• Home
  • 14 Juni 1999
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Televisi
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Utama
    • Laporan Utama
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 14 Juni 1999

    Goodbye Gulat, Kata Ghalib

    Gang sempit dan pengap itu cuma dibatasi dinding tripleks berwarna cokelat kusam. Itulah satu-satunya jalan menuju sekretariat Persatuan Gulat Amatir Seluruh Indonesia (PGSI). Ruangan berukuran 3 x 7 meter yang berada di bawah tangga pintu masuk tribun atas di sektor 2 Istora Senayan, Jakarta, itu memang tampak seperti bedeng buruh. Bau karpet hijau yang terhampar di ruangan dalam terasa menyengat penciuman. Tiga ekor tikus tampak berseliweran. Di dalam ruangan teronggok dua meja kayu dan kursi yang tampak lapuk. Sebuah dispenser dipajang di sudut ruangan tanpa galon berisi air minum. Keadaan itu sungguh kontras jika dibandingkan dengan kocek organisasi yang belakangan sukses menggaruk dana miliaran rupiah itu. Duit sebanyak itu?kini tertimbun bersama rekening pribadi Ketua Umum PGSI Andi M. Ghalib?seharusnya bisa dipakai untuk menyegarkan aroma ruangan sekretariat, sebelum bicara tetek-bengek pencapaian prestasi. Ketika TEMPO bertandang pekan lalu, tak ada aktivitas yang berarti di kantor itu. Seorang pegawai sedang asyik membaca surat kabar yang memuat ihwal dana rekening bermasalah yang menimpa bos di Kejaksaan Agung itu. Andi Ghalib dilantik sebagai Ketua Umum PGSI oleh Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia, Wismoyo Arismunandar, pada 13 April lalu. Ia lalu memboyong 12 orang bawahannya untuk mengurusi organisasi gulat amatir itu. Akibatnya, susah membedakan mana aparat negara, mana pula pengurus organisasi olahraga gulat amatir. Saking sibuknya dengan setumpuk kerja berat?termasuk meneliti kasus pidana korupsi mantan presiden Soeharto?pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, itu mengaku belum pernah berkunjung ke kantor Senayan. Semua rapat cukup dialihkan, disetujui dan diatur dari gedung di kawasan Blok M itu. ''Mungkin Pak Ghalib ingin bekerja dengan orang yang sudah dikenal baik, sehingga akan lebih mudah koordinasinya,'' ujar Kepala Humas PGSI, Soehandoyo. Ia juga juru bicara Kejaksaan Agung. Rapat pertama di bawah komando Ghalib berlangsung di kantor Kejaksaan Agung pada 22 Maret lalu. Fokus perhatian termasuk perkara sensitif: kantong duit organisasi. Setelah dicek, ternyata kosong-melompong. Itulah sebabnya lalu diputuskan bikin rekening baru. Agar gampangnya, rapat setuju membukanya lewat rekening si bos sendiri. "Floor rapat pengurus yang menyetujui usul Pak Ghalib untuk membuka rekening atas namanya," kata Soehandoyo. Bendahara PGSI, Tahir, lalu diberi tugas membuka rekening. Pemilik Bank Mayapada itu langsung menelepon Bank Lippo cabang Melawai, Jakarta, dan dibukalah rekening atas nama Andi M. Ghalib. "Memang rekening itu dengan nama pribadi saya, tapi uangnya bukan untuk pribadi. Alasannya, untuk mengeluarkan uang dari rekening itu, perlu ada yang teken. Kalau pakai nama gulat, nanti yang teken siapa? Itu disetujui rapat," ujar Ghalib membela diri. Sebagai bendahara, Tahir, yang dikenal dekat dengan orang-orang di Kejaksaan Agung, diberi kewenangan untuk mengumpulkan dana. Anehnya, Tahir mendatangi para pengusaha yang ndilalah punya masalah dengan Kejaksaan Agung. ''Siapa saja yang dihubungi Tahir, itu tanpa setahu saya. Jadi, nama-nama yang sekarang menyumbang itu, saya tidak tahu. Dana yang disumbang The Ning King dan Prajogo Pangestu itu bukan saya yang menyuruhnya,'' begitu bantahan Ghalib. The dan Prajogo adalah dua bos konglomerat yang sedang bermasalah dengan Kejaksaan Agung, sehubungan dengan kasus pelanggaran perbankan. Usaha itu tidak sia-sia. Dana terkumpul sekitar Rp 1,5 miliar, yang kemudian diakui Ghalib sebagai rekening giro milik PGSI. Namun, ternyata ada rekening lain yang juga atas namanya di bank yang sama, sebesar Rp 353 juta (tabungan), serta sejumlah deposito, berjumlah US$ 53 ribu dan Rp 5,4 miliar. Di bank itu pula tercatat dua bilyet deposito sang istri, Andi Murniati, sebesar Rp 1,2 miliar, plus tabungan Rp 161 juta. Ada juga giro yang hanya menjadi tempat dana untuk lewat, salah satunya ditransfer Rp 495 juta ke Hugeng Sugiono, pemilik Toko Emas Pulau Bali di Pasar Cikini, Jakarta Pusat. Kepala bidang pembinaan PGSI, Mayor Marinir (Purn.) Robby Nainggolan, mengakui sampai Juni tahun ini memang terkumpul dana Rp 1,5 miliar. Dari jumlah itu, Rp 100 juta dipakai untuk keperluan organisasi. Sisanya? ''Saya belum pernah mengecek rekening itu," ujarnya. Dalam pembukuan PGSI, tercatat pernah ditarik dana Rp 30 juta pada 28 April lalu. Ghalib sendiri sempat melakukan tarikan tunai maupun kliring dari rekening giro pribadi dan tabungan PGSI atas namanya itu. Ia, juga istrinya, sempat pula menggesek kartu kredit untuk nilai Rp 128 juta?dari rekening tabungan yang juga buat menampung sumbangan pengusaha. "Itu memang (urusan) pribadi,'' ujar Ghalib. Total jenderal, rekening Ghalib-Murniati besarnya mencapai Rp 9 miliar. Nainggolan tak tahu-menahu soal ini. Tapi, "Kalau Pak Ghalib memanfaatkan PGSI untuk kepentingan pribadinya, tentu saja itu salah,'' ujar pensiunan marinir itu. Dipermalukan dengan bantingan keras ala ICW bak pegulat betulan, Ghalib lalu menimbang-nimbang untuk berhenti dari PGSI. "Setelah masalah ini selesai, saya akan membuat pernyataan mengundurkan diri dari jabatan ketua umum,'' katanya kepada TEMPO. Tapi bukan berarti kasusnya praktis terhenti. Ahmad Taufik dan Setiyardi

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Buku

Sesudah Pius Bicara

Kisah dari Balik Jeruji

Catatan Pinggir

Ia

Inforial

Kolaborasi Omega dan James Bond

Televisi

Bertanya kepada Galileo

TEMPO|interaktif

Internasional

Gaya Trio ‘Lara Croft' di Parkiran

KFC Indonesia Klaim Peduli Lingkungan

Teknologi

Mengapa Bakteri Usus Penting bagi Bayi?

Internasional

Tragis, Ratusan Siswi Sekolah Diduga Diracun

Internasional

Perjalanan Bersejarah Suu Kyi Segera Dimulai

Internasional

Polisi Myanmar Pukuli Demonstran Listrik Byar-Pet

Mencicipi Makanan Malaysia di Kedai Penang

Teknologi

Penjualan BlackBerry Turun, BBM Tetap Teratas

Layanan Telepon dari Pesawat Ditolak Penumpang

Gaya Hidup

Buku Murah di Pameran Bandar

Inforial

Menyelami Gaya Hidup Urban Legian

The 101 Legian
iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif