• Home
  • 14 Juni 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Juni 1999

    Kisah dari Balik Jeruji

    BUDIMAN SUDJATMIKO: MENOLAK TUNDUK
    Penulis:F.X. Rudy Gunawan
    Penerbit:Grasindo, Jakarta, 1999

    Buku ini relatif lebih menarik daripada Pius Lustrilanang: Menolak Bungkam. Ditulis dengan lancar dan menggunakan kata-kata yang terpilih, buku ini lebih komprehensif dan lebih berhasil menampilkan sisi-sisi lain dari Budiman. Namun, ada beberapa dramatisasi yang sebenarnya tidak perlu ditonjolkan, misalnya kutipan dari ibu Budiman, Ny. Soelastri, "Budiman adalah anak yang tidak segan-segan menjadi kuli bangunan hanya untuk merasakan penderitaan para kuli." Kalaupun cerita itu benar, tentu kisah ini tidak relevan untuk menggambarkan Budiman sebagai sosok yang merakyat. Cerita tentang Budiman bukan cerita mengenai seorang tokoh yang dekat dengan rakyat. Bagaimanapun, seberapa dalam perjuangan Budiman, ia tetap bagian dari elite Indonesia. Budiman adalah wakil dari kisah-kisah tentang anak muda yang heroik, bersuara lantang dan fasih menggunakan jargon kerakyatan, yang akhirnya menjadi kambing hitam saat terjadi kerusuhan 27 Juli 1996. Cerita Budiman yang merakyat—kalau itu betul—tidak relevan dengan ketokohan Budiman dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang menjadi besar karena tudingan rezim Orde Baru yang kalap. Bagian lain yang mengganggu plot cerita adalah kurang fokusnya penulis saat ia bercerita tentang sejarah Budiman menjadi organisator rakyat (halaman 35). Rudy Gunawan ingin mengisahkan bagaimana Budiman telah menjadi aktivis politik sejak siswa SMA, kemudian ia membuat analogi dengan Ita—aktivis tim relawan yang tewas setelah kerusuhan Mei 1998—dan berpanjang-panjang dengan tragedi pembunuhan itu. Bagian ini keluar dari konteks. Kenapa Rudy tidak mengeksplorasi ide-ide politik Budiman pada masa remaja? Samakah itu dengan masa kini? Atau telah berubah? Apakah ia selalu konsisten? Itu tak dibicarakan. Namun, sebagai biografi ringan, kedua buku tentang aktivis muda ini layak dibaca sebagai alternatif dari buku-buku biografi yang lazimnya memilih tokoh berusia lanjut sebagai narasumber. Ahmad Taufik

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Sesudah Pius Bicara

Kisah dari Balik Jeruji

Catatan Pinggir

Ia

Inforial

Kolaborasi Omega dan James Bond

Televisi

Bertanya kepada Galileo

TEMPO|interaktif

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

Internasional

Polisi Myanmar Pukuli Demonstran Listrik Byar-Pet

Mencicipi Makanan Malaysia di Kedai Penang

Teknologi

Penjualan BlackBerry Turun, BBM Tetap Teratas

Layanan Telepon dari Pesawat Ditolak Penumpang

Gaya Hidup

Buku Murah di Pameran Bandar

Inforial

Menyelami Gaya Hidup Urban Legian

The 101 Legian

Inforial

Luncurkan BII KPR Bebas Bunga

Bank Internasional Indonesia (BII)

Inforial

Makin Dikenal melalui Superbrands

Sirup Kurnia
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif