Terima Permohonan Maaf Liverpool

Olahraga

City Kembali ke Puncak

Utama Motor, Dealer Khusus Moge Mulai Beroperasi

Motor Honda Raih Lima Penghargaan Merek Terbaik

PT ASTRA HONDA MOTOR

Olahraga

Usai Berdiskusi dengan Klub, Suarez Akui Kesalahan

Olahraga

Aston Villa-Manchester City Masih Tanpa Gol

Olahraga

Inter Milan Ditundukkan Tim Juru Kunci

Olahraga

Hadapi Aston Villa, City Rotasi Sejumlah Pemain

Bisnis

Duta Besar AS untuk Cina Menjadi Direktur Ford

Internasional

Kaisar Akihito Jalani Operasi Bedah Jantung

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif